Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tower Bersama. Foto: Investor Daily.

Tower Bersama. Foto: Investor Daily.

Tower Bersama Tawarkan 'Global Bond' US$ 350 Juta

Farid Firdaus, Selasa, 14 Januari 2020 | 18:40 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menawarkan surat utang global (global bond) hingga sebesar US$ 350 juta, dengan tingkat suku bunga 4,25% dan jangka waktu lima tahun. Dana hasil emisi obligasi akan digunakan untuk melunasi utang perseroan.

Sekretaris Perusahaan Tower Bersama Infrastructure Helmy Yusman Santoso mengatakan, surat utang yang akan jatuh tempo pada 2025 tersebut belum diberikan peringkat dan akan menjadi kewajiban umum yang tidak dijamin perseroan. Penawaran surat utang akan ditutup pada 21 Januari 2020.

“Jumlah bersih yang akan diterima perseroan sekitar US$ 345,1 juta. Jumlah ini setelah dikurangi dengan biaya penjaminan emisi dan komisi, serta perkiraan biaya dan pengeluaran lainnya yang terkait dengan penerbitan,” kata Helmy dalam keterangan resmi, Selasa (14/1).

Sesuai rencana, dana hasil emisi obligasi akan digunakan untuk membayar seluruh saldo terutang dan fasilitas revolving senilai US$ 300 juta atau disebut fasilitas B. Perseroan juga akan membayar sebagian saldo terutang dari fasilitas pinjaman revolving senilai US$ 200 juta yang merupakan revolving loan fund (RLF) tahun 2017.

Adapun jumlah pembiayaan kembali untuk fasilitas B dan RLF ini akan tetap tersedia dan dapat dipinjam kembali. Per 30 September 2019, total pinjaman bruto dan kas setara kas Tower Bersama dan anak usahanya tercatat masing-masing sebesar Rp 22,85 triliun atau setara US$ 1,61 miliar dan Rp 333,36 miliar atau setara US$ 23,5 juta.

Nantinya, posisi nilai tersebut akan berubah. Sebab, perseroan bersiap melakukan pelunasan obligasi senilai Rp 628 miliar dan melakukan penerbitan obligasi global 2025. Perubahan juga dipengaruhi faktor pinjaman grup perseroan yang timbul selama 30 September 2019-13 Januari 2020.

Dengan demikian, total pinjaman bruto Tower Bersama per 30 September 2019 akan dicatatkan menjadi Rp 23,59 triliun atau setara US$ 1,66 miliar, sedangkan kas setara kas perseroan menjadi Rp 996,3 miliar atau US$ 70,2 juta.

“Surat utang 2020 akan terdaftar di Bursa Efek Singapura (SGX) dan pada prinsipnya seluruh persetujuan listing dan quotation untuk aksi ini dari official list SGX telah diperoleh,” kata Helmy.

Sebagai informasi, Tower Bersama telah mengantongi restu pemegang saham terkait rencana penerbitan global bond pada rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang digelar 30 Oktober 2019. Ketika itu, target global bond yang disetujui maksimal US$ 650 juta.

Akuisisi Menara

Sebelumnya, Helmy menjelaskan Tower Bersama membuka peluang untuk menggelar ekspansi dengan jalan akuisisi. Salah satu jalan yang ditempuh adalah berpartisipasi dalam lelang 3.300 menara telekomunikasi yang digelar PT XL Axiata Tbk (EXCL).

Menurut dia, pihaknya masih memiliki ruang pembiayaan yang cukup dalam mengakuisisi menara. Untuk pinjaman bank, rasio yang dipenuhi adalah tidak melebihi 5,0 kali untuk rasio pinjaman senior terhadap EBITDA bulan terakhir yang disetahunkan.

Sedangkan untuk obligasi, pemenuhan rasio tidak boleh melebihi 6,25 kali untuk rasio total pinjama terhadap EBITDA kuartal terakhir yang disetahunkan.

“Kami berminat untuk partisipasi lelangnya XL. Perseroan pun memiliki rekam jejak yang terbukti berhasil mengakses berbagai sumber pendanaan,” jelas dia, belum lama ini.

Proses lelang menara XL sampai saat ini masih berjalan, dan Tower Bersama berkompetisi dengan perusahaan menara lainnya seperti PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dan PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT).

Hingga kuartal III-2019, Tower Bersama berhasil mencatat pendapatan dan EBITDA masing-masing sebesar Rp 3,46 triliun dan Rp 2,95 triliun. Jika pencapaian kuartal III ini disetahunkan, maka total pendapatan dan EBITDA perseroan mencapai Rp 4,76 triliun dan Rp 4,06 triliun.

Per 30 September 2019, perseroan tercatat memiliki 27.789 penyewaan dan 15.485 site telekomunikasi. Site telekomunikasi milik perseroan terdiri atas 15.396 menara telekomunikasi dan 89 jaringan distributed antenna system (DAS). Dengan total penyewaan pada menara telekomunikasi sebanyak 27.700, maka rasio kolokasi perseroan menjadi 1,80.

CEO Tower Bersama Infrastructure Hardi Wijaya Liong mengatakan, perseroan mencapai pertumbuhan penyewaan organik tercepat yang pernah ada. Perseroan menambahkan 1.342 penyewaan kotor yang terdiri dari 196 site telekomunikasi dan 1.146 kolokasi.

“Hal ini membuat penambahan organik kotor sebanyak 2.578 penyewaan untuk sembilan bulan pertama tahun 2019. Kami berharap untuk melebihi target sepanjang tahun 2019 yang sebesar 3.000 penyewaan,” ujar dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN