Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu pabrik milik PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Foto: Perseroan.

Salah satu pabrik milik PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Foto: Perseroan.

Konsorsium Barito dan PLN Jajaki Pinjaman US$ 2,6 Miliar

Farid Firdaus, Minggu, 1 Desember 2019 | 01:32 WIB

JAKARTA, investor.id – Konsorsium PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menjajaki pinjaman hingga US$ 2,6 miliar untuk membiayai ekspansi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 9 dan 10 berkapasitas 2x1.000 megawatt (MW) di Suralaya, Banten. Target pinjaman tersebut setara dengan 75% dari total investasi yang dibutuhkan US$ 3,3-3,5 miliar.

Direktur Independen Barito Pacific David Kosasih mengatakan, dalam rancangan pendanaan, PLTU ini akan melibatkan project financing yang lumayan besar. Sehingga banyak bank asing dan dalam negeri yang bakal terlibat. Namun, pihaknya belum dapat merinci siapa para kreditur potensial tersebut.

“Porsi utang dari proyek PLTU sebesar 75%, dan porsi equity 25%. Dari bagian ekuitas itu, porsi Barito sebanyak 49%, sedangkan PLN sebesar 51%,” jelas dia di Jakarta, Jumat (29/11).

David menambahkan, untuk porsi internal, perseroan sudah mengamankan pendanaan. Sementara, dari sisi teknis, PLTU ini dibantu oleh Doosan Heavy Industries sebagai penyedia equipment, sementara Siemens turut berkontribusi sebagai penyedia turbin.

Sebagai informasi, konsorsium Barito dan PLN dalam proyek PLTU Jawa 9 dan 10 terwujud melalui perusahaan patungan (joint venture/JV) bernama PT Indo Raya Tenaga. Dalam JV ini, PLN diwakili oleh anak usahanya, PT Indonesia Power.

Baru-baru ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam keterangan resminya, menyatakan lembaga keuangan public asal Korea Selatan, Korean Exim, akan berpartisipasi dalam proses financial closing. Proses tersebut ditargetkan terealisasi pada awal Januari 2020.

PLTU Suralaya 9 dan 10 ini diperkirakan membutuhkan sekitar 7 juta ton batubara per tahun. PLTU ditargetkan beroperasi pada periode 2023-2024. Selain proyek PLTU, Barito secara grup juga akan fokus pada proyek pada anak-anak usaha. Menurut David, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) terus melanjutkan proses pembangunan pabrik Metil Tert-Butil Ether atau MTBE dan pabrik Butene-1 tahun depan.

Terkait belanja modal (capital expenditure/ capex) Barito Pacific tahun 2020, dia mengatakan, masih menunggu hasil perhitungan kebutuhan dana ekspansi Chandra Asri ataupun Star Energy Group Holdings Pte. Untuk berbagai pembiayaan ekspansi, perseroan berupaya untuk menjaga rasio-rasio keuangan dibatas aman.

Saat ini, Barito Pacific tengah melangsungkan penawaran awal (bookbuilding) atas obligasi berkelanjutan tahap I senilai Rp 750 miliar. Surat utang tersebut bagian dari Obligasi Berkelanjutan I yang memiliki total plafon hingga Rp 1,5 triliun.

Sesuai rencana, obligasi ditawarkan dalam 2 seri, yakni obligasi seri A berjangka waktu 3 tahun dengan indikasi tingkat kupon 9%-9,75% per tahun dan seri B berjangka waktu 5 tahun dengan indikasi tingkat kupon 9,25%-10% yang dibayarkan setiap triwulan. Obligasi ini telah memperoleh peringkat A dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Dalam prospektus disebutkan, dana dari hasil obligasi akan digunakan untuk membayar sebagian utang dari pinjaman sebesar US$ 200 juta. Pinjaman tersebut terdiri atas facility agreement US$ 175 juta dengan opsi greenshoe US$ 25 juta. Perjanjian pinjaman itu ditandatangani pada 15 November 2018 dan telah diamandemen pada 26 Juli 2019.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA