Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu tol Grup Waskita. Foto: PT Waskita Karya Tbk (WSKT)

Salah satu tol Grup Waskita. Foto: PT Waskita Karya Tbk (WSKT)

Lagi, Waskita Divestasi Ruas Tol Rp 2,49 Triliun

Kamis, 22 Juli 2021 | 05:50 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Waskita Karya Tbk (WSKT) melalui anak usahanya, PT Waskita Toll Road (WTR), melepas 55% saham di ruas tol Cibitung-Cilincing kepada PT Akses Pelabuhan Indonesia (API) dengan nilai transaksi Rp 2,49 triliun. Divestasi tersebut berkontribusi menurunkan utang Waskita melalui dekonsolidasi hingga Rp 5 triliun.

Hak konsesi jalan tol Cibitung-Cilincing sepanjang 34 kilometer (km) dipegang oleh PT Cibitung Tanjung Priok Port Tollways (CTP) dengan komposisi 55% saham dikuasai WTR dan 45% saham dimiliki oleh API.

Melalui penandatanganan perjanjian jual beli bersyarat (PPJB) yang dilakukan oleh Direktur Utama WTR Septiawan Andri Purwanto dan Direktur Utama API Iwan Ridwan pada Rabu (21/7), WTR dan API sepakat melakukan pengalihan saham. Dengan demikian, API kini menjadi pemegang mayoritas saham CTP.

API merupakan anak usaha dari PT Pengembang Pelabuhan Indonesia dan PT Pelabuhan Tanjung Priok, serta bagian dari grup perusahaan PT Pelabuhan Indonesia II (Persero). API bergerak dalam bidang penyediaan jalan akses khusus dan/atau jalan tol kepelabuhan dan fasilitas pendukungnya.

Direktur Utama WTR Septiawan Andri Purwanto menjelaskan, dana yang diterima dari hasil divestasi akan digunakan untuk mendukung proses bisnis WTR ke depan. "Setelah menandatangani PPJB, kami masih harus melakukan pemenuhan persyaratan administrasi dan memastikan proses divestasi dilakukan dengan mematuhi ketentuan yang berlaku sebelum penandatanganan akta jual beli (AJB) antara kami dan API," jelas Septiawan dalam keterangan tertulis.

Septiawan menargetkan, proses divestasi CTP rampung pada kuartal III-2021. Melalui divestasi ini diperkirakan akan dapat menurunkan utang Waskita melalui dekonsolidasi hingga Rp 5 triliun. Hal ini sekaligus menambah daftar ruas yang didivestasi menjadi 4 ruas dari 9 ruas jalan tol yang ditargetkan dilepas kepada investor pada 2021.

Divestasi jalan tol merupakan bagian dari proses bisnis Waskita sebagai salah satu pengembang infrastruktur terbesar di Tanah Air. Waskita menggunakan skema asset recycling, yaitu investment-construction-divestment dalam mendorong kinerja usaha serta sebagai bentuk nyata kontribusi perusahaan dalam mendukung pembangunan nasional.

Selain sebagai bagian dari proses bisnis Waskita, divestasi juga merupakan bagian dari komitmen perseroan dalam rangka penyehatan keuangan dan menciptakan bisnis yang berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan menilai bahwa aksi korporasi yang dilakukan Waskita, baik melalui divestasi maupun restrukturisasi, akan memperkuat kembali neraca perusahaan. “Ketika kondisi sudah pulih yang diperkirakan terjadi pada 2022, perseroan akan memiliki ruang leverage yang baik untuk bisa mulai agresif kembali,” ujar Alfred.

Selain divestasi, Alfred menuturkan saat ini Waskita juga berupaya memperbaiki posisi keuangannya dengan merestrukturisasi utang. Langkah tersebut akan meningkatkan kondisi likuiditas dari tekanan kewajiban jangka pendek. Termasuk, memberikan ruang untuk bisa mengoptimalkan nilai atau hasil proses divestasi tol secara tidak langsung.

"Ending dari model bisnis Waskita saat investasi ke sektor infrastruktur tol adalah divestasi karena perseroan memang tidak memiliki tujuan sebagai operator jalan tol. Masuknya Waskita ke bisnis jalan tol untuk membidik pembangunan (bahan material melalui Divisi Precast dan Jasa Konstruksi) dan divestasi/penjualan tol (gain)," ungkapnya.

Sejak 2014, Waskita sudah tidak lagi bertindak sebagai kontraktor (jasa konstruksi). Akan tetapi, sebagai pemilik yang kemudian menjual asetnya kembali. Alhasil, investasi di jalan tol telah membuat belanja modal perseroan yang mayoritas didanai utang mengalami kenaikan signifikan, sehingga posisi utang juga naik signifikan dan berimbas pada peningkatan beban utang.

Menurut Alfred, sebelum Covid-19, proses divestasi terus dilakukan Waskita agar dana hasil divestasi bisa diputar kembali sebagai permodalan untuk masuk ke ruas tol lain. Namun, saat itu, banyak kendala lantaran pertimbangan harga divestasi yang belum sesuai.

Seiring dengan pandemi Covid-19, sektor kontruksi terpukul yang akhirnya membuat pendapatan perseroan turun tajam dan mulai menganggu likuiditas terutama dalam pemenuhan kewajiban, termasuk beban keuangan yang terus berjalan. Dalam kondisi pendapatan (kas operasi) yang terganggu inilah, langkah divestasi menjadi opsi paling cepat dan berdampak signifikan untuk mengurangi utang. “Beban bunga pun otomatis akan turun, sehingga memperkuat solvabilitas perusahaan,” tutur Alfred.

Pada April 2021, Waskita juga mendivestasi seluruh kepemilikan saham WTR di PT Jasamarga Kualanamu Tol (JMKT) kepada Kings Rings Ltd. Kemudian, pada Juni 2021, Waskita mendivestasi 40% kepemilikan saham WTR di PT Jasamarga Semarang Batang (JSB) serta divestasi 35% saham WTR di PT Cinere Serpong Jaya (CSJ).

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN