Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petugas menunjukkan emas batangan di galeri 24 penjualan Logam Mulia di Jakarta, Senin (2/3/2020). Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) pada hari ini, Senin (2/3/2020) terpantau mengalami kenaikan sebesar Rp4.000 ke level Rp810.000 per gram. Foto:  SP/Ruht Semiono

Petugas menunjukkan emas batangan di galeri 24 penjualan Logam Mulia di Jakarta, Senin (2/3/2020). Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) pada hari ini, Senin (2/3/2020) terpantau mengalami kenaikan sebesar Rp4.000 ke level Rp810.000 per gram. Foto: SP/Ruht Semiono

Pefindo Naikkan "Outlook" Antam Jadi Stabil

Selasa, 15 September 2020 | 16:10 WIB
Thereis Love Kalla (thereis.kalla@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyematkan peringkat A dengan prospek dinaikkan dari negataif menjadi stabil terhadap PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan Obligasi Berkelanjutan I Aneka Tambang Tahun 2011. Penguatan prospek didukung ekspektasi kinerja keuangan perseroan lebih stabil ke depan.

Pefindo menjelaskan, fokus penjualan emas Antam pada pasar retail domestik diharapkan berimbas terhadap peningkatan keuntungan yang lebih besar bagi perseroan, menyusul kenaikan harga emas. Hal tersebut juga diiringi langkah perseroan untuk mengurangi ekspor emas dan fokus pada pasar ritel domestik yang menghasilkan margin lebih tinggi.

Pefindo menjelaskan, pandemi Covid-19 juga memicu kenaikan permintaan atas emas sebagai tujuan investasi yang dianggap lebih aman. “Dengan fokus penjualan emas dalam gramasi kecil, Antam dapat menjangkau basis nasabah yang lebih luas, mengingat harga yang lebih terjangkau,” jelas Analis Pefindo Niken Indriarsih dan Aishantya dalam keterangan resmi Pefindo, Senin (14/9)

Sedangkan dari bisnis nikel, dia mengatakan, diharapkan dengan adanya inisiatif kemitraan strategis Antam dengan smelter lain di Indonesia dapat mengkompensasi penurunan penjualan bijih nikel akibat larangan ekspor bijih nikel dari Indonesia. Selain itu, inisiatif Antam lainnya untuk mempertahankan posisi biaya yang rendah dapat memitigasi penurunan earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) dalam jangka waktu pendek melalui efisiensi biaya dan sinergi dengan induk usaha.

Menurut Pefindo, pandemi Covid-19 memiliki dampak yang moderat terhadap profil kredit Antam sejalan dengan penurunan permintaan dan harga komoditas, khususnya nikel. “Namun akhir-akhir ini harga nikel sudah meningkat, seiring dengan pulihnya aktivitas perekonomian di Tiongkok sebagai pasar terbesar nikel,” jelasnya.

Sementara itu, peringkat A untuk Obligasi Berkelanjutan I Aneka Tambang Tahun 2011 mencerminkan kemampuan perseroan dalam memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya. Walaupun demikian, kemampuan obligor mungkin mudah terpengaruh oleh perubahan buruk keadaan dan kondisi ekonomi dibandingkan obligor dengan peringkat lebih tinggi.

Lebih lanjut, Pefindo menjelaskan, peringkat tersebut mencerminkan sumber daya dan cadangan Antam yang cukup besar, dan posisi yang kuat di industri yang didukung oleh produk pertambangan yang terdiversifikasi, dan kegiatan operasional yang terintegrasi secara vertikal. Namun, peringkat dibatasi oleh leverage keuangan yang tinggi dan paparan terhadap fluktuasi atas harga komoditas.

Di sisi lain, Pefindo dapat menaikkan peringkat Antam, apabila capaian pendapatan dan EBITDA lebih tinggi dari proyeksi, dan leverage keuangannya berada pada level yang konservatif. Potensi kenaikan peringkat juga didorong jika perusahaan menerima dukungan yang kuat dari INALUM dalam bentuk injeksi modal, pinjaman shareholder loan atau sinergi bisnis yang secara substansial menaikkan kinerja operasi Antam.

“Kam juga dapat menurunkan peringkat jika pandemi yang berkepanjangan berakibat pada perlambatan pemulihan ekonomi global dan berdampak negatif terhadap permintaan dan harga komoditas, yang dapat melemahkan operasi bisnis dan profil keuangan Antam,” ujarnya.

Hingga semester I-2020, segmen logam mulia dan pemurnian mencatatkan laba usaha sebesar Rp 495,16 miliar atau tumbuh 111%, dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 234,94 miliar. “Pertumbuhan tersebut sejalan dengan pengembangan pasar produk logam mulia Antam di pasar domestik serta apresiasi positif kenaikan harga emas internasional sepanjang paruh pertama 2020,” jelas Kunto dalam keterangan resminya.

Selain itu, lanjut Kunto, peningkatan outlook rating perusahaan didukung pula prospek pengelolaan biaya tunai operasi Antam yang efisien. Hal tersebut merupakan bagian dari implementasi kebijakan strategis terkait inisiatif efisiensi biaya yang tepat dan optimal.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN