Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kegiatan tambang di Bukit Asam. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Kegiatan tambang di Bukit Asam. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Tahun Depan, Bukit Asam Siapkan 'Capex' Rp 4 Triliun

Gita Rossiana, Senin, 2 Desember 2019 | 20:35 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 4 triliun pada 2020. Dana ini akan digunakan untuk mendukung produksi dan penjualan batubara tahun depan sebesar 30 juta ton.

Sekretaris Perusahaan Bukit Asam Suherman mengatakan, perseroan berencana menggunakan belanja modal untuk sejumlah proyek. Suherman mengungkapkan, pada tahun depan, perseroan akan proyek gasifikasi batubara, pengembangan angkutan batubara dan PLTU Sumsel-8. "Belanja modal juga akan digunakan untuk investasi di anak perusahaan dan pengembangan yang lain," jelas dia kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (2/12).

Sementara tahun ini, Bukit Asam sedang memproses pembangunan dua proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di kawasan Muara Enim dan Halmahera Timur. Kedua proyek tersebut menelan investasi sebesar US$ 2,03 miliar.

Suherman menjelaskan, PLTU pertama yang sedang dibangun adalah PLTU Mulut Tambang Sumsel 8 di Muara Enim. PLTU ini dibangun oleh PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP) yang merupakan konsorsium Bukit Asam dengan China Huadian Hongkong Company Ltd. Proyek ini menelan investasi sebesar US$ 1,68 miliar yang didanai oleh Exim Bank of China.

"Konstruksi PLTU ini telah dimulai sejak Juni 2018 yang memerlukan waktu 42 bulan untuk Unit I dan 45 bulan untuk Unit II. Commercial operation date (COD) ditargetkan pada 2021 untuk Unit I dan untuk unit II pada 2022," ujar dia.

Selain itu, Bukit Asam juga bekerjasama dengan PT Antam Tbk (ANTM) untuk membangun PLTU Feni di Halmahera Timur. Proyek pembangkit listrik ini memiliki kapasitas PLTU 3×60 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) 3x17 MW.

Sejauh ini, pembangkit listrik tersebut sudah selesai menjalani feasibility study. Selanjutnya akan dibentuk joint venture company antara Bukit Asam dengan Antam untuk membangun pembangkit listrik tersebut. "Proyek PLTU ini menelan investasi US$ 350 juta yang pendanaannya bisa dari perbankan," ucap dia.

Selain proyek pembangkit listrik, Bukit Asam juga menyiapkan proyek hilirisasi batubara di Peranap, Riau dan Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Bukit Asam menggandeng Pertamina selaku offtaker dimethyl ether (DME) dan Air Products selaku pemilik teknologi gasifikasi batubara untuk proyek hilirisasi di Peranap. Sedangkan untuk proyek hilirisasi di Tanjung Enim, Bukit Asam bekerjasama dengan Pertamina, PT Pupuk Indonesia (Persero) dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA).

Untuk menunjang angkutan batubara, Bukit Asam mengembangkan proyek angkutan batubara jalur kereta api dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero). Melalui proyek pengembangan ini, perseroan berharap bisa mengangkut batubara hingga 60 juta ton per tahun pada 2023.

Tahun ini, Bukit Asam menargetkan produksi batubara sebesar 27,26 juta ton atau naik 3% dari realisasi tahun sebelumnya sebesar 26,36 juta ton. Sedangkan target angkutan batubara pada 2019 adalah 25,3 juta ton atau meningkat 12% dari realisasi angkutan kereta api pada tahun lalu.

Sedangkan untuk volume penjualan batubara ditargetkan menjadi 28,38 juta ton, yang terdiri dari penjualan batubara domestik sebesar 13,67 juta ton dan penjualan batubara ekspor sebesar 14,71 juta ton. Volume ini meningkat 15% dari realisasi penjualan batubara pada tahun lalu.

"Peningkatan target penjualan ini ditopang oleh rencana penjualan ekspor untuk batubara medium to high calorie ke premium market sebesar 3,8 juta ton," ujar Suherman.

Per September 2019, perseroan mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp16,3 triliun, atau turun tipis 1,36% dibanding kuartal III-2018. Penurunan dipicu oleh melemahnya harga batubara dunia. Meskipun di tengah kondisi penurunan harga, perseroan masih membukukan laba bersih sebesar Rp 3,1 triliun dengan EBITDA sebesar Rp 5 triliun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA