Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
CEO & Co-Founder Akseleran Ivan Nikolas Tambunan

CEO & Co-Founder Akseleran Ivan Nikolas Tambunan

Akseleran Pertimbangkan Klausul “Write Off”

Fajar Widhiyanto, Sabtu, 18 Januari 2020 | 20:37 WIB

PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia (Akseleran), penyedia layanan peer to peer lending domestik tengah mempertimbangkan untuk memasukkan klausul write off atau hapus buku untuk kategori utang tertentu yang tak lagi mampu di-collect atau default.

Langkah write off merupakan upaya yang lazim dilakukan industri perbankan demi memperbaiki kinerja keuangannya dan menekan tingkat kredit bermasalah (non performing loans/NPL). Berbeda dengan fintech peer to peer lending, yang merupakan market place penghubung para pemilik dana atau lender dengan calon debitur. Pada fintech P2P lending, potensi default pada debitur dinilai sebagai bagian dari konsekuensi dalam investasi.

Untuk itu, langkah write off di Akseleran, kata Chief Executive Officer Ivan Nikolas Tambunan, akan dilakukan atas persetujuan dari si lender atau investor. “Di tahun ini, Akseleran akan memasukkan klausul untuk write off dana yang dikucurkan pada debitur, namun langkah ini tentunya harus atas persetujuan investor atau lender,” ujar Ivan di Jakarta dalam kesempatan Konferensi Pers Awal Tahun 2020 di Jakarta beberapa waktu lalu (15/1).

Diakui Ivan, Akseleran sempat mengalami peningkatan level NPL pada semester II/2019, yang sempat menyentuh angka 1,1% di September 2019. Buat P2P lending seperti Akseleran, level tertinggi NPL dipatok pada angka 1%, sehingga saat itu perusahaan pun harus segera melakukan langkah bersih-bersih terhadap sejumlah kredit bermasalah.

Saat itu sejumlah bisnis UKM yang mendapatkan kucuran pembiayaan dari Akseleran mulai menunjukkan keterlambatan pembayaran. “Saat itu kami meningkatkan upaya collecting, dan membantu debitur agar mereka bisa mendapatkan cash flow, atau misalnya menjual aset,” kata Ivan. Langkah beres-beres itu pun mampu menekan tingkat NPL menjadi 0,7% di akhir tahun 2019.

Imbasnya pada kinerja Akseleran, tahun 2019 perusahaan gagal mencapai target alokasi kredit yang sebelumnya ditetapkan sebesar Rp1,2 triliun, diturunkan menjadi Rp1 triliun. Itupun realisasi kucuran kredit pada tahun 2019 tercatat hanya mencapai Rp766 miliar. Namun demikian aksi bersih-bersih yang berhasil dilakukan perusahaan, memudahkan Akseleran untuk mengejar target kredit yang lebih baik di 2020.

“Kami sudah berhasil bersih-bersih kredit bermasalah di tahun 2019, sehingga kami bisa optimistis menetapkan target kredit di tahun 2020 naik dua kali lipat lebih, menjadi Rp2 triliun,” kata Ivan.

Imbas dari tingginya NPL di semester II/2019, Akseleran pun memutuskan untuk menghentikan sementara kucuran kredit pada beberapa bisnis, utamanya bisnis properti seperti perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan bisnis berbasis outsourcing.

Demi menekan potensi kerugian lebih besar dari investor jika terjadi default, kredit pada Akseleran sudah dijaminkan pada perusahaan asuransi, yakni ASEI atau Re Indonesia. Investor masih akan mendapatkan dananya kembali jika terjadi default, sebesar 80%. “Dan tahun ini kami tengah mengupayakan agar investor bisa mendapatkan lebih besar lagi dananya, misalnya 90% atau bahkan kalau bisa 100%. kami tengah menegosiasikan dengan pihak insurance,” ujar Ivan.

Bicara prospek industri yang masih layak untuk mendapatkan kucuran pendanaan di tahun 2020, Ivan masih menyebut sektor konstruksi dan infrastruktur, serta bisnis migas. Sejauh ini porsi alokasi kredit untuk sektor konstruksi mencapai 25% dari total pendanaan, dan sebesar 20% untuk bisnis migas.

Perlu diketahui, Akseleran tidak membiayai langsung industri atau bisnis proyek konstruksi atau migas. Akseleran memberikan pendanaan pada usaha tier dua atau tier tiga dari bisnis konstruksi serta infrastruktur, dan migas. Ivan menyebut misalnya bisnis pengadaan bahan baku konstruksi seperti pasir, semen dan batu yang telah memiliki invoice.

Akseleran memang P2P lending yang khusus memberikan pendanaan pada usaha-usaha kecil dan menengah berbasis kontrak, invoice, purchase order (PO) dan Surat Perintah Kerja atau Surat Perjanjian Kerja (SPK). Namun demikian Akseleran juga bersiap memberikan pendanaan bagi kebutuhan konsumer para nasabah yang tidak terlayani oleh lembaga pembiayaan lain seperti multifinance dan bank.

Di tahun ini Akseleran akan melansir produk employee loan, lewat kerja sama dengan perusahaan-perusahaan pemberi kerja. Sama halnya dengan payroll loan, produk konsumer ini dinilai jauh lebih aman untuk kelangsungan bisnis Akseleran di segmen konsumer, karena ada semacam jaminan dari si pemberi kerja. Tingkat kemampuan pembayaran pun sudah bisa diketahui sebelum kredit disetujui.

 

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA