Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Semen Indonesia. Foto: IST

Semen Indonesia. Foto: IST

Tiga Bank Syariah Danai Semen Indonesia Rp 2,35 Triliun

Farid Firdaus, Selasa, 10 September 2019 | 20:34 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) menandatangani perjanjian pinjaman sebesar Rp 2,35 triliun dari sindikasi tiga bank syariah dalam negeri. Dengan demikian, perseroan setidaknya telah mengantongi kredit hingga Rp 11,7 triliun dalam tiga bulan terakhir.

Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan Semen Indonesia Sigit Wahono mengatakan, kreditur yang mengucurkan pinjaman terbaru adalah PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank CIMB Niaga Syariah, dan PT BRI Syariah Tbk. Pihaknya tidak menyebut berapa tingkat bagi hasil maupun tenor yang diraih dalam perjanjian kali ini. “Perseroan akan menggunakan pinjaman ini untuk kebutuhan pembiayaan,” jelas dia kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (10/9).

Seperti diketahui, Semen Indonesia meraih pinjaman senilai Rp 9,35 triliun pada 22 Juli 2019. Ketika itu, pihak yang bertindak sebagai mandated lead arranger and bookrunner adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank BTPN Tbk (BTPN), PT Bank HSBC Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), Citibank N.A cabang Jakarta, dan MUFG Bank Ltd cabang Jakarta.

Berdasarkan perjanjian, jangka waktu untuk melakukan pembayaran kembali atas pinjaman adalah tujuh tahun sejak penandatanganan kredit. Pembayaran dilakukan secara semester, atau semi-annually pada Januari dan Juli, dan akan dimulai pada Januari 2020. Pinjaman ini juga dilakukan tanpa jaminan atau clean basis kepada pemberi pinjaman.

Kredit anyar ini akan digunakan untuk pembiayaan kembali (refinancing) utang yang digunakan perseroan dalam mengakuisisi PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB).

Seperti diketahui, Semen Indonesia menyelesaikan akuisisi 80,6% saham Solusi Bangun Persada, yang semula bernama Holcim Indonesia dari Holderfin B.V pada Januari 2019. Transaksi tersebut melibatkan 6,18 miliar saham dengan harga Rp 2.097 per saham. Dengan demikian, nilai transaksi tersebut mencapai Rp 12,96 triliun.

Dalam akuisisi ini, pendanaanya berasal dari fasilitas pinjaman senilai US$ 1,28 miliar. Pihak-pihak yang terlibat dalam pemberian pinjaman itu adalah Bank BNP Paribas, Deutsche Bank AG cabang Singapura, Maybank Kim Eng Securities PTE Ltd, MUGF Bank Ltd, dan Standard Chartered Bank.

Tercatat, Semen Indonesia juga menggalang dana senilai Rp 4,07 triliun dari penawaran umum berkelanjutan (PUB) I tahap II pada Mei 2019.  Dana dari penerbitan obligasi seluruhnya akan digunakan untuk melunasi sebagian utang jangka panjang perseroan akibat akuisisi Solusi Bangun.

Sebelumnya, Sigit mengatakan, perseroan kini bisa lebih fokus meningkatkan kinerja setelah menyelesaikan akuisisi Solusi Bangun. Apalagi, setelah perseroan melakukan refinancing seluruh utang yang disebabkan oleh aksi tersebut.

Ekspor Semen

Tahun ini, Semen Indonensia berupaya meningkatkan penjualan ekspor semen ke pasar Filipina dan Tiongkok. Langkah ini sebagai strategi perseroan dalam menanggulangi pasar semen di Asean yang kelebihan pasokan atau oversupply.

Baru-baru ini, SVP of SMO & Communication Semen Indonesia Ami Tantri mengatakan, perseroan belum berniat meningkatkan ekspansi pada pabrik di Vietnam yang dikelola oleh Thang Long Cement Joint Stock Company (TLCC). Perseroan juga cenderung menahan ekspansinya di negara lain. “Sekarang market masih oversupply. Kami lebih mengarahkan penjualan dari produksi pabrik di Vietnam ini ke pasar Filipina dan Tiongkok,” jelas dia.

Ketika ditanya apakah serbuan pemain semen dari Tiongkok yang menyebabkan adanya persaingan harga tidak sehat di pasar Asean, Ami enggan menyalahkan kelompok-kelompok tertentu. Perusahan semen Tiongkok diperkirakan mulai masuk ke pasar Tanah Air pada periode 2014-2015 lantaran potensi permintaan yang dinilai cukup besar.

“Soal predator pricing. Saya kira saat mereka masuk ke Indonesia, logis saja dengan produk yang sama tapi bisa menjual dengan lebih murah untuk menarik pasar,” jelas dia.

Perseroan mengincar pasar Filipina lantaran besarnya porsi impor semen Filipina kepada perusahaan di luar negara tersebut. Sementara untuk pasar Tiongkok dinilai prospektif untuk produk semen setengah jadi. Di Tiongkok, mayoritas pabrik-pabrik di sana juga terbentur oleh isu lingkungan. Diperkirakan, banyak pabrik dimatikan lantaran usianya yang sudah tua. Perseroan sudah merambah pasar Tiongkok sejak satu hingga dua tahun belakangan.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA