Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
XL Axiata. Foto: IST

XL Axiata. Foto: IST

TELKOM MASIH REVIEW

Grup Djarum Siap Beli Menara Telekomunikasi XL

Farid Firdaus, Kamis, 14 November 2019 | 19:53 WIB

JAKARTA, investor.id – Grup Djarum melalui PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) berminat mengikuti lelang 3.300 menara telekomunikasi PT XL Axiata Tbk (EXCL). Sementara itu, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk atau Telkom (TLKM) melalui PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) masih melakukan review terkait menara XL tersebut.

Wakil Direktur Utama Sarana Menara Nusantara Adam Ghifari mengatakan, jika memang XL menjalankan proses penjualan menara melalui proses tender, perseroan berminat ikut serta. Namun, dia tidak menyebutkan, apakah perseroan mengincar seluruh menara yang dilelang atau hanya sebagian. “Sesuai dengan strategi perusahaan, maka kami akan berpartisipasi,” kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (14/11).

Adam menambahkan, perseroan memiliki cukup ruang pendanaan untuk mendapatkan pinjaman yang efisien sebagai modal ekspansi. Rating investment grade BBB dari Standard & Poor’s (S&P) yang disematkan kepada perseroan dinilai cukup baik menunjang akses pendanaan melalui perbankan ataupun pasar modal.

Baru-baru ini, Sarana Menara melalui PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) mendapat tambahan fasilitas pinjaman dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi Rp 2 triliun. Protelindo sebelumnya mendapat fasilitas pinjaman dari BCA sebesar Rp 500 miliar pada Desember 2016.

Sekretaris Perusahaan Sarana Menara Nusantara Irfan Ghazali mengatakan, pinjaman ini memiliki jangka waktu 48 bulan sejak penarikan pertama. “Pinjaman ini akan digunakan untuk keperluan umum perusahaan, namun tidak terbatas pada akuisisi yang diperbolehkan, pengeluaran kegiatan operasional dan talangan arus kas Protelindo,” ujar Irfan.

Sebagai informasi, pinjaman ini sudah mengalami perubahan empat kali sejak perjanjian pertama pada 21 Desember 2016. Perubahan pertama pada 6 September 2017. Kemudian, diubah lagi pada 19 September 2018 dan 21 Mei 2019. Pada September 2017, perseroan menaikkan nilai pinjaman menjadi Rp 750 miliar dibandingkan dengan perjanjian kredit perseroan pada 21 Desember 2016 yang hanya sebesar Rp 500 miliar.

Di lain pihak, Vice President Corporate Communication Telkom Arif Prabowo mengatakan, pihaknya belum dapat membeberkan informasi lebih lanjut karena masih melakukan review terkait lelang menara XL.

Saat ini, Mitratel dan Protelindo diketahui sama-sama sedang menunggu penyelesaian akuisisi menara PT Indosat Tbk (ISAT). Keduanya diumumkan sebagai pemenang atas lelang dan melakukan perjanjian jual-beli 3.100 menara Indosat bernilai Rp 6,39 triliun pada 14 Oktober 2019.

Rinciannya, Mitratel membeli 2.100 menara dengan nilai Rp 4,44 triliun, sedangkan Protelindo mengakuisisi 1.000 menara dengan nilai Rp 1,95 triliun. Penutupan transaksi ini harus melewati restu pemegang saham Indosat dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan digelar pada 21 November 2019.

Indosat menginisiasi rencana investasi yang signifikan selama 2018-2019 untuk mendukung pertumbuhan pasar dan tujuan transformasi. Untuk mempercepat rencana investasi tersebut, perseroan mengevaluasi kontribusi yang dapat dicapai dari penjualan tower untuk memenuhi persyaratan ini. Transaksi ditargetkan selesai sebelum akhir 2019.

Atas hasil evaluasi, Indosat mengadopsi model sales & leaseback untuk 3.100 tower dengan tujuan memanfaatkan nilai tower, menghasilkan uang tunai secara organik dan meningkatkan kemampuan peminjaman dengan mengendurkan persyaratan keuangan.

Lelang XL

Sementara itu, XL resmi membuka lelang menara telekomunikasi pada 5 November 2019. Direktur Keuangan XL Axiata Mohamed Adlan mengatakan, jumlah menara telekomunikasi yang akan dilepas sekitar 3.200-3.300 unit.

“Penjualan aset ini ditargetkan rampung pada kuartal I-2020. Hasil penjualan menara sebagian besar akan digunakan untuk modal kerja tahun depan,” jelas Adlan, baru-baru ini.

Rencana transaksi ini diperkirakan berpotensi sebagai transaksi material. Hal ini berarti nilai transaksinya lebih dari 20% ekuitas perseroan. Tercatat, total ekuitas perseroan mencapai Rp 18,89 triliun per 30 September 2019. Dengan demikian, nilai penjualan menara ini berpotensi mencapai lebih dari Rp 3,8 triliun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA