Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kegiatan tambang di Bukit Asam. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Kegiatan tambang di Bukit Asam. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Bukit Asam Finalisasi JV dengan Antam

Farid Firdaus, Jumat, 15 November 2019 | 18:02 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menargetkan pembentukan perusahaan patungan (joint venture/JV) dengan PT Aneka Tambang Tbk atau Antam (ANTM) rampung sebelum tutup tahun ini. Selanjutnya, JV ini akan mencari pendanaan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) 2x45 megawatt (MW) untuk pabrik feronikel Antam di Halmahera Timur, Maluku Utara.

Direktur Keuangan Bukit Asam Mega Satria mengatakan, perseron bersama Antam masih melakukan finalisasi pembentukan JV. Aksi ini merupakan kelanjutan dari penandatanganan head of agreement (HoA) yang diteken baru-baru ini. Dalam perjanjian, ditetapkan kepemilikan saham perseroan sebanyak 75%, serta Antam 25% pada PLTU tersebut.

“Total investasinya US$ 185 juta. Pendanaannya tentu akan bertahap. Kalau kami tidak terlalu khawatir soal pendanaan karena proyeknya sangat visible, semoga bisa settle segera,” jelas Mega Satria di Jakarta, Kamis malam (14/11).

Proyek PLTU ini akan menjadi salah satu proyek prioritas perseroan tahun depan. Selain itu, perseroan juga melanjutkan proyek gasifikasi batubara berkalari rendah atau hilirisasi. Alhasil, belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan tahun depan berpeluang lebih tinggi dari realisasi tahun ini. “Bujet capex tahun depan masih dalam perencanaan. Belum di-approve. Kami bisa ambil dari kas internal untuk capex tahun depan,” jelas dia.

Per September 2019, perseroan baru menyerap capex sekitar Rp 1,1 triliun. Padahal, perseroan menganggarkan capex sepanjang tahun ini hingga Rp 6,5 triliun. Meskipun tidak begitu ekspansif, menurut Mega, perseroan tetap berupaya mengejar target produksi sepanjang tahun ini.

Sebagai informasi, Bukit Asam merencanakan produksi batubara sebesar 27,3 juta ton hingga akhir tahun ini atau naik 3% dari realisasi tahun sebelumnya sebesar 26,4 juta ton. Sementara, target angkutan batubara 2019 menjadi 25,3 juta ton atau meningkat 12% dari realisasi angkutan kereta tahun lalu sebesar 22,7 juta ton.

Sedangkan untuk volume penjualan batubara sepanjang tahun ini, Bukit Asam menargetkan untuk meningkatkannya menjadi 28,4 juta ton, yang terdiri atas penjualan batubara domestik sebesar 13,7 juta ton dan penjualan batubara ekspor sebesar 14,7 juta ton atau secara total sebesar 28,4 juta ton. Jumlah itu meningkat 15% dari realisasi penjualan batubara tahun lalu sebesar 24,7 juta ton. Peningkatan target penjualan ini ditopang oleh rencana penjualan ekspor untuk batubara medium to high calorie ke premium market sebesar 3,8 juta ton.

Bukit Asam tercatat mengalami kenaikan penjualan batubara hingga September 2019 menjadi 20,6 juta ton atau naik 10,7% dari periode sama di tahun sebelumnya. Kenaikan penjualan ini ditopang oleh kenaikan produksi batubara menjadi 21,6 juta ton atau naik 9,6% dari periode yang sama di tahun sebelumnya, serta kapasitas angkutan batu bara yang mengalami kenaikan menjadi 17,8 juta ton atau naik 4,7% dari periode Januari hingga September 2018.

Adapun kenaikan penjualan batubara ini tak lepas dari strategi penjualan yang diterapkan oleh perseroan dengan menyasar ekspor batubara ke beberapa negara seperti India, Hong Kong, Filipina dan sejumlah negara Asia lain. Perseroan juga menyasar pasar ekspor baru seperti ke Jepang dan Korea Selatan.

Tak hanya mendorong penjualan ekspor ke negara-negara Asia, Perseroan juga menerapkan penjualan ekspor batubara medium to high calorie ke premium market.

Per September 2019, perseroan mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 16,3 triliun, atau turun tipis 1,36% dibanding kuartal III-2018. Penurunan dipicu oleh melemahnya harga batubara dunia. Meskipun di tengah kondisi penurunan harga, perseroan masih membukukan laba bersih sebesar Rp 3,1 triliun dengan EBITDA sebesar Rp 5 triliun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA