Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dirut BRI Sunarso

Dirut BRI Sunarso

'Rights Issue' BRI Salah Satu Terbesar di Asia

Kamis, 22 Juli 2021 | 17:00 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) hari ini (Kamis, 22/7) menyetujui rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PM-HMETD) atau rights issue maksimal 28,67 miliar saham. Rights issue BRI berpotensi menjadi yang terbesar di Indonesia, bahkan salah satu terbesar di Asia.

“Pemegang saham menyetujui rencana rights issue perseroan,” kata Direktur Utama BRI, Sunarso kepada pers usai RUPSLB BRI di Jakarta, Kamis (22/7).

Sunarso mengungkapkan, BRI berencana menerbitkan maksimal 28,67 miliar saham Seri B dengan nilai nominal Rp 50 per saham. “Harga pelaksanaan akan disampaikan kemudian," tutur Sunarso.

Menurut Sunarso, rencana pelaksanaan PMT-HMETD tersebut berkaitan langsung dengan keinginan perseroan membentuk holding ultramikro. Rights issue BRI berpotensi menjadi yang terbesar di Indonesia, bahkan dapat menjadi salah satu rights issue terbesar di Asia.

BRI, kata Sunarso, akan terus mengeksplorasi sumber-sumber pertumbuhan baru yang selaras dengan aspirasi menjadi champion of financial inclusion. “Segmen ultra mikro telah diidentifikasi sebagai sumber pertumbuhan baru melalui pembentukan ekosistem ultramikro yang akan menyediakan layanan keuangan terintegrasi bagi para pengusaha di segmen ultramikro,” papar dia.

Sunarso menjelaskan, rencana rights issue itu juga selaras dengan visi pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RJPMN) 2020-2024, yaitu mendorong inklusi keuangan. Atas dasar itu pula, pemerintah bermaksud membentuk holding ultramikro yang terdiri atas BRI (induk) serta PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero).

“Ekosistem ini akan menyediakan layanan keuangan yang terintegrasi bagi para pengusaha segmen ultramikro sehingga memungkinkan mekanisme naik kelas ke nasabah mikro lebih tertata dengan baik,” ujar dia.

Dalam PMHMETD tersebut, menurut Sunarso, pemerintah akan menyetorkan seluruh saham Seri B miliknya di Pegadaian dan PNM kepada BRI (inbreng). "Setelah transaksi, BRI akan memiliki 99,99% saham Pegadaian dan PNM. Disamping itu, pemerintah akan tetap memiliki satu unit saham Seri A Dwiwarna di Pegadaian dan PNM," papar dia.

Berdasarkan data Kemenkop UKM, Bank Pembangunan Asia (ADB), dan hasil analisis BRI, pada 2018 terdapat sekitar 45 juta usaha ultramikro yang membutuhkan pendanaan tambahan. Namun hanya sekitar 15 juta usaha ultramikro yang tersentuh pendanaan lembaga keuangan formal.

"Dengan menjangkau potensi ultramikro, aksesibilitas layanan keuangan di segmen tersebut dapat dioptimalkan,” tandas Sunarso.

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN