Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pabrik PT Chandra Asri Petrochemical di Cilegon, Banten. ( Foto: M Defrizal/GLOBE ASIA )

Pabrik PT Chandra Asri Petrochemical di Cilegon, Banten. ( Foto: M Defrizal/GLOBE ASIA )

Grup Barito Seleksi Mitra Strategis Pabrik Chandra Asri

Farid Firdaus, Senin, 2 Desember 2019 | 16:01 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melalui anak usahanya, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), menargetkan mampu menjalin kesepakatan dengan mitra strategis untuk ekspansi pabrik petrokimia CAP 2 pada kuartal I-2020. 

Direktur Independen Barito Pacific David Kosasih menjelaskan, saat ini perseroan masih dalam tahap seleksi investor strategis CAP 2. Selama ini, nama yang sudah muncul di media adalah Mubadala Investment Co. dan OMV Aktiengesellschaft. Namun, pihaknya masih membuka peluang kepada investor lain yang ingin berpartisipasi dalam proyek ini. 

“Kita masih due diligence, strukturnya belum dapat disampaikan. Kita bicara dengan banyak pihak, bukan hanya satu perusahaan saja,” jelas dia di Jakarta, baru-baru ini. 

Dalam jadwal master proyek CAP 2, pabrik ini direncanakan memiliki kapasitas sebanyak 125% dari kapasitas CAP 1. Nantinya setelah proses seleksi investor strategis rampung, perseroan akan melanjutkan ke tahap rencana pembiayaan beserta engineering, procurement and construction (EPC) bidding pada kuartal II-2020. 

Selanjutnya, pada tahap terakhir, perseroan akan masuk ke proses persetujuan final investment decision (FID), termasuk financial close pada kuartal IV-2020 dan kemudian masuk ke proses pekerjaan EPC. Secara keseluruhan, pabrik CAP 2 ditargetkan mulai beroperasi pada semester I-2024. 

Sementara itu, Chandra Asri menargetkan dua pabrik perseroan, yakni pabrik PE 400KT dan PP 110KT bisa beroperasi secara penuh pada Desember ini. “Kedua pabrik tersebut sebenarnya sudah mulai beroperasi per Oktober 2019, tapi belum running 100%. Kami harus meyakinkan terlebih dahulu jika pabrik itu bisa beproduksi secara stabil,” kata David. 

Tahun depan, Chandra Asri juga melanjutkan proses pembangunan pabrik Metil Tert-Butil Ether atau MTBE dan pabrik Butene-1. Perseroan berharap penjualan marjin dari produk polyethylene akan lebih bagus pada 2020. Kendati demikian, perseroan juga mewaspadai fakto-faktor eksternal seperti sentimen dari market. 

PLTU 9 dan 10

Konsorsium Barito Pacific dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menjajaki pinjaman hingga US$ 2,6 miliar untuk kebutuhan ekspansi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 9 dan 10 berkapasitas 2x1.000 megawatt (MW) di Suralaya, Banten. Nilai itu setara 75% dari total investasi yang sekitar US$ 3,3-US$ 3,5 miliar.

David mengatakan, dalam rancangan pendanaan, PLTU ini akan melibatkan project financing yang lumayan besar. Sehingga banyak bank asing dan dalam negeri yang bakal terlibat. Namun, pihaknya belum dapat merinci siapa para kreditur potensial tersebut.

“Porsi utang dari proyek PLTU sebesar 75%, dan porsi equity 25%. Dari bagian ekuitas itu, porsi Barito sebanyak 49%, sedangkan PLN sebesar 51%,” jelas dia.

David menambahkan, untuk porsi internal, pihaknya sudah mengamankan pendanaan. Sementara daru sisi teknis, PLTU ini dibantu oleh Doosan Heavy Industries sebagai penyedia equipment, sementara Siemens turut berkontribusi sebagai penyedia turbin.

Sebagai informasi, konsorsium Barito dan PLN dalam proyek PLTU Jawa 9 dan 10 terwujud melalui perusahaan patungan (joint venture/JV) bernama PT Indo Raya Tenaga. Dalam JV ini, PLN diwakili oleh anak usahanya, PT Indonesia Power.

Baru-baru ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam keterangan resminya, menyatakan lembaga keuangan publik asal Korea Selatan, Korean Exim, akan berpartisipasi dalam proses financial closing. Proses tersebut ditargetkan terealisasi pada awal Januari 2020.

PLTU Suralaya 9 dan 10 ini diperkirakan bakal membutuhkan sekitar 7 juta ton batubara per tahun. PLTU ditargetkan beroperasi pada periode 2023-2024.

David belum dapat mengungkapkan total belanja modal (capital expenditure/capex) Barito Pacific untuk tahun 2020. Pasalnya, masing-masing anak usaha perseroan, baik Chandra Asri ataupun Star Energy Group Holdings Pte masih menghitung kebutuhan ekspansi mereka. Untuk berbagai pembiayaan ekspansi, perseroan berupaya untuk menjaga rasio-rasio keuangan dibatas aman. 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA