Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama Waskita Karya, Destiawan Soerwardjono.

Direktur Utama Waskita Karya, Destiawan Soerwardjono.

Waskita Bidik Kontrak Rp 71 Triliun di Asia, Afrika, dan Timur Tengah

Kamis, 8 April 2021 | 22:39 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Waskita Karya Tbk (WSKT) mengincar perolehan kontrak dari pasar luar negeri sebesar Rp 71 triliun selama lima tahun ke depan. Sebanyak Rp 34 triliun diperkirakan berasal dari proyek-proyek infrastruktur di Asia Tenggara dan Selatan.

Direktur Utama Waskita Karya Destiawan Soewardjono mengatakan, melalui divisi usaha luar negeri, perseroan menghitung proyek-proyek potensial strategis apa saja yang bisa digarap selama periode lima tahun. Pihaknya memperkirakan proyek railways dan light rail transit (LRT), konstruksi jalan, serta pengembangan kawasan dan bandara di Asia Tenggara dan Selatan bisa bernilai Rp 34 triliun.

Selanjutnya, potensi pasar Timur Tengah diperkirakan sekitar Rp 20 triliun dari proyek bandara, gedung, pengembangan kawasan dan pipanisasi. Terakhir, potensi pasar Afrika bernilai Rp 17 triliun dari railways dan LRT, transmisi, pipanisasi, serta pengembangan kawasan.

“Setelah pandemi, kami harap banyak negara sudah kembali memulai aktivitas pembangunan infrastruktur. Kita bisa bekerjasama dengan BUMN lain di bidang yang berbeda dalam proyek luar negeri,” jelas dia saat webinar, Kamis (8/4).

Destiawan menambahkan, selain menguntungkan bagi perseroan, perolehan kontrak strategis dari luar negeri juga menyumbang ke pendapatan dan devisa negara. Sebagai informasi, Waskita memiliki rekam jejak dalam beberapa proyek di Timur Tengah. Semisal, King Faisal Specialist Hospital and Research Center di Jeddah, Arab Saudi yang digarap pada 2015. Perseroan juga membangun Deck Slab Elevated Road Bridges, King Abdul Azis International Airports di Jeddah pada 2013.

Di negara lain seperti Timor Leste, Waskita turut berpartisipasi dalam pembangunan beberapa proyek infrastruktur, yakni Bandara Suai Timor Leste yang digarap pada 2014, dan pembangunan jalan dan jembatan Oecusse pada tahun yang sama.

Sementara itu, setelah sangat agresif berinvestasi pada jalan tol dalam lima tahun terakhir, kini Waskita mengejar target divestasi 9 ruas jalan tol selama 2021. Aksi ini yang akan membantu mengurangi beban keuangan perseroan secara signifikan.

Dari target 9 ruas tol tersebut, kata Destiawan, satu ruas tol telah disepakati dengan investor, satu ruas masih dalam proses, dan tiga ruas tol akan didivestasi dengan skema share swap, dan empat sisanya tengah ditawarkan ke investor strategis.

“Tahun ini, Indonesia Investment Authority (INA) juga sudah berfungsi. Ada beberapa ruas sudah dibahas untuk diakusisi oleh INA. Kalau semua target divestasi ruas tol ini terjadi ini, maka ada pengurangan beban utang,” kata dia.

Tahun lalu merupakan tahun yang berat bagi Waskita lantaran rencana divestasi terhambat pandemi. Perseroan membukukan rugi bersih Rp 7,3 triliun pada 2020 dibandingkan laba bersih Rp 938,14 miliar pada 2019. Sedangkan beban keuangan perseroan membengkak menjadi Rp 4,74 triliun, dari sebelumnya Rp 3,62 triliun.

“Jadi, Waskita punya total utang Rp 90 triliun dan beban bunga tahun lalu naik, saat Covid-19 bunga pinjaman kami malah naik. Ini sangat berat,” kata Destiawan.

Direktur Keuangan Waskita Karya Taufik Hendra Kusuma menambahkan, jika divestasi sembilan ruas tol berjalan sesuai rencana, maka perseroan akan mampu menekan beban utang hingga Rp 20 triliun. Di luar ini, perseroan juga mengupayakan restrukturisasi pinjaman dengan pihak bank demi memperbaiki kinerja keuangan.

Seperti diketahui, Waskita melalui PT Waskita Toll Road (WTR) telah sepakat melakukan divestasi 30% saham di ruas tol Medan–Kualanamu-Tebing Tinggi kepada investor Road King Expressway (RKE) melalui anak perusahaannya, Kings Ring Limited (KRL). Kesepakatan divestasi ditandai dengan penandatanganan Conditional Sale Purchase Agreement (CSPA) pada awal Maret lalu.

RKE merupakan perusahaan asal Hongkong yang berpengalaman lebih dari 20 tahun menjadi investor jalan tol di Tiongkok. Melalui anak perusahaannya, RKE sepakat mengambil alih seluruh saham WTR di Jasamarga Kualanamu Tol (JMKT) sebesar 30% dengan transaksi senilai Rp 824 miliar. Dana tersebut dibayarkan secara bertahap setelah ditandatanganinya sales purchase agreement apabila seluruh dokumen dan legalitas telah dilengkapi.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN