Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 Managing Partner (CEO) Daya Qarsa, Apung Sumengkar. ( Foto: Istimewa )

Managing Partner (CEO) Daya Qarsa, Apung Sumengkar. ( Foto: Istimewa )

UMKM Jakarta dan Surabaya Perlu Menerapkan Digitalisasi

Kamis, 7 Oktober 2021 | 13:40 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Daya Qarsa pada Agustus 2020 terdapat 550 UMKM aktif di Jakarta dan Surabaya yang mengalami dua jenis kendala dalam mencapai kinerja optimal sehingga perlu menerapkan digitalisasi.

Perusahaan konsultan transformasi strategis itu merilis riset berjudul “Mendorong Produktivitas Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Melalui Digitalisasi," yang mengklasifikasikan hambatan UMKM ke dalam dua jenis, yaitu pertama, adalah hambatan manajerial di mana hambatan muncul dari proses pengoperasian dan perencanaan bisnis, seperti hambatan dalam manajemen sumber daya manusia, pengoperasian bisnis, keuangan/pendanaan, serta pemasaran dan penjualan. Kedua, adalah hambatan non-manajerial, di mana hambatan dipengaruhi oleh faktor motivasi, tujuan bisnis dan keterampilan sumber daya manusia, di mana lebih didominasi oleh usaha mikro dan kecil.

“Kami mengidentifikasi hambatan bisnis UMKM dan hampir semua tantangan yang kami identifikasi dapat diselesaikan melalui digitalisasi. Karena itu, sektor UMKM perlu menjalankan proses penggunaan teknologi untuk meningkatkan pendapatan, meningkatkan bisnis, dan menciptakan budaya digital dengan informasi digital sebagai inti,” ujar Managing Partner (CEO) Daya Qarsa, Apung Sumengkar dalam siaran pers, Rabu (6/10).

Penelitian Daya Qarsa juga mengungkap soal tantangan pertama UMKM mengenai pendanaan. Disebutkan dalam laporan bahwa 52% UMKM masih menggunakan modal usaha sendiri dan 1% UMKM menggunakan pinjaman online. Sedangkan 32% UMKM mengalami kesulitan dalam mencari pembiayaan dengan suku bunga rendah, 28% mengalami kesulitan dengan persyaratan agunan, 25% dengan proses pendaftaran yang rumit, 5% menemukan jumlah pembiayaan yang cukup, dan 1% menemukan pembiayaan syariah.

Selain itu, masalah pendanaan termasuk dalam proses pencarian pembiayaan, seperti modal kerja, gaji karyawan, dan tujuan pendanaan lain yang berhubungan dengan bisnis.

“Hambatan UMKM dapat dilakukan dengan mengoptimalkan teknologi atau digital financing melalui P2P Lending, equity crowdfunding, atau supply chain financing. Kebutuhan pendanaan UMKM cenderung variatif sehingga perlu menyesuaikan penyedia layanan keuangan yang ada. Saat ini, di Indonesia terdapat banyak penyedia pembiayaan digital yang tersedia di pasar, ada yang hanya termasuk dalam satu kategori, tetapi banyak juga yang termasuk dalam beberapa kategori. Untuk pendanaan skala kecil, UMKM dapat memilih layanan pinjaman konsumtif, sedangkan untuk pendanaan skala besar UMKM dapat memilih pinjaman P2P lending atau equity crowdfunding,” demikian penjelasan Apung.

Dia menambahkan, walaupun satu UMKM mungkin tidak memiliki tenaga kerja dengan jumlah sangat tinggi, UMKM juga merasakan tantangan dalam manajemen tenaga kerja, seperti manajemen penggajian, tunjangan, dan melacak kinerja karyawan.

Solusi Digital

Tercatat 30% pelaku UMKM kesulitan dalam mengelola data karyawan, 25% kesulitan mengelola penggajian, 22% kesulitan yang disebabkan oleh sistem absensi konvensional, 18% memiliki sistem absensi yang rawan manipulasi, dan 4% lainnya termasuk pendisiplinan karyawan dan kesulitan membuat keputusan karena tidak memiliki analisis yang cukup tentang karyawannya. Salah satu solusi digital yang tersedia untuk membantu pengelolaan tenaga kerja UMKM adalah melalui HR Software. Yang mana fitur di dalamnya dapat memudahkan UMKM mengelola tenaga kerja mereka dengan cara yang lebih terorganisir dan otomatis.

Ada pun tantangan yang dirasakan UMKM selanjutnya adalah proses perencanaan bisnis, di mana 37% UMKM mengalami kesalahan perhitungan, 30% kesulitan dalam melacak inventaris, 25% dalam mengelola berbagai kategori barang, dan 8% dalam melacak kurir. Tantangan ini terjadi karena hanya 14% bisnis UMKM yang sudah menggunakan sistem digital ERP, sedangkan selebihnya masih menggunakan cara manual atau software Excel. Padahal solusi digital, seperti ERP menggunakan otomatisasi dan mengumpulkan data ke dalam suatu database terpusat sehingga dapat mempercepat pekerjaan.

Di samping itu, administrasi bisnis sehari-hari, seperti pelacakan penjualan, faktur, pembayaran, dan pembukuan transaksi juga menjadi tantangan UMKM karena 71% UMKM masih menggunakan cara manual.

Namun hambatan yang paling sering dihadapi adalah 52% mengalami salah perhitungan, 24% komplikasi karena perbedaan bank atau cara pembayaran, 20% keterlambatan pembayaran tagihan, dan 3% dokumen tercecer maupun hilang. UMKM dapat memanfaatkan Software Akuntansi, e-Faktur, dan Aplikasi Pajak sebagai solusi digital untuk mengatasi permasalahan tersebut. Untuk memungkinkan transaksi yang lebih cepat dan nyaman, Sistem Point of Sale (POS), Payment Gateway, dan Sistem Pembayaran Digital juga dapat digunakan.

Terakhir adalah pemasaran dan penjualan yang meliputi proses mempromosikan, menjual, dan mendistribusikan barang atau jasa. Daya Qarsa menemukan bahwa tantangan bisnis UMKM ini dapat diatasi dengan menggunakan e-commerce, di mana model bisnisnya memungkinkan pelaku bisnis dan individu membeli dan menjual barang melalui internet. Hal ini dapat dijalankan, baik melalui situs web individu atau e-commerce pihak ketiga maupun keduanya.

“Tidak hanya mengeksplorasi permasalahan bisnis yang dihadapi UMKM, kami juga melakukan pemetaan potensi solusi digital yang ada di pasar untuk membantu UMKM di Indonesia memecahkan masalah produktivitas mereka. Kami berharap UMKM dapat semakin cepat memanfaatkan digitalisasi dan dapat tumbuh di tengah persaingan usaha di sektor UMKM yang tinggi terlebih di masa pandemi,” ungkap Apung.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN