Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu proyek PT Wijaya Karya Tbk atau Wika. Foto: Perseroan.

Salah satu proyek PT Wijaya Karya Tbk atau Wika. Foto: Perseroan.

Wika Siapkan Obligasi dan Sukuk Rp 5 Triliun

Rabu, 16 September 2020 | 12:34 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) merancang penawaran umum obligasi berkelanjutan dan sukuk senilai total Rp 5 triliun. Langkah ini merupakan bagian dari strategi perseroan dalam menghadapi global komodo bond senilai Rp 5,4 triliun yang akan jatuh tempo pada Januari 2021.

Penawaran obligasi dan sukuk akan diterbitkan secara bertahap mulai kuartal IV-2020. Besaran emisi dan para penjamin emisi obligasi tahap pertama akan diumumkan kemudian.

Direktur Utama Wijaya Karya Agung Budi Waskito mengatakan, perseroan menyiapkan sejumlah strategi untuk semakin memperkuat struktur arus kas. Selain penerbitan obligasi dan sukuk, perseroan juga memiliki komitmen bridging loan sebesar Rp 4 triliun. Fasilitas pinjaman tersebut berasal dari beberapa bank dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan swasta.

“Wika punya kapasitas yang kuat untuk terus beroperasi sekaligus memenuhi kewajibannya sekalipun mendapatkan tekanan akibat pandemi,” jelas Agung dalam keterangan resmi.

Hingga Juni 2020, Wika tercatat memiliki kas dan setara kas Rp 7,1 triliun. Perseroan juga telah menerima pencairan dana talangan tanah dari pemerintah senilai Rp 1,1 triliun.

Strategi Wika memperkuat struktur arus kas ini sekaligus merespons lembaga pemeringkat global, Fitch Ratings yang memangkas Peringkat Jangka Panjang Mata Uang Asing dan Mata Uang Lokal Issuer Default Rating (IDR) Wika, dari BB ke BB-. Outlook Wika oleh Fitch turut direvisi menjadi Watch Negatif.

Menurut Fitch, penurunan peringkat Wika disebabkan oleh kinerja kuartal II-2020 yang lebih lemah dibandingkan ekspektasi Fitch. Selain itu, faktor kapasitas Wika untuk refinancing pinjaman yang jatuh tempo, perlambatan industri konstruksi akibat pandemi, dan bergesernya prioritas pemerintah dari konstruksi ke pengendalian Covid-19.

Merespons hal tersebut, Agung menjelaskan, penyebab perubahan penilaian memang tidak bisa dilepaskan dari pandemi Covid-19 yang memberikan dampak secara global. Namun, perseroan meyakini kemampuan untuk menyelesaikan kewajiban terutama jangka pendek masih sangat cukup.

“Penurunan peringkat itu bukan sesuatu yang sifatnya absolut dan akan menghambat kinerja perseroan. Keduanya masih mencerminkan kemampuan keuangan perusahaan terhadap pemenuhan kewajibannya. Wika tetap akan menjaga rasio utang tetap sehat di level covenant,” terang Agung.

Pihaknya memandang, penilaian penurunan dari Fitch perlu disikapi dengan bijak, tanpa mengurangi sedikit pun optimisme perseroan pada semester II-2020.

Secara terpisah, Head of Fixed Income Research Department BNI Sekuritas Ariawan mengatakan, kebijakan pemerintah maupun kondisi makro ekonomi Indonesia masih sangat mendukung tren positif di pasar surat utang. Saat ini posisi inflasi yang rendah, nilai tukar rupiah yang stabil, dan suku bunga acuan Bank Indonesia yang rendah adalah faktor pendukung tren positif tersebut.

“Faktor-faktor ini menjaga tren yield yang relatif rendah di pasar surat utang Indonesia. Dengan demikian, cost of fund penerbitan obligasi korporasi juga akan rendah,” jelas Ariawan kepada Investor Daily.

Menurut dia, pada September hingga akhir tahun ini adalah momen yang tepat untuk menerbitkan obligasi karena faktor likuiditas yang cukup besar di pasar. Setidaknya terdapat obligasi korporasi yang akan jatuh tempo senilai Rp 36 triliun. Hal ini menjadi potensi permintaan terhadap obligasi yang baru. Sebab, dana yang diraih oleh investor dari obligasi jatuh tempo dapat kembali dinvestasikan lagi ke obligasi baru.

“Selain itu, dengan likuiditas investor domestik yang masih cukup besar, terutama likuiditas perbankan, maka hal ini bisa menambah potensi permintaan terhadap obligasi korporasi,” terang dia.

Proyek Wika

Wika optimistis meraih kinerja positif selama kuartal III-2020. Hingga September ini, terdapat 11 proyek strategis nasional yang tengah dilaksanakan pembangunannya oleh perseroan. Dari jumlah tersebut, sebanyak sembilan proyek memiliki progres pekerjaan di atas 50%.

Proyek-proyek yang telah mencapai progres lebih dari 50% itu adalah jalan tol Kunciran-Cengkareng, jalan tol Serang Panimbang, jalan tol Cisumdawu, Pelabuhan Patimban, Terminal Kijing, Bendungan Cipanas, Pengembangan Bandara Sultan Hasanuddin, hingga PLTU Sulsel Barru 1x100 megawatt.

Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan Wika Mahendra Vijaya mengatakan, optimisme perseroan di kuartal III-2020 didasari pada progres pekerjaan proyek strategis nasional yang masih sesuai rencana, aktifnya perseroan dalam mengejar tender proyek-proyek baru, dan masih tingginya perhatian pemerintah pada infrastruktur.

“Progres pekerjaan proyek Wika secara implisit menunjukkan bahwa di tengah digulirkannya fase adaptasi kebiasaan baru merespons pandemi global,” jelas dia dalam keterangan resmi, baru-baru ini.

Perseroan, lanjut Mahendra, tetap fokus menjalankan aktivitas operasinya. Perseroan berupaya menyelaraskan metode kerja, inovasi dan aktivitas operasi dengan situasi terkini secara konsisten dan prudent.

Selama semester II-2020, perseroan terus berencana mengikuti tender-tender proyek strategis di Tanah Air maupun mancanegara, antara lain proyek jalan tol, industrial estate, transportasi terpadu, bendungan, gedung, termasuk infrastruktur minyak dan gas.

“Wika memiliki rekam jejak yang kompetitif-efektif dalam menyelesaikan proyek-proyek strategis berskala mega, di dalam maupun luar negeri. Ini bisa menjadi modal yang baik bagi kami,” jelas Mahendra.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN