Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).

PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).

Tower Bersama akan 'Stock Split' 1:5

Gita Rossiana, Selasa, 8 Oktober 2019 | 18:21 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) berencana melakukan pemecahan nilai saham (stock split) dengan rasio 1:5. Perseroan akan melakukan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) untuk mendapatkan persetujuan stock split.

Tower Bersama akan memecah nilai nominal saham dari Rp 100 per saham menjadi Rp 20 per saham. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan likuiditas perseroan. "Pelaksanaan pemecahan nilai saham akan dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dalam rapat dengan memperhatikan perundang-undangan yang berlaku," tulis manajemen Tower Bersama dalam keterangan resmi, Selasa (8/10).

Selain itu, RUPSLB pada 30 Oktober 2019 juga akan meminta persetujuan untuk penerbitan surat utang berdenominasi mata uang asing. Persetujuan ini adalah perubahan atas struktur transaksi yang telah disetujui pada rapat umum pemegang saham (RUPS) pada 21 Mei 2019.

Adapun Tower Bersama berencana menerbitkan surat utang global (global bond) sebesar US$ 650 juta atau setara Rp 9,1 triliun, lebih rendah dari target semula US$ 850 juta. Aksi ini tidak dilakukan melalui anak usaha, TBG Global Pte Ltd, melainkan langsung diterbitkan perseroan.

Notes ini akan diterbitkan tanpa jaminan dengan jatuh tempo paling lama 10 tahun. Sedangkan penetapan bunga maksimal 6% tergantung tingkat suku bunga di pasar.

Direktur Keuangan Tower Bersama Infrastructure Helmy Yusman Santoso pernah mengatakan, keputusan ini dilakukan setelah mengubah struktur transaksi sebelumnya. Perseroan menilai, penerbitan surat utang cenderung lebih efisien apabila dilakukan langsung oleh induk usaha.

Menurut Helmy, pihaknya akan terlebih dahulu meminta persetujuan pemegang saham sebelum menerbitkan surat utang. Setelah itu, perseroan akan melihat kondisi pasar dan sejumlah faktor eksternal termasuk minat investor global. Sehingga, saat ini pihaknya belum dapat menetapkan waktu penerbitan dilakukan langsung tahun ini atau tahun depan.

Apabila berjalan sesuai rencana, perseroan akan menyerap hasil emisi obligasi untuk kebutuhan pelunasan kembali (refinancing) utang. Per 30 Juni 2019, Tower Bersama berserta anak usaha memiliki saldo surat utang sebelum dikurangi biaya pinjaman yang belum diamortisasi senilai Rp 8,56 triliun. Nilai itu terdiri dari surat utang berdenominasi dolar serta rangkaian penawaran obligasi berkelanjutan.

Tahun ini, Tower Bersama berencana melakukan pengembangan secara anorganik. Salah satunya adalah mengikuti lelang penjualan 3.000 menara telekomunikasi yang tengah digelar PT Indosat Tbk (ISAT). Jika berhasil menang, aksi ini akan menjadi yang kedua kalinya setelah perseroan mengakuisisi 2.500 menara Indosat pada Agustus 2012.

Menurut Helmy, strategi akuisisi cenderung mendongkrak pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) perseroan secara signifikan. Hal tersebut merujuk ketika perseroan mengeksekusinya pada 2012. “Akuisisi ini selalu menjadi strategi karena begitu menang, langsung dapat barangnya, dan EBITDA bertambah. Di 2012, perseroan mengalami kenaikan hingga 39%,” jelas Helmy.

Helmy menambahkan, perseroan juga berencana menaikkan belanja modal tahun ini (capital expenditure/capex) yang semula dipatok berkisar Rp 1,5-2 triliun, apabila berhasil menang lelang. Namun, pihaknya belum dapat mengungkapkan dana akuisisi yang disiapkan untuk mengakuisisi menara Indosat lantaran terikat confidential agreement.

Soal pendanaan akuisisi, perseroan bisa menariknya dari berbagai sumber, termasuk kas internal, pinjaman bank ataupun obligasi. Hingga Juni 2019, perseroan telah menyerap capex sebanyak Rp 933 miliar.

Tower Bersama menambah daftar peserta lelang, setelah sebelumya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) mengonfirmasi ikut membidik 3.000 menara Indosat.

Sementara itu, per 30 Juni 2019, Tower Bersama memiliki 26.713 penyewaan dan 15.344 sites telekomunikasi. Sites telekomunikasi milik perseroan terdiri atas 15.272 menara telekomunikasi dan 72 jaringan DAS. Adapun rasio kolokasi (tenancy ratio) perseroan pada kuartal II-2019 menjadi 1,74 atau naik dibandingkan kuartal I-2019 yang sebesar 1,71.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA