Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Direktur Smartfren, Merza Fachys. (Foto: Emanuel Kure/ID)

Presiden Direktur Smartfren, Merza Fachys. (Foto: Emanuel Kure/ID)

Smartfren Segera Konversi Obligasi Jadi Saham Rp 3,4 Triliun

Selasa, 15 September 2020 | 12:00 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) akan menukar obligasi wajib konversi (OWK) menjadi saham perseroan pada 22 September 2020. Nilai transaksi dalam pelaksanaan konversi OWK II dan OWK III ini mencapai Rp 3,4 triliun.

Rencana tersebut telah mendapat persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 14 Agustus 2020. Jumlah saham hasil konversi OWK II dan III sebanyak 34 miliar saham seri C atau 42,5% dari total OWK sebanyak 80 miliar saham. “Adapun harga pelaksanaan konversi Rp 100 per saham,” jelas manajemen Smartfren dalam pengumuman resmi.

Sebelumnya, Smartfren telah menerbitkan OWK senilai Rp 8 triliun atau sebanyak 80 miliar saham pada 2014 dan 2017. Para pemegang OWK II Smartfren tahun 2014 adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Dian Ciptamas Agung, Boquete Group SA, PT Nusantara Indah Cemerlang, PT Andalan Satria Permai, PT DSSE Energi Mas Utama, dan Hilmas Coal Pte Ltd. Total nilai OWK 2014 mencapai Rp 3 triliun.

Sedangkan pemegang OWK III Smartfren tahun 2017 adalah Cascade Gold Ltd, Dian Swastatika Sentosa, Boquete Group SA, dan PT Nusantara Indah Cemerlang dengan nilai mencapai Rp 5 triliun.

Adapun pelaksanaan konversi ini terkait dengan rencana perseroan untuk meningkatkan modal ditempatkan dan disetor dari semula Rp 28,14 triliun menjadi Rp 36,14 triliun, dengan mengeluarkan 80 miliar saham simpanan. Per 30 Juni 2020, struktur pemegang saham Smartfren adalah PT Global Nusa Data (36,6%), PT Wahana Inti Nusantara (22,3%), PT Bali Media Telekomunkasi (14,8%), dan masyarakat (26,3%).

Sebagai informasi, penerbitan OWK yang dilakukan pada 2014 dan 2017 merupakan strategi perseroan dalam menambah modal dan melakukan pelunasan utang. Selain dari penerbitan OWK, Smartfren kerap mencari dana eksternal dari pinjaman bank asal Tiongkok. Tahun ini, perseroan melalui PT Smart Telecom meraih pinjaman fase IV dari China Development Bank (CDB) cabang Shenzhen senilai 1,58 miliar renminbi atau setara Rp 3,1 triliun. Pinjaman tersebut digunakan untuk membiayai belanja modal perseroan. Pinjaman dibayar dengan 7 kali cicilan semesteran. Sementara, jatuh tempo pinjaman pada 2026.

Tahun ini, perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 250-260 juta. Sampai semester I-2020, perseroan sudah menggunakan US$ 170-180 juta dari total capex untuk ekspansi jaringan melalui pembangunan BTS.

Hingga semester I-2020, Smartfren mencatatkan pendapatan sebesar Rp 4,3 triliun, naik 41,98% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Pendapatan tersebut berasal dari segmen telekomunikasi, yakni pendapatan dari bisnis data Rp 3,91 triliun dan pendapatan non-data Rp 226,52 miliar. Kemudian, pendapatan interkoneksi Rp 61,69 miliar dan pendapatan lain-lain Rp 101,83 miliar.

Adaun beban usaha perseroan pada semester I-2020 meningkat 22,86% menjadi Rp 2,25 triliun dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 1,81 triliun. Alhasil, meski pendapatan tumbuh signifikan, perseroan masih merugi Rp 1,22 triliun. Kerugian itu meningkat dibandingkan semester I-2019 yang sebesar Rp 1,07 triliun.

Ekspansif

Smartfren yang merupakan unit usaha Grup Sinar Mas bakal ekspansif dengan menggelar jaringan telekomunikasi, terutama berkompetisi pada lelang frekuensi 2.300 Mhz untuk implementasi 5G. Dukungan pemegang saham juga kian kuat dengan mengangkat mantan Menko Perekonomian Darmin Nasution sebagai komisaris utama perseroan.

Presiden Direktur Smartfren Telecom Merza Fachys mengatakan, lelang frekuensi 2.300 Mhz masih menunggu pengumuman resmi pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) yang diperkirakan tahun ini. Namun, kapan pun lelang dibuka, pihaknya siap berpartisipasi.

Sebagai informasi, International Telecommunication Union (ITU) menetapkan 2.300 Mhz sebagai frekuensi yang bisa dimanfaatkan untuk alokasi teknologi 5G. Pada frekuensi ini, Smarftren telah memiliki frekuensi selebar 30 MHz. Jika Smartfren ikut lelang dan berhasil menang, maka perseroan memiliki tambahan 30 Mhz. Alokasi ini dinilai mencukupi untuk implementasi teknologi 5G lebih dulu dibanding kompetitornya.

Namun, Smartfren bukan satu-satunya operator yang sudah punya 30 Mhz pada frekuensi 2.300 Mhz. Saat ini, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), juga tercatat memiliki 30 MHz pada frekuensi tersebut. Alhasil, dua operator seluler ini bakal bersaing ketat dalam lelang.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN