Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Muliadi Jeo, Chief Technical Officer Sirclo yang sebelumnya merupakan Co founder dan Managing Director ICUBE.

Muliadi Jeo, Chief Technical Officer Sirclo yang sebelumnya merupakan Co founder dan Managing Director ICUBE.

Merger SIRCLO dan ICUBE

Bisa Duduki Posisi “e-Commerce Enabler” Teratas

Kamis, 23 Juli 2020 | 12:25 WIB
Fajar Widhiyanto

Tanggal 9 Juni 2020 lalu menjadi penanda lahirnya bakal pemain e-commerce enabler domestik kampiun, setelah ICUBE selaku penyedia solusi teknologi e-commerce prominen yang telah melayani bisnis ritel selama dua dekade, sepakat merger dengan SIRCLO.

Bergabungnya dua pemain di e-commerce ini dipercaya telah melahirkan entitas bisnis yang mampu membantu lebih banyak UMKM dan brand berskala besar domestik, untuk bertransformasi secara digital dengan efektif dan efisien di ranah e-commerce.

Muliadi Jeo, founder dan managing director ICUBE yang kini didapuk menjadi Chief Technical Officer Sirclo mengungkapkan, merger telah memperluas spektrum solusi yang bisa ditawarkan Sirclo. Bukanlah sosok baru di dunia e-commerce, sejauh ini Muliadi Jeo kadung dikenal sebagai pemain berskala multinasional selama lebih dari dua puluh tahun. Ia memulai bisnisnya sejak tahun 2000 awal di Amerika Serikat, di saat e-commerce masih berada pada tahap pengembangan.

Muliadi juga sempat menjadi technical director di Guidance Solutions di tahun 2006 – 2013. Sekedar informasi saja, Guidance Solutions adalah perusahaan pengembang situs berbasis di California AS, yang “bertanggung jawab” atas suksesnya penjualan online sejumlah brand ritel tenar seperti Burlington Coat Factory dan Foot Locker.

Pria penyuka tiupan saksofon Dave Koz ini juga tercatat pernah menjabat sebagai Chief Technology Officer (CTO) di beberapa perusahaan, sebut saja Bobobobo selama tahun 2012 hingga 2013, lalu di Shopdeca Global di tahun 2013 hingga 2014, dan di PT VIP Plaza di tahun 2014 hingga 2016.

9 Juni 2020, perusahaan e-commerce enabler SIRCLO merger dengan ICUBE, sebuah agensi penyedia solusi teknologi e-commerce. Tampak CEO dan Founder SIRCLO, Brian Marshal (kiri tengah)  dan Muliadi Jeo, founder dan managing director ICUBE yang kini menjabat sebagai Chief Technical Officer Sriclo (kanan tengah), didampingi Chief Product Officer (CPO) Leontius Adhika Pradhana dan Managing director ICUBE Yuni Sucipto.
9 Juni 2020, perusahaan e-commerce enabler SIRCLO merger dengan ICUBE, sebuah agensi penyedia solusi teknologi e-commerce. Tampak CEO dan Founder SIRCLO, Brian Marshal (kiri tengah) dan Muliadi Jeo, founder dan managing director ICUBE yang kini menjabat sebagai Chief Technical Officer Sriclo (kanan tengah), didampingi Chief Product Officer (CPO) Leontius Adhika Pradhana dan Managing director ICUBE Yuni Sucipto.

Meleburnya ICUBE ke dalam Sirclo, kata Muliadi, sekaligus membawa sejumlah klien brand-brand besar yang selama ini dilayani ICUBE. Merger juga ikut menguntungkan para klien, karena mereka kini dimudahkan untuk mendapatkan layanan dan jasa e-commerce dari satu tempat yang sama, atau cross selling pada produk eksisting yang disediakan Sirclo.

“Karena ICUBE under Sirclo, otomatis semua klien tergabung dalam keluarga Sirclo. Sekarang pun ada klien yang mengambil produk ICUBE sekaligus Sirclo,” ujar Muliadi dalam kesempatan wawancara secara webinar dengan Majalah Investor (17/7). Bahkan kolaborasi dengan beberapa brand justru terealisasi ketika ICUBE memutuskan bergabung dengan Sirclo. Cross selling adalah salah satu alasan kolaborasi tadi terjadi.

Muliadi menyebut brand perlengkapan outdoor Eiger. Sejatinya percakapan untuk kolaborasi dengan Eiger sudah tejadi sebelum merging. “Tapi merging justru malah membuat solid kolaborasi tadi, ICUBE di brand Eiger mengolah e-commerce brand dotcom technology-nya, dan Sirclo Commerce yang membantu mereka me-manage order. Dari sisi brand mereka dapat kelengkapan, both technology brand dotcom mereka dapat dari ICUBE, dan jasa end to end Sirclo Commerce dipakai mereka untuk ekspansi di marketplace,” terang peraih sertifikat Magento 2 Certified Solution Specialist ini.

Selain itu, salah satu brand dari grup Transmarco, yakni Hush Puppies dan 9to9, selama ini telah menjadikan ICUBE sebagai technology partner mereka yang membantu pengembangan e-commerce mereka lewat produk ICUBE dan SWIFT. Saat ini kedua brand tersebut telah bisa terkoneksi dengan layanan teknologi lainnya dari Sirclo yang membuat mereka bisa mengolah market based. Dengan produk eksisting dari dua entitas yang melebur ini, ditambah koneksi, serta komplimentari teknologi, maka merchant bisa bergerak lebih efisien dalam mengelola teknologinya.

 

Gabungkan Layanan plus “Engineer”

Dengan merger antara ICUBE dan Sirclo, produk yang ditawarkan perusahaan pun semakin lengkap. Yakni Sirclo Store sebagai solusi e-commerce untuk UKM, lalu Sirclo Commerce untuk end to end enabler business, berikutnya Sicrlo Chat sebuah platform interaktif admin chat untuk mengubah percakapan pelanggan menjadi transaksi. Lalu Sirclo Connexi sebuah dashboard terintegrasi dengan API marketplace untuk pengelolaan inventori dan pesanan.

“Nah, ICUBE melengkapi produk Sirclo dengan nama ICUBE sebagai jasa custom platform e commerce services consulting, serta platform omni channel untuk mid size brand dengan nama SWIFT,” kata pemegang gelar Bachelor of Management Information of System dari California State University, Fullerton ini.

Kehadiran ICUBE juga dipercaya akan membantu Sirclo untuk meningkatkan Gross Merchandise Value (GMV), yang ditargetkan mencapai Rp 1 triliun tahun ini. “Setidaknya lewat produk SWIFT, kami bisa ikut membantu Sirclo mencapai target GMV Rp 1 triliun,” ujarnya.

Kendati menolak menyebut nilai merger, serta kapitalisasi Sirclo pasca merger, Muliadi menyatakan hal terpenting yang didapat adalah bertambahnya engineer dan programmer andal di Sirclo. “ICUBE punya hampir 120 engineer, digabung menjadi hampir 200 orang. Ini akan menjadi akselerasi yang kuat buat perusahaan, dan konsolidasi kekuatan teknologi,” imbuhnya.

Ia juga meyakini produk ICUBE by Sirclo akan ikut membantu meningkatkan revenue bagi perusahaan. Sebelum bergabung, kata Muliadi, ICUBE selalu mencetak pertumbuhan pendapatan dua kali lipat tiap tahunnya. Sejumlah brand besar seperti PT Kawan Lama Sejahtera dan Transmarco telah lama mempercayakan pengembangan teknologi e-commerce pada ICUBE, yang kini telah berada di bawah payung Sirclo.

Sebelum bergabung dengan Sirclo, ICUBE telah melayani 70 klien aktif, dalam arti klien yang masih menerima services atau layanan dari ICUBE sampai saat ini. Sementara sejak membuka layanan tahun 2012, ICUBE sudah melayani sekitar 200 klien. “Sementara Sirclo sendiri sudah melayani 1.000 brand lebih. Which is quiet significant,” ujar pria yang pandai memainkan instrumen piano ini.

Dari PT Kawan Lama Sejahtera yang memiliki multiple brand, ICUBE menangani brand Krisbow. Sementara dengan PT Transmarco, sejumlah brand yang ditangani antara lain 9to9, Obermain, dan Hush Puppies. Lainnya boleh juga disebut L'Occitane, Elemis, Venchi, Erha Store, Nutrimart, Royal Canin, Mitra10, dan Lotte Mart.

Sementara itu, Sirclo telah menangani solusi e-commerce lebih dari 1.000 klien dan brand untuk mengembangkan bisnisnya secara online, baik melalui SIRCLO Store maupun SIRCLO Commerce (channel management solution). Beberapa portfolio SIRCLO antara lain This Is April, Unilever, Reckitt Benckiser, Beiersdorf, L'Oréal (Group), Eigerindo dan Levi's.

“Jadi brand yang kita bawa saja sudah besar sekali. Sirclo juga sudah punya brand yang lumayan kuat. Klien yang ada pada kita sudah menjadi semacam testimoni kemampuan kami. Sehingga nanti jika ingin e-commerce, ya ingatnya Sirclo,” paparnya.

Dalam kesempatan berbeda, CEO dan founder Sirclo, Brian Marshal mengemukakan, sebagai e-commerce enabler terdepan di Indonesia, SIRCLO ingin terus memberikan layanan dan solusi terbaik bagi brand untuk mengembangkan bisnis secara online. “Kami selalu terbuka pada kesempatan untuk meningkatkan kemampuan kami. Saat melihat potensi untuk merger dengan ICUBE, kami semakin yakin bisa menjalankan misi ini dalam skala yang lebih besar dan komprehensif melalui gabungan kekuatan kedua perusahaan,” ujar Brian Marshal.

 

"Blessing in Disguise" Pandemi

Bicara soal potensi pengembangan bisnis di tengah pandemi yang membatasi aktivitas dan mobilitas publik untuk melakukan spending, Muliadi menyebut krisis akibat pandemi merupakan blessing in disguise, alias berkah tersembunyi buat industri e-commerce Tanah Air.

Ia membandingkan perkembangan industri teknologi informasi yang menopang layanan e-commerce yang telah berkembang mapan di Amerika Serikat. Saat ia masih berada di negeri Paman Sam tersebut, sejatinya e-commerce juga baru mengalami perkembangan pesat. Yang mendukung kencangnya akselerasi masyarakat di Amerika Serikat masuk ke ranah industri online, adalah kesiapan mereka yang lebih baik dibanding masyarakat Asia, termasuk Indonesia.

Sebelum layanan perdagangan online muncul, kata Muliadi, di AS sudah beredar katalog produk yang dikirimkan ke rumah-rumah, yang memungkinkan publik untuk menelepon atau mengirimkan faksimili untuk pemesanan barang ke merchant.

“Jadi saat masuk ke online, mereka seperti tinggal ganti media saja. Dari fisik katalog menjadi internet sebagai media. Jadi transisinya lebih siap. Apalagi infrastrukturnya sudah bagus. Logistik dari ujung ke ujung sudah terjangkau harganya. Pembayaran juga sudah menggunakan kartu kredit, penyebaran kartu kredit sangat besar di AS,” kata Muliadi.

Ia juga bercerita, CEO Foot Locker pernah mengeluhkan sulitnya menjual satu pasang sepatu. Tapi sekarang kendati mereka harus tutup sejumlah store nya akibat pandemi, toko online-nya merupakan salah satu yang masih profitable di bisnis ritel Paman Sam.

Sementara itu industri berbasis e-commerce di Indonesia diistilahkan Muliadi masih berada tahap infancy, atau periode balita. “Semuanya masih baru, sistem payment, logistik. Tapi saat 10 tahun lalu saya kembali ke Indonesia dengan sekarang sudah sangat jauh sekali bedanya. Karena akselerasi teknologinya sangat cepat,” katanya.

Nah pandemi yang membatasi publik untuk beraktivitas di luar rumah, demi mencegah penularan virus, telah mengubah kultur masyarakat Indonesia. Awalnya alasan publik memilih belanja secara online adalah mencari harga yang lebih murah. Namun saat ini, berdasarkan survey yang dilakukan Sirclo, faktor kenyamanan dan kemudahan mencari barang telah sama tingginya dengan alasan mencari harga murah.

Jika demikian, maka belanja online bisa berkembang menjadi lifestyle, dan bukan sekedar alasan harga. “Dan ini akan menjadi pivot yang sangat penting. Pandemi telah menjadi akselerator, untuk mengadopsi online business,” kata Muliadi.

Pandemi juga telah memaksa korporasi untuk masuk dan mencoba channel distribusi online. Setahun lalu mungkin masih ada pelaku usaha yang beranggapan bahwa minimnya kontribusi penjualan lewat e-commerce, masih memungkinkan mereka menunda pengembangan jalur distribusi online untuk produk mereka. Dengan adanya pandemi, mereka kini tak punya pilihan, kecuali ikut mengembangkan layanan distribusi tersebut. “Jadi agar bisnis bisa bertahan, mereka harus punya strategi online yang baik. Ini bukan pilihan lagi, ini setengah dipaksa.”

Maka Muliadi pun memprediksi, Indonesia bisa melakukan leap frog dalam waktu 5 -7 tahun untuk menyusul kemajuan negara-negara adidaya di layanan e-commerce. Dan kondisi ini ikut membuka lebar potensi perkembangan bisnis jasa pengembangan e-commerce di masa yang akan datang.

 

 

Editor : Fajar Widhi (fajar_widhi@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN