Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: Photo/Mohammad Defrizal

Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: Photo/Mohammad Defrizal

Erick Thohir Minta Kapitalisasi Saham Telkom Tembus Rp 450 Triliun

Kamis, 19 November 2020 | 22:17 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Menteri BUMN Erick Thohir meminta direksi dan komisaris PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom mampu mengembalikan nilai kapitalisasi pasar saham perseroan menjadi Rp 450 triliun. Hingga 19 November 2020, kapitalisasi saham Telkom mencapai Rp 314 triliun.

Erick mengapresiasi transformasi bisnis Telkom saat ini dari sejak IPO pada masa kepemimpinan Setyanto P. Santosa, atau periode 1992-1996. Setyanto berhasil mengantar Telkom mencatatkan sahamnya di dua bursa (dual listing), yakni Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Bursa Efek New York (NYSE) pada 1995.

“Sekarang saya challenge lagi Telkom. Kalau dulu kapitalisasi pasarnya bisa Rp 450 triliun, saya mau di bawah kepengurusan direksi sekarang, valuasi TLKM harus kembali ke level itu,” kata Erick saat perayaan 25th IPO Anniversary Telkom, Kamis (19/11).

Sebagai informasi, kapitalisasi pasar saham Telkom saat pertama kali menjadi perusahaan tercatat di BEI berkisar Rp 19-20 triliun. Sedangkan laporan tahunan Telkom untuk tahun 2018 mencatat, kapitalisasi pasar perseroan di kisaran Rp 450 triliun sepanjang 2017. Rinciannya, sebesar Rp 416,3 triliun pada kuartal I, lalu menyentuh Rp 455 triliun pada kuartal II, naik lagi menjadi Rp 471,74 triliun pada kuartal III, dan Rp 447,55 triliun pada kuartal IV.

Menurut Erick, kapitalisasi pasar yang bisa naik mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perusahaan, terutama BUMN secara jangka panjang. Telkom juga diharapkan tidak berpuas diri dengan pencapaian yang telah diraih saat ini.

Erick mengaku sempat menyampaikan kritik keras kepada Telkom pada awal tahun ini. Ketika itu, dia secara tegas menyatakan Telkom belum maksimal mengembangkan bisnis digital dan hanya menggantungkan pendapatan dari kontribusi Telkomsel.

“Saya ingin memacu Telkom, karena selama pandemi ini model bisnis berubah, suka tidak suka, saya melihat Telkom ini adalah perusahaan terbesar yang dimiliki BUMN secara infrastruktur telekomunikasi. Mohon maaf, saya bicara keras karena saya sayang,” jelas dia.

Erick menambahkan, transformasi BUMN diapresiasi oleh pelaku pasar yang tercermin dari penguatan saham-saham BUMN pada IDX BUMN 20. Tercatat, indeks tersebut bergerak bullish hingga 19,37% selama enam bulan terakhir. Alhasil, laju tersebut lebih tinggi dibandingkan indeks LQ45 yang menguat 10,7% pada periode yang sama.

Sementara itu, Komisaris Utama Telkom Rhenald Kasali mengatakan, sejak Telkom go public pada 1995, perusahaan mampu melewati masa-masa sulit termasuk krisis 1998. Kini, Telkom menorehkan sejarah sebagai perusahaan satu-satunya yang sahamnya tercatat di dua bursa. Hal ini merupakan upaya untuk meningkatkan tata kelola atau good corporate governance yang baik.

“Semoga Telkom Group dapat terus berkontribusi, memberikan layanan terbaik bagi masyarakat melalui infrastruktur digital, memberdayakan ekonomi, dan tanggung jawab kepada stakeholders,” ujar dia.

Modal Ventura

Sementara itu, Telkom melalui MDI Ventures berencana membawa minimal empat portofolio investasi perusahaan rintisan (start-up) untuk melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dalam periode dua tahun ke depan. Adapun satu start-up ditargetkan IPO pada kuartal I-2021.

Managing Partner MDI Ventures Singapore Kenneth Li mengatakan, pihaknya telah berdiskusi dengan sejumlah penjamin emisi (underwiter) terkait rencana IPO salah satu portofolio start-up tahun depan. Pihaknya belum dapat menyebutkan nama start-up tersebut, namun dipastikan perusahaan itu bergerak dalam bisnis software as a service (SaaS).

“Kemungkinan start-up ini akan IPO sekitar akhir Februari atau Maret 2021. Kami targetkan saham mereka masuk ke papan utama, karena valuasinya bisa di atas Rp 750 miliar,” kata dia kepada Investor Daily.

Kenneth menegaskan, saham start-up tersebut yang akan dilepas ke publik sekitar 20-25%. Sementara, dana IPO yang ditargetkan minimal Rp 100-150 miliar. Start-up ini tergolong menjanjikan karena sudah profitable selama lebih dari tiga tahun.

Dia menambahkan, IPO start-up memang menjadi salah satu strategi exit perseroan. Strategi ini disiapkan secara matang. “Kami sudah punya empat start-up yang sedang persiapan IPO dalam dua tahun ke depan. Persiapan ini sudah lama dikerjakan sejak awal 2020. Sekarang persiapan empat perusahaan dulu, nanti kemungkinan bisa bertambah,” jelasnya.

Seperti diketahui, MDI Ventures merupakan unit bisnis Telkom yang agresif mengucurkan pendanaan ke start-up potensial. Selain MDI Ventures, anak usaha Telkom lainnya, yakni PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) juga aktif berinvestasi pada start-up potensial.

Pada 16 November, Telkomsel resmi menandatangani perjanjian investasi senilai US$ 150 juta dengan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau Gojek. Dalam kolaborasi ini, Gojek dan Telkomsel akan saling memperkuat layanan digital, mendorong inovasi dan produk baru, serta meningkatkan kenyamanan bagi para pengguna dan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Kerja sama ini merupakan perluasan kolaborasi Gojek dan Telkomsel yang menawarkan paket data terjangkau kepada mitra pengemudi Gojek sejak 2018. Kedua perusahaan juga siap berkolaborasi di bidang gaya hidup digital serta mengembangkan solusi teknologi periklanan digital untuk para pelaku usaha. Tak ketinggalan, Gojek dan Telkomsel turut bekerjasama dalam bidang pemberdayaan talenta melalui pertukaran pengalaman dan program pembinaan keahlian profesional.

Direktur Utama Telkomsel Setyanto Hantoro mengatakan, kerja sama antara Telkomsel dan Gojek berawal dari visi yang sama, yaitu mempertegas posisi pemain lokal sebagai tuan rumah di negeri sendiri. “Kami percaya, kerjasama dengan Gojek dan ekosistemnya yang luas akan mengakselerasi transformasi Telkomsel sebagai digital telco company dan memperkuat konsistensi perusahaan membangun ekosistem digital yang inklusif dan berkelanjutan, walaupun kita masih menghadapi situasi penuh tantangan di tengah pandemi,” jelas dia dalam keterangan resmi.

Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah menambahkan, sebagai induk Telkomsel, pihaknya mendukung kolaborasi lintas sektor antara Gojek dan Telkomsel. Telkom optimistis kolaborasi dengan Gojek ini akan memberikan potensi nilai tambah yang besar jika dilakukan dengan Telkomsel, terutama meningkatkan keunggulan kompetitif Telkomsel dalam mengembangkan bisnis layanan digital. “Kami harap sinergi ini berdampak positif serta memperkuat portofolio bisnis Telkom Group dalam mengakselerasi perekonomian digital di Indonesia,” tutur dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN