Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama PT Mitrabara Adiperdana Tbk Widada (tiga dari kiri) dan Komisaris Utama Yo Angela Soedjana (empat dari kanan), bersama (dari kiri) Komisaris Independen Abdullah Fawzy Siddik,
Wakil Komisaris Utama Fumitake Uyama, Wakil Direktur Utama Hidefumi Kodama, Direktur Ir. Syadaruddin, dan Direktur Deden Ramdhan usai RUPST/LB dan paparan publik di Jakarta, Rabu
(12/6/2019).  Foto: Investor Daily/IST

Direktur Utama PT Mitrabara Adiperdana Tbk Widada (tiga dari kiri) dan Komisaris Utama Yo Angela Soedjana (empat dari kanan), bersama (dari kiri) Komisaris Independen Abdullah Fawzy Siddik, Wakil Komisaris Utama Fumitake Uyama, Wakil Direktur Utama Hidefumi Kodama, Direktur Ir. Syadaruddin, dan Direktur Deden Ramdhan usai RUPST/LB dan paparan publik di Jakarta, Rabu (12/6/2019). Foto: Investor Daily/IST

Mitrabara Rancang Strategi Diversifikasi Usaha

C01, Kamis, 13 Juni 2019 | 12:50 WIB

JAKARTA – PT Mitrabara Adiperdana Tbk (MBAP) gencar merancang strategi diversifikasi usaha di sektor pembangkit listrik danenergy plantationtahun ini. Langkah tersebut merupakan strategi emiten dari Baramulti Group ini dalam mengantisipasi tren penurunan harga batu bara.

Presiden Direktur Mitrabara Adiperdana Widada mengatakan, perseroan masih dalam tahap uji kelaikan(feasibility study) atas pengembangan lahan untuk energy plantationdi Kalimantan Utara. Pada Desember 2018, perseroan telah mengantongi izin lokasi seluas 19.000 hektare (ha)

Feasibility study rencana ini ternyata membutuhkan waktu yang tidak secepat yang kami banyangkan. Tahun ini, kajiannya akan selesai. Jadi pekerjaan aktualnya baru terjadi pada 2020,” kata Widada, usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan di Jakar ta, Rabu (12/6).

Saat ini, kata Widada, perseroan belum menghitung detail berapa investasi yang perlu dikeluarkan guna mengembangkan bisnis energy plantation. Sementara, di sektor pembangkit listrik, perseroan cenderung melirik tender-tender pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang digelar Perusahaan Listrik Negara (PLN).

“Minimal kalau PLTS itu sekitar 2 hingga 5 megawatt (MW). Kalau melihat posisi cash perseroan. Saya rasa cukup untuk mengejar proyek-proyek yang size-nya cukup baik,” jelas dia.

Sebagai informasi, langkah diversifikasi bisnis telah dimulai sejak tahun lalu ketika perseroan menggandeng perusahaan asal Jepang Idemitsu Kosan Co Ltd sebagai mitra perusahaan. Tahun lalu kedua belak pihak mengkaji untuk membangun perkebunan wood pellet.

Sementara itu, untuk bisnis batu bara, Mitrabara telah merealisasikan sekitar 1,8 juta ton hingga Mei 2019. Menurut Widada, pihaknya optimistis untuk mengejar target produksi tahun ini yang mencapai 4 juta ton.

Secara historis, produksi perseroan sejak 2015 cenderung stabil pada kisaran 3,5 juta ton hingga 4 juta ton per tahun. Saat ini, pasar utama perseroan adalah Tiongkok, India, serta Jepang. Tercatat, pangsa pasar penjualan sebanyak 31% ke India pada 2018. Posisi kedua ditempati oleh Filipina dengan 17%.

Sementara itu, Tiongkok berada di posisi ketiga dengan 13%. Adapun, penjualan ke Jepang tahun lalu berkontribusi 7% atau di bawah Korea Selatan sebanyak 11%. “Untuk penjualan, batu bara yang banyak dicari oleh pembeli kami adalah batubar dengan kalori 57 GAR, 54 GAR, 52 GAR, dan 5000 GAR. Kalau ke Jepang itu biasanya yang 57 GAR,” kata Widada.

Dia melanjutkan, strategi perseroan selanjutnya adalah lebih banyak melakukan penjualan untuk pasar domestik. Tahun ini, perseroan telah mengunci kontrak jual beli batu bara dengan Paiton Energy untuk volume maksimum sebesar 440.000 ton.

Untuk mendukung ekspansi,perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 4,96 juta sepanjang tahun ini. Capex sekitar US$ 2,3 juta untuk perawatan mesin dan alat berat, sekitar US$ 1,5 juta untuk perawatan gedung dan infrastruktur, US$ 514.000 untuk peralatan tambang, US$ 407.000 untuk peralatan kantor dan sisanya US$ 90.000 untuk kendaraan. Sumber pembiayaan capex dari berasal kas internal.

Sementara itu, RUPST Mitrabara menyepakati pembagian dividen final sebesar Rp 58 per saham atau senilai Rp 71 miliar untuk tahun buku 2018. Selain dividen final, perseroan juga telah membagikan divdien interim pada Desember 2018 sebesar Rp 240 per saham atau senilai Rp 294 miliar.

Dengan demikian, total dividen yang dibagikan perusahaan sebesar Rp 298 per saham atau senilai Rp 365,7 miliar. Dividen ini setara dengan 40% lebih dari laba bersih 2018 yang tercatat US$ 50,31 juta. Sementara itu dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), pemegang saham juga menyetujui pengunduran diri Shinichi Nar uuchi dan Ricard Pardede sebagai wakil direktur utama dan direktur independen, serta mengangkat Hidefumi Kodama dan Deden Ramadhan selaku wakil direktur utama dan direktur.

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN