Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Produk baja PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Foto: PTKS

Produk baja PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Foto: PTKS

Semester I, Laba Bersih Krakatau Steel Melonjak 601,3%

Kamis, 22 Juli 2021 | 05:59 WIB
Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id – PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) membukukan lonjakan laba bersih sebesar 601,3% menjadi Rp 475 miliar pada semester I-2021 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 67 miliar. EBITDA perseroan juga naik hampir dua kali lipat menjadi Rp 1,2 triliun atau melebihi realisasi tahun 2020 yang sebanyak Rp 687 miliar.

Dalam keterangan tertulis, Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim menjelaskan, meningkatnya laba bersih ditopang oleh naiknya penjualan Krakatau Steel sebesar 90,9% menjadi Rp 15,3 triliun pada semester I-2021 dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 8 triliun. Kenaikan penjualan ini sebagian besar disumbang oleh penjualan produk utama yang naik 43,8%.

Secara rinci, Krakatau Steel membukukan volume penjualan Hot Rolled Coil (HRC) dan Cold Rolled Coil  (CRC) sebesar 995.000 ton dibandingkan tahun lalu sebanyak 692.000 ton. Penjualan ekspor juga meningkat 15 kali lipat menjadi sebesar 162.243 ton dari 10.817 ton.

“Dengan memproduksi produk HRC dan CRC sebanyak 1.008.000 ton pada semester I-2021 dan diikuti dengan semakin turunnya biaya produksi per tonnya, maka produktivitas Krakatau Steel pun meningkat 61%,” jelas Silmy, Rabu (21/7).

Kinerja positif ini juga didukung oleh sejumlah efisiensi yang perseroan lanjutkan dari tahun lalu. Pada semester I-2021, Krakatau Steel berhasil menurunkan variable cost dan fixed cost per ton. Diantaranya, variable cost menurun 13,1% dan fixed cost  tereduksi 22,8%. Perseroan juga berhasil menekan beban operasional sebesar 18,1% menjadi Rp 1,7 juta per ton dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2 juta per ton.

“Penurunan biaya operasional ini di antaranya terjadi pada penurunan biaya energi sebesar 12%, penurunan biaya spare part sebesar 17,6%, serta penurunan biaya tenaga kerja hingga 24,7%,” ujarnya.

Silmy menambahkan, peningkatan kinerja Krakatau Steel juga diikuti oleh perbaikan kinerja anak usaha pada semester I-2021 yang secara keseluruhan dapat membukukan laba. Nilai penjualan anak usaha Krakatau Steel pada semester I-2021 meningkat 46,6% menjadi Rp 4,7 triliun dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 3,2 triliun.

Dengan demikian, laba bersih anak usaha Krakatau Steel juga meningkat sebesar 21,2% menjadi Rp 397 miliar dibandingkan semester I tahun lalu yang sebesar Rp 327 miliar.

Diminati Investor

Sebelumnya, dikabarkan banyak investor strategis yang membidik 20-30% saham anak usaha Krakatau Steel, yaitu PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC) yang telah berganti nama menjadi PT Krakatau Sarana Infrastruktur.

“Selain Indonesia Investment Authority (INA), ada beberapa investor strategis lain yang akan bergabung," kata Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim kepada Investor Daily.

Dia mengungkapkan, dari unsur Badan Usaha Milik Negara (BUMN), di antaranya PT Danareksa, PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF), dan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA). “Banyaknya institusi yang berminat ini dikarenakan performa subholding sarana infrastruktur dari Krakatau Steel ini memang bagus," ujar Silmy.

Perseroan telah membuka penawaran awal kepada investor strategis sejak awal semester II-2021. Perseroan menargetkan aksi korporasi tersebut terjadi pada Agustus-September 2021.

Krakatau Sarana Infrastruktur merupakan subholding yang terdiri atas PT Krakatau Bandar Samudera (KBS), PT Krakatau Daya Listrik (KDL), dan PT Krakatau Tirta Industri (KTI). Per 30 September 2020, nilai aset sebelum eliminasi KDL tercatat US$ 245,38 juta, KBS senilai US$ 224,91 juta, dan KTI sebesar US$ 98,42 juta. Sementara, nilai aset KIEC sendiri mencapai US$ 178,46 juta.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN