Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menara XL Axiata. (IST)

Menara XL Axiata. (IST)

XL Jajaki Akuisisi Operator Jaringan Fiber Optik

Farid Firdaus, Rabu, 12 Februari 2020 | 22:46 WIB

JAKARTA, investor.id – PT XL Axiata Tbk (EXCL) menjajaki akuisisi operator jaringan fiber optik ke rumah pelanggan atau fiber to the home (FTTH). Aksi ini merupakan upaya perseroan untuk meningkatkan pendapatan dari bisnis non-seluler.

Presiden Direktur & CEO XL Axiata Dian Siswarini mengatakan, perseroan tengah mencari peluang untuk mengembangkan bisnis FTTH secara anorganik. Lantaran bisnis ini sangat berbeda dengan bisnis seluler biasa, maka perseroan perlu menggandeng mitra strategis yang telah berkecimpung lama.

Tahun ini, perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) Rp 7,5 triliun. Jika terdapat aksi akuisisi tahun ini, maka sumber dananya di luar anggaran capex. “Selain melihat peluang merger dan akuisisi (M&A), kami juga berbicara dengan sejumlah partner yang bergerak di FTHH untuk diajak kerjasama. Tapi saya belum bisa ungkap detail siapa perusahaan tersebut,” jelas dia di Jakarta, Rabu (12/2).

Saat ini, XL memiliki sekitar 250 ribu homepass pada 11 kota yang mayoritas tersebar di pulau Jawa dan sekitarnya. Perseron juga terus melebarkan ekspansi pembangunan homepass di luar Jawa lantaran penetrasi layanan internet berkecepatan tinggi yang menjanjikan.

Menurut Dian, saat ini kontribusi bisnis homepass terhadap pendapatan perseroan masih terbilang kecil. Namun, tingkat penetrasi pelanggan layanan homepass dengan merek XL Home punya potensi terus tumbuh di masa mendatang.

Sementara itu, pada bisnis seluler, XL berusaha untuk menghindari strategi perang tarif atau penawaran berbagai paket data tanpa batas (unlimited) kepada pelanggan.

Dian menegaskan, perseroan fokus pada penguatan jaringan terutama di area prioritas dengan potensi pengembalian investasi yang cepat. Pengeluaran pada capex diharapkan menghasilkan pengembalian modal dalam waktu tiga hingga empat tahun.

“Kami melihat industri telekomunikasi berangsur-angsur akan pulih pada 2020. Tingkat pertumbuhan pendapatan bisa pada level mid single digit, dan XL akan mengikuti pertumbuhan tersebut,” jelas dia.

Tahun lalu, XL tercatat berhasil mengalami pertumbuhan pendapatan hingga 9%, yang berarti di atas rata-rata pertumbuhan industri operator telekomunikasi. Sedangkan dari sisi margin EBITDA, perseroan berupaya mempertahankannya pada level di bawah 40% pada tahun ini, dibandingkan marjin EBITDA 2019 yang sebesar 39%.

Pada kesempatan sama, Plt Chief Technology Officer XL Axiata, I Gede Dharmayusa menjelaskan, untuk menopang target pertumbuhan 2020, pihaknya terus melanjutkan pengembangan jaringan 4G. Sesuai rencana, 80% dari total capex akan diserap untuk pengembangan 4G termasuk penambahan site telekomunikasi base transceiver station (BTS). Sedangkan 20% sisanya untuk modernisasi perangkat jaringan.

Per akhir tahun lalu, XL telah memiliki lebih dari 130 ribu BTS. Dari situ, sebanyak lebih dari 40 ribu merupakan BTS 4G yang kini tersedia pada 425 kota. “Kami terus lanjutkan konversi BTS 3G ke 4G tahun ini. Saat ini, di wilayah Jawa saja, 90% sudah LTE. Tahun 2020, kami menargetkan 4G everywhere atau setidaknya mencakup 95% populasi pelanggan XL,” pungkas dia.

Kaji Refinancing

Transaksi penjualan 2.782 menara XL senilai Rp 4,05 triliun kepada PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) dan PT Centratama Menara Indonesia diperkirakan membuat profil likuiditas XL kian membaik tahun ini.

Direktur Keuangan XL Axiata Mohamed Adlan mengatakan, kas yang akan masuk dari penjualan menara akan dimanfaatkan untuk pendanaan capex serta modal kerja. Neraca keuangan perseroan juga terbilang kuat dengan rasio net debt to EBITDA akhir tahun lalu pada level 1,1 kali.

Untuk itu, lanjut Adlan, perseroan masih mengandalkan kas internal ataupun mencari alternatif dari penerbitan obligasi baru maupun pinjaman bank untuk melunasi utang jatuh tempo tahun ini yang sebanyak Rp 5 triliun. Hingga April saja, XL punya obligasi dan sukuk jatuh tempo sekitar Rp 1,06 triliun.

“Untuk ini, kita bisa menggunakan dana internal. Sedangkan yang jatuh tempo di kuartal berikutnya bisa dengan kas internal lagi atau refinancing,” kata Adlan.

Sebagai informasi, perseroan masih memiliki sisa plafon obligasi Rp 3,36 triliun dari program Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) I. Perseroan sebelumnya menerbitkan tahap satu senilai Rp 1 triliun pada 2018 dan tahap dua senilai Rp 634 miliar pada 2019.

Selain itu, XL turut mengantongi sisa plafon penerbitan sukuk senilai Rp 3,36 triliun dari program Sukuk Ijarah Berkelanjutan II. Perseroan tercatat telah menerbitkan tahap satu Rp 1 triliun pada 2018, dan tahap dua Rp 640 miliar pada 2019.

Sementara itu, Samuel Sekuritas Indonesia menilai, rencana XL melepas menara yang tidak stategis akan memberi tambahan kemampuan ekspansi. Samuel Sekuritas merekomendasikan buy dengan target harga Rp 3.900 yang merefleksikan proyeksi EV/EBITDA 2020 sebesar 5,9 kali.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA