Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pabrik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk di Cilegon, Banten. ( Foto: M Defrizal/GLOBE ASIA )

Pabrik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk di Cilegon, Banten. ( Foto: M Defrizal/GLOBE ASIA )

Chandra Asri 'Buyback' Surat Utang Global

Rabu, 5 Mei 2021 | 06:10 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) berencana membeli kembali (buyback) surat utang global (global notes) senilai US$ 300 juta. Pembelian kembali dilakukan untuk meningkatkan likuiditas perseroan.

Adapun dalam rangka buyback tersebut, perseroan melakukan tender offer yang dimulai sejak 3 Mei hingga 14 Mei 2021 sebagai tenggat batas awal dan 28 Mei sebagai tenggat batas terakhir. Target dari nilai pokok tender offer ini maksimal US$ 75 juta.

“Perusahaan melakukan tender offer ini untuk mengoptimalkan dan mengelola kas internalnya, profil utang, dan struktur modal," jelas manajemen dalam keterangan tertulis kepada Bursa Efek Singapura (SGX).

Chandra Asri berencana membayar bunga pinjaman dan surat utangnya dengan kas internal. Global notes yang akan dibeli kembali itu diterbitkan pada 2017 dan akan jatuh tempo pada 2024. Nilai pokok dari surat utang ini sebesar US$ 300 juta. Nilai outstanding-nya sebesar US$ 267,8 juta. Tingkat bunga dari surat utang tersebut sebesar 4,95%.

Hingga kuartal I-2021, Chandra Asri memiliki likuiditas sebesar US$ 1,1 miliar, serta posisi kas dan setara kas mencapai US$ 767 juta. “Kami juga memiliki leverage yang lebih rendah dengan net debt to EBITDA sebesar 0,2 kali. Kami juga bisa mengurangi total utang menjadi US$ 825 juta pada kuartal I-2021 dari posisi US$ 885 juta pada kuartal I-2020," kata Direktur Chandra Asri Suryandi dalam keterangan resmi, belum lama ini.

Adapun perseroan membukukan pendapatan bersih sebesar US$ 598 juta pada kuartal I-2021, naik 25% dibandingkan kuartal I-2020 yang sebesar US$ 477 juta. Pendapatan bersih yang diraih anak usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT) ini secara otomatis menjadikan laba bersih perseroan mencapai US$ 85 juta pada kuartal I-2021, jauh lebih baik dibandingkan kuartal I-2020 yang mencatat rugi bersih US$ 17 juta.

Hingga kuartal I-2021, EBITDA Chandra Asri meningkat signifikan menjadi US$ 147 juta dibandingkan periode sama tahun lalu yang minus US$ 14 juta. “Hasil kuartal I-2021 sangat menggembirakan. Kondisi ini mencerminkan penyebaran produk yang sehat, pelaksanaan strategi yang solid, dan ketahanan keuangan yang berkelanjutan,” jelas Suryandi.

Menurut dia, pencapaian kinerja yang luar biasa ini sejalan dengan permintaan produk petrokimia di Indonesia dan regional Asia yang terus meningkat terutama sejak semester kedua tahun 2020. Ditambah, dengan program vaksinasi yang terus berjalan menjadi salah satu kunci agar Indonesia bisa mempercepat pemulihan ekonomi.

Perseroan juga akan fokus pada bisnis berkelanjutan dan operasional yang baik. Dengan begitu, perseroan bisa mempertahankan kinerja operasional yang baik dengan pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat, sehingga kesehatan dan keselamatan karyawan tetap terjamin.

Tahun ini, perseroan menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) minimal sebesar US$ 65 juta. Perseroan mengalokasikannya untuk operasional pabrik-pabrik yang sudah ada, serta persiapan menuju proyek CAP II. Belanja modal tersebut bisa bertambah tergantung pada kondisi ekonomi global dan domestik.

Tahun lalu, perseroan memang mengerem belanja modal lantaran pandemi. Adapun tahun ini, meskipun vaksinasi telah berjalan dan diharapkan berkontribusi terhadap pemulihan ekonomi, pihaknya belum bisa agresif untuk ekspansi baru. “Seluruh proyek yang berjalan sudah kita selesaikan tahun lalu. Jadi, kami berkonsentrasi persiapan CAP II pada tahun ini,” tutur Suryandi.

Adapun pada 2020, perseroan merealisasikan belanja modal US$ 113,9 juta atau lebih rendah 70,4% dibandingkan realisasi belanja modal 2019 yang sebesar US$ 385,2 juta. Saat ini, proses pemilihan investor strategis untuk CAP II masih berjalan.

Pihaknya mengakui, target penetapan investor strategis menjadi mundur lantaran pandemi. Perseroan menargetkan final investment decision (FID) CAP II pada pertengahan 2022 atau bergeser dari rencana semula pada 2021.

Perseroan juga masih mempertimbangkan aksi korporasi seperti penerbitan saham baru melalui skema rights issue untuk menopang dana ekspansi. Seperti diketahui, saat ini CAP II yang berlokasi di Cilegon, Banten, dalam tahap pra-FID. Secara desain, pabrik tersebut akan 15% lebih besar dari CAP I. Proyek ini ditaksir bakal menelan investasi hingga US$ 5 miliar.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN