Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Jajaran direksi PT Dewata Freight International Tbk (DEAL).

Jajaran direksi PT Dewata Freight International Tbk (DEAL).

Dewata Freight Optimistis Kinerja Tahun Depan Melonjak

Thereis Love Kalla, Minggu, 1 Desember 2019 | 21:10 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Dewata Freight International Tbk (DEAL) memproyeksikan pertumbuhan pendapatan perseroan pada 2020 sebesar 80-100% dibandingkan tahun ini.

Direktur Keuangan Dewata Freight International Nurhasanah menjelaskan, pertumbuhan tersebut didasari oleh pendapatan yang akan masuk dari lima proyek baru yang telah diterima perseroan tahun ini. "Ada lima Memorandum of Understanding (MoU) yang telah kami terima,” kata dia dalam paparan publik insidentil di Jakarta, baru-baru ini.

Nurhasanah menegaskan, lima proyek tersebut terdiri atas pembangunan teknologi informasi logistik dan Internet of Things (IoT) untuk mendukung ekosistem logistik di Indonesia, pengembangan pusat logistik berikat di Jawa Barat, kemudian pengembangan angkutan barang di wilayah Srengsem Provinsi Sumatera Selatan.

Selain itu, proyek pembangunan Pembangkit Listrik Mesin Gas 10 MW di LNG Plant di Sidoarjo, Jawa Timur, serta pengangkutan hasil tambang di Loa Kulu Samarinda, Kalimantan Timur dan pengakutan Fast Moving Customer Goods untuk wilayah Jabodetabek.

Kendati demikian, Nurhasanah belum bisa menyebutkan jumlah nilai investasi dari proyek-proyek baru tersebut. "Untuk nilai proyek baru akan kami sampaikan melalui website resmi setelah kami menerima kontrak tersebut. Karena sesuai aturan OJK dan BEI, pada saat penandatanganan kontrak baru akan kami akan laporkan di keterbukaan informasi terlebih dahulu," jelasnya.

Dia menambahkan, hingga akhir tahun ini, perseroan memproyeksikan akan meraih pendapatan sebesar Rp 190 miliar dengan perolehan laba sebesar Rp 5 miliar. Hingga kuartal III-2019, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 129,55 miliar, turun 24,91% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 172,53 miliar. Penurunan pendapatan perseroan akibat beberapa proyek perseroan yang ditunda pengerjaannya hingga tahun depan.

Meski demikian, perseroan mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih periode berjalan sebesar 23,07% menjadi Rp 1,92 miliar hingga kuartal III-2019 dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 1,56 miliar.

Sementara itu, anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan untuk tahun ini baru terserap 35% dari total capex sebesar Rp 100 miliar. "Terserap baru Rp 35 miliar, Rp 100 miliar untuk alokasi FMCG (Fast Moving Consumer Good) dan proyek jasa angkut produk tambang. Saat ini baru terserap di lini tambangnya saja," jelasnya.

Lebih lanjut Nurhasanah menjelaskan, untuk tahun depan, perseroan menganggarkan capex sebesar Rp 200 miliar, yang akan dialokasikan untuk investasi anak usaha. "Sumber pendanaannya dari kas internal dan pinjaman bank, dengan komposisi 70% loan dan 30% kas internal," kata dia.

Terkait penurunan harga saham perseroan yang signifikan, Direktur Utama Dewata Freight International Bimada menegaskan bahwa kondisi tersebut di luar kendali perseroan. "Memang selama dua minggu ini harga saham kami turun, tapi semua adalah mekanisme pasar," jelas Bimada.

Sedangkan Nurhasanah menambahkan, kondisi fundamental perseroan tidak mencerminkan harga saham perseroan saat ini. "Saat ini, kami melakukan hubungan relasi kepada investor-investor untuk memberikan informasi terkait kondisi fundamental kami, bahwa harga saham tersebut tidak mencerminkan fundamental kami," tegas dia.

Di sisi lain, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. "Kami ada rencana rights issue pada 2020. RUPSLB sudah kami laksanakan pada 14 Juni 2019," ujar Nurhasanah.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA