Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. Foto: Perseroan.

PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. Foto: Perseroan.

Kuartal I, ANJ Serap 'Capex' untuk Peremajaan Sawit

Kamis, 10 Juni 2021 | 05:45 WIB
Nabil Al Faruq

JAKARTA, investor.id – PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) atau ANJ telah menyerap belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 8,6 juta hingga kuartal I-2021 dari total anggaran tahun ini Rp US$ 42,8 juta atau Rp 610 miliar.

Manajemen Austindo Jaya mengungkapkan, belanja modal yang sudah diserap telah digunakan untuk biaya peremajaan kembali serta biaya pemeliharaan untuk membawa tanaman yang belum menghasilkan atau inmature, menjadi tanaman menghasilkan atau mature.

“Kami sejak 2014 mulai program peremajaan kembali, dan setelahnya, setiap tahun melaksanakan program peremajaan kembali tersebut. Dengan demikian, cukup besar komponen biaya yang kami keluarkan terutama pada kuartal I-2021,” ujar manajemen dalam paparan publik, Rabu (9/6).

Di samping biaya peremajaan kembali tanaman sawit, belanja modal yang cukup signifikan pada kuartal I-2021 adalah untuk penyelesaian lini ke 2 pabrik kelapa sawit (PKS) yang ada di Kalimantan Barat. Selain itu, untuk penyelesaian fasilitas pembekuan edamame di Jember, Jawa Timur.

Apabila dibandingkan dengan kuartal I-2020, serapan capex pada kuartal I tahun ini menurun. Pada periode sama tahun sebelumnya, capex diserap sebanyak US$ 10,49 juta, yang digunakan untuk pembangunan lini k-2 PKS di Kalimantan Barat pada kuartal IV-2019. “Aktivitas perseroan pada kuartal I-2020 cukup tinggi maka memerlukan biaya besar,” jelas manajemen.

Di samping itu, pada kuartal I-2020 perseroan juga dalam proses penyelesaian untuk PKS yang berlokasi di Papua Barat dan juga beberapa fasilitas lainnya. “Kemudian pada periode itu ada juga beberapa infrastruktur, salah satunya konstruksi jembatan yang ada di Papua Barat,” ungkap manajemen.

Untuk diketahui, kontribusi terbesar dalam pengunaan capex perseroan adalah peremajaan kembali sebanyak 39%, infrastruktur sebanyak 16% dan biaya pembangunan rumah karyawan serta fasilitas lainnya sebesar 15%.

“Sedangkan 7% dikontribusi oleh penyelesaian PKS yang ada di Kalimantan Barat dan fasilitas pembekuan edamame,” papar manajemen Austindo.

Perluas Ekspor

Di sisi lain, Austindo Nusantara Jaya melalui anak usahanya yakni PT Gading Mas Indonesia (GMIT), memperluas pasarnya ke Jepang untuk produk edamame beku. Ekspansi bisnis ini dilakukan bekerja sama dengan Asia Foods Group.

Perseroan bekerja sama dengan Asia Foods Group telah memulai ekspor edamame beku, ditandai dengan pengiriman sebesar 21 ton ke pasar Jepang pada akhir April lalu.

Asia Foods Group merupakan perusahaan yang berpengalaman di bidang pengolahan dan penjualan edamame beku. Perusahaan ini merupakan salah satu pelaku utama di pasar ekspor edamame seperti Jepang, Amerika Serikat (AS), Australia dan saat ini sedang menjajaki pasar Eropa.

COO Asia Foods Group Lin Chu Hong (Koji) mengatakan, Indonesia memiliki iklim tropis yang cocok untuk budidaya edamame. “Saya yakin melalui pengalaman serta jaringan klien di beberapa negara, kami mampu membawa GMIT ke tingkat yang lebih tinggi dalam model bisnis pertanian yang berkelanjutan, serta mendorong kami untuk memimpin industri ini di masa depan,” ujar dia.

Presiden Direktur Gading Mas Indonesia Erwan Santoso mengatakan, Jepang merupakan negara tujuan ekspor yang sangat memperhatikan food safety sehingga traceability untuk setiap pangan yang diedarkan menjadi persyaratan yang dipenuhi. Dalam hal ini, Edamame yang diekspor pun harus memiliki kualitas yang baik.

Menurut Erwan, terdapat berbagai tingkatan kualitas edamame. Adapun edamame yang tidak memenuhi kualitas ekspor akan diolah menjadi produk olahan edamame.

“Apabila ekspor edamame ini berjalan dengan baik, diharapkan target ekspor akan meningkat setiap tahunnya. Karena itu kami berupaya untuk menghasilkan benih yang baik serta mengajak lebih banyak petani lokal untuk bermitra dengan GMIT,” ujar dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN