Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Penandatangangan Goree Tower Project dengan total nilai kontrak 50 juta euro antara Pemerintah Indonesia dengan Senegal. ( Foto: kemlu.go.id )

Penandatangangan Goree Tower Project dengan total nilai kontrak 50 juta euro antara Pemerintah Indonesia dengan Senegal. ( Foto: kemlu.go.id )

WIKA Tandatangani Kontrak Projek Goree Tower Tahap I Senilai 50 Juta Euro

Nabil Alfaruq, Selasa, 3 Desember 2019 | 13:35 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan L’Agence De Gestion Du Patrimoine Bati De L’Etat (AGPBE) menandatangani kontrak tahap pertama Goree Tower Project dengan nilai 50 juta euro. Sementara nilai kontrak keseluruhan untuk pengerjaan proyek Goree Tower yang berlokasi di Senegal, Afrika Barat itu mencapai 250 juta euro.

Proyek tersebut merupakan tindak lanjut konkret perjanjian bisnis antara pemerintah Senegal dengan perseroan dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank dalam acara Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue (IAID) di Bali, pada Agustus 2019.

“Kerja sama yang akan direalisasikan ini merupakan salah satu milestone kiprah BUMN Karya Indonesia di Afrika Barat, di mana WIKA memang mampu mengerjakan proyek mulai dari social housing di Afrika sampai proyek besar dan prestisius seperti Goree Tower Project ini,” ujar Direktur Operasi III yang membawahi Divisi Luar Negeri (perawakilan perseroan) Destiawan Soewardjono, pada Selasa (3/12).

Destiawan menambahkan, pasar luar negeri adalah potensi yang harus diimplementasikan. Masuknya perseroan di pasar infrastruktur dan gedung Afrika sesuai dengan strategi bisnis perseroan yang menyasar negara berkembang dengan kebutuhan yang tinggi.

Untuk pelaksanaan proyek, perseroan mendapat fasilitas pembiayaan National Interest Account (NIA) dengan skema Buyer’s Credit melalui LPEI. Peyaluran fasilitas tersebut sejalan dengan strategi pemerintah untuk memperluas ekspor Indonesia ke negara non-tradisional, termasuk Afrika.

Sedangkan Direktur Eksekutif LPEI Sinthya Roesly mengungkapkan keyakinan Internasional bahwa perusahaan Indonesia memiliki kemampuan untuk bersaing di pasar global.

Sinthya menambahkan bahwa kinerja ekspor perusahaan nasional sangat penting bagi peningkatan nilai neraca perdagangan, untuk itu diperlukan upaya dalam meningkatkan nilai ekspor baik dari sisi volume maupun pasar tujuan ekspor.

“Peran Pemerintah melalui LPEI untuk menyediakan pembiayaan khusus dapat menstimulus perusahaan Indonesia melakukan perdagangan (ekspor) ke negara-negara non tradisional,” ujarnya.

Lebih lanjut, menurut Destiawan bahwa tantangan ke depan adalah bagaimana sinergi yang telah terjalin baik dengan LPEI ke depannya dapat memfasilitasi perseroan dan perusahaan Indonesia lainnya untuk dapat memenuhi kapasitas pembiayaan infrastruktur negara-negara Afrika yang trennya semakin naik dari tahun ke tahun, terutama dengan adanya kepercayaan dari beberapa negara di Afrika untuk menjadikan BUMN Indonesia sebagai mitra strategis mereka.

“Apabila itu dapat terealisasi maka akan meningkatkan peluang untuk membuka pasar lebih luas lagi bagi WIKA dan perusahaan Indonesia lainnya dalam melakukan ekspansi ke sejumlah negara, khususnya di Wilayah Afrika” pungkas Destiawan.

Disisi lain, emiten berkode saham WIKA ini menargetkan pada 2020 akan menyasar ke-3 negara baru di Kawasan Afrika Barat dan Timur yakni Senegal, Pantai Gading, dan Zanzibar-Tanzania dengan rencana perolehan OK baru dari proyek luar negeri di tahun mendatang sebesar Rp 5,18 triliun.

Sebagai informasi, rencana proyek perseroan tersebut di Kawasan Afrika Barat yang dimulai pada 2020-2045 di sektor infrastruktur, energi, telekomunikasi, dan railway akan mencapai US$ 119,8 miliar. Hal tersebut adalah potensi besar bagi BUMN Indonesia untuk berpartisipasi aktif menjajaki proyek-proyek tersebut. (bil)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA