Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Tahun Ini, Laba Bersih Emiten Bisa Tumbuh 25-30%

Rabu, 5 Mei 2021 | 06:15 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Pertumbuhan laba bersih emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan mencapai 25-30% tahun ini, seiring pemulihan ekonomi nasional dan global, setelah tertekan akibat pandemi Covid-19 pada tahun lalu.

Analis PT Phillip Sekuritas Anugerah Zamzami menjelaskan, pertumbuhan kinerja emiten tahun ini ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang ditranslasi ke pertumbuhan laba emiten. “Katalis lainnya adalah perbaikan harga komoditas, pelemahan dolar AS, masuknya arus modal asing, dan tren suku bunga rendah," kata dia kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Adapun sektor usaha emiten yang akan bertumbuh tahun ini berasal dari sektor perbankan, telekomunikasi, pertambangan, dan bahan dasar. Dengan positifnya kinerja tahun ini, saham-saham emiten dari sektor tersebut bisa dikoleksi oleh investor.

Saham-saham tersebut antara lain saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT XL Axiata Tbk (EXCL), dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).

Selain itu, saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI).

Hal senada disampaikan oleh ekonom PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Anthony Kevin. Dia juga memproyeksikan emiten mampu membukukan pertumbuhan laba bersih dua digit pada kuartal II-2021. Sementara, pada kuartal I-2021, emiten diperkirakan hanya bisa membukukan pertumbuhan pendapatan maupun laba di level satu digit.

Menurut Anthony, secara perlahan emiten akan membukukan kinerja positif setelah terdampak pandemi Covid-19. Namun, pada kuartal I-2021, pencapaian kinerja positif itu belum terlalu besar dan akan terjadi pertumbuhan yang signifikan pada kuartal II-2021. "Pada kuartal I-2021, pertumbuhan kinerja emiten belum akan tinggi sekali. Pada kuartal II-2021 baru bisa tumbuh dua digit," jelas dia.

Dilihat dari sektornya, emiten dari sektor energi dan perkebunan berpeluang membukukan kinerja yang lebih baik pada tahun ini. Faktor pendukung kinerja itu adalah kenaikan harga komoditas dan peningkatan ekspor.

"Dari sektor energi, terutama kenaikan ekspornya cukup signifikan sehingga emitennya tidak hanya bisa menikmati peningkatan harga, tapi juga penjualan. Kemudian, ekspor manufaktur yang banyak di-drive komoditas seperti CPO juga meningkat," jelas dia.

Investment Information Head Mirae Asset Sekuritas Roger menambahkan, tahun ini, emiten memang berpotensi untuk tumbuh positif. Adapun sektor yang akan tumbuh positif adalah sektor poultry karena terdorong sentimen kenaikan ayam broiler, batu bara karena terdorong kenaikan harga komoditas, sektor kesehatan yang masih positif, serta sektor perkebunan karena kenaikan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Berbeda dengan kinerja pada 2021 yang diprediksi akan tumbuh positif, Roger menilai bahwa laba emiten pada 2020 akan menurun sekitar 20-25% secara year on year (yoy). Sementara, pendapatan bisa terpangkas 8-10% (yoy).

Sektor energi, infrastruktur, dan properti menjadi sektor yang membukukan kinerja cukup rendah pada 2020. Roger menjelaskan, dari lima emiten yang sudah melaporkan kinerja di sektor energi, hanya PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang mencatat pertumbuhan laba bersih 29,1% (yoy) pada 2020. Sedangkan empat emiten lainnya membukukan penurunan laba dengan penurunan terendah dialami oleh PT Indika Energy Tbk (INDY) sebesar 556,8%.

Begitu juga dengan sektor properti, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) menjadi emiten yang hanya membukukan laba positif pada 2020 sebesar 1% (yoy). Sedangkan di sektor infrastruktur, belum ada emiten yang mencatatkan pertumbuhan laba positif, hanya PT Indosat Tbk (ISAT) yang membukukan pertumbuhan pendapatan 6,9% (yoy) pada 2020.

Sementara itu, sektor yang membukukan kinerja paling positif pada 2020 adalah sektor kesehatan. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mencatatkan pertumbuhan laba tertinggi sebesar 238,6%, disusul PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) sebesar 134,3%.

Kinerja positif juga terjadi pada sektor konsumen primer. Anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) di bidang komoditas, yakni PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), mencatat pertumbuhan laba tertinggi sebesar 294,6%. Lalu, PT PP London Sumatra Tbk (LSIP) dengan pertumbuhan laba 174,1%.

Dengan melihat kinerja emiten pada 2020 dan proyeksi pada 2021, Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham. Saham-saham tersebut di antaranya saham PT PP London Sumatra Tbk (LSIP) dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) yang berpeluang menguat seiring ekspektasi peningkatan kinerja pada kuartal I-2021.

Kemudian dari sektor poultry, Roger menilai ada dua saham yang berpotensi terkerek akibat kenaikan harga ayam broiler, yaitu PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA) dan PT Malindo Feedmil Tbk (MAIN). Adapun target harga untuk kedua saham itu adalah Rp 2.500 dan Rp 930.

Di sisi lain, momentum puasa dan Lebaran, lanjut Roger, berpeluang menggerakkan dua saham barang konsumsi, yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Kedua saham tersebut berpeluang terkerek ke level Rp 8.700 dan Rp 12.500.

Selain emiten-emiten tersebut, Mirae Asset Sekuritas juga merekomendasikan tiga saham yang layak diperhatikan investor. Saham-saham itu adalah PT Saratoga Investama Tbk (SRTG), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA). Tiga emiten tersebut berpotensi kembali mencetak pertumbuhan laba bersih pada kuartal I-2021. Di samping itu, ada rencana aksi korporasi yang juga bisa mendorong peningkatan harga saham.

Optimistis

Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Suryo Eko Hadianto optimistis bisa mencapai pertumbuhan laba pada semester I-2021. Meskipun pada akhir tahun lalu, Bukit Asam membukukan penurunan laba sebesar 41,2% menjadi Rp 2,38 triliun.

Faktor pendukung pertumbuhan laba pada semester I ini adalah harga batu bara yang relatif membaik dibandingkan tahun lalu. Di sisi lain, kemampuan produksi Bukit Asam juga akan diperbaiki supaya bisa menghasilkan produksi dan penjualan yang sesuai harapan. “Dengan kerja sama berbagai komponen, saya yakin bisa tercapai," jelas dia.

Lebih lanjut Suryo mengatakan, pihaknya akan mempercepat eksekusi proyek-proyek yang sudah dicanangkan Bukit Asam. Eksekusi proyek ini akan dilakukan oleh manajemen baru dengan tetap menjaga integritas dan tata kelola perusahaan (good corporate governance/GCG) yang baik. Adapun salah satu proyek yang sedang digarap Bukit Asam saat ini adalah hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME).

Di sisi pihak, Corporate Finance Group Head PT Jasa Marga Tbk (JSMR) Eka Setya Adrianto menjelaskan, kinerja Jasa Marga pada tahun ini sangat bergantung pada mobilisasi orang. Pasalnya, bisnis utama Jasa Marga adalah pengelolaan jalan tol.

Eka menilai, kinerja pada kuartal I-2021 masih cukup menantang karena pada Januari dan Februari tahun lalu, Indonesia belum dilanda pandemi Covid-19 dan belum ada kebijakan pembatasan sosial. "Namun, untuk kuartal II-2021, kami optimistis pendapatan jalan tol bisa lebih baik dari tahun lalu seiring dengan perbaikan kondisi," papar dia.

Pada akhir 2020, Jasa Marga membukukan laba bersih Rp 501,05 miliar atau menurun 77,31% dari akhir 2019 yang mencapai Rp 2,21 triliun. Merosotnya pertumbuhan laba ini disebabkan menurunnya pendapatan dari bisnis jalan tol dan konstruksi masing-masing sebesar 13,52% dan 73,18%.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN