Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Vale Indonesia. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Vale Indonesia. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Vale Matangkan Negosiasi dengan Inalum

Farid Firdaus, Rabu, 9 Oktober 2019 | 21:46 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) melakukan negosiasi mendalam terkait nilai divestasi 20% saham perseroan kepada PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) selaku holding BUMN Pertambangan. Kesepakatan ditargetkan terjadi dalam waktu dekat.

Deputy CEO Vale Indonesia Febriany Eddy mengatakan, perseroan sebenarnya sudah memiliki hasil perhitungan valuasi sendiri. Hasil perhitungan ini terdiri dari sejumlah pilihan, yang akan disodorkan kepada Inalum untuk kemudian didiskusikan.

“Hasil perhitungan itu sudah siap dari jauh-jauh hari. Tapi Inalum kan baru nerima surat penunjukkan tanggal 8 Oktober kemarin. Jadi proses negosiasi baru saja berlangsung,” jelas dia kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (9/10).

Seperti diketahui, awal pekan ini pemerintah secara resmi menentukan sikapnya terhadap penawaran pelepasan saham Vale melalui skema divestasi. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot mengatakan penugasan terhadap Inalum disampaikan oleh Kementerian ESDM kepada Kementerian Keuangan.

"Ada suratnya Pak Wamen (ESDM Arcandra Tahar) ke Menteri Keuangan (Sri Mulyani). (Isi suratnya) Kan menunjuk Inalum mengakuisisi Vale,” kata dia, baru-baru ini.

Semula, divestasi Vale ini berawal dari surat penawaran yang disampaikan kepada Menteri ESDM Ignasius Jonan pada akhir Maret kemarin. Namun di dalam surat tersebut hanya berisi pemberitahuan mengenai rencana divestasi, atau belum termasuk besaran nilai saham yang ditawarkan.

Bambang pun enggan membeberkan anggaran yang dibutuhkan untuk akuisisi saham Vale. Dia hanya menerangkan akuisisi Vale akan dilakukan secara business to business dengan Inalum.

Pada September lalu, manajemen Vale Indonesia  memboyong langsung Presiden dan CEO Vale SA Eduardo Bartolomeo beserta Executive Director Vale Base Metal Mark Travers untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara dan memaparkan sejumlah komitmen jangka panjang Vale di Tanah Air.

Ketika itu, CEO & Presiden Direktur Vale Indonesia Nicolas Kanter mengatakan, untuk divestasi ini, Presiden akan membantu untuk mempercepat prosesnya. “Belum disebutkan detail. tapi pak presiden dan menterinya bilang akan membantu mempercepat supaya kepastian mengenai divestasi bisa terjadi sehingga investasi kita bisa berjalan lebih cepat,” jelas Nico.

Ke depan, lanjut Nico, perseroan tetap berkomitmen untuk memproduksi feronikel dan high pressure acid leaching process (HPAL). Selain itu, smelter yang akan dibangun juga tidak jauh-jauh dari pengolahan nikel dan HPAL.

Sebagai informasi, kewajiban Vale untuk mendivestasi sahamnya sesuai dengan sesuai dengan PP Nomor 7 Tahun 2014.  Aturan tersebut mengalami revisi keempat melalui PP Nomor 1 Tahun 2017 yang menyebut seluruh perusahaan penanaman modal asing (PMA) wajib mendivestasikan sahamnya secara bertahap hingga 51% setelah lima tahun berproduksi.

Ekspansi Vale

Saat ini, Vale tengah menjajaki kerja sama dengan mitra baru asal Tiongkok untuk pembangunan pemurnian nikel atau smelter di Bahodopi, Sulawesi Tengah. Sebelumnya, Febrianny mengatakan, proses negosiasi dengan calon mitra untuk pembangunan smelter sudah pada tahap final.

Smelter di Bahodopi mitranya sudah ada, tapi belum bisa diumumkan, karena masih tahap final negoisasi, tak etis kalo saya jelaskan sekarang. Kalau nanti sudah selesai tanda tangan pasti kita umumkan bahkan kita undang ke Indonesia,” ungkapnya.

Negosiasi dengan perusahaan asal Tiongkok tersebut direncanakan tuntas akhir tahun ini. Menurut Febriany, jika negosiasi lancar, smelter Bahodopi dapat beroperasi tahun depan. “Nanti setelah selesai, kita proses financing, bisa langsung mulai, harapannya tahun depan sudah operasional,” imbuhnya.

Adapun smelter Bahodopi akan menggunakan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) namun dengan emisi yang lebih rendah. “Produksinya kan feronikel, teknologi RKEF harusnya sama dengan biasa yang disini, cuma memang kita pilih dengan standar yang tinggi jadi emisinya dengan chinese player lain memang paling rendah,” ujar dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA