Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
LPEI Buka Coaching Clinic di Trade Expo Indonesia

LPEI Buka Coaching Clinic di Trade Expo Indonesia

LPEI Dukung 'Startup' Lokal Tembus Pasar Ekspor

Selasa, 17 November 2020 | 10:07 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA - Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) menegaskan akan terus memberi dukungan penuh bagi siapapun yang ingin menjadi eksportir, baik individu maupun pelaku usaha, tidak terkecuali perusahaan rintisan (startup) lokal.

Sebagai Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan yang berdiri berdasarkan UU No 2 Tahun 2009, dan bersifat sovereign, LPEI berkomitmen untuk terus memberikan pelatihan pendampingan bagi pelaku usaha, termasuk usaha kecil dan menengah (UKM) di berbagai daerah.

"LPEI akan membantu siapapun yang ingin menjadi eksportir. Dalam kerangka bisnis milenial, LPEI mendorong startup menjadi UKM yang stabil hingga menjadi pengusaha yang berorientasi ekspor," ujar Direktur Pelaksana II LPEI Djoko Retnadi dalam keterangannya, Selasa (17/11).

Djoko mengatakan, LPEI sebagai SMV memiliki tugas antara lain memberi pembiayaan baik di luar negeri, dalam negeri, penjaminan, asuransi, dan jasa konsultasi.

Salah satu program jasa konsultasi yang dimiliki LPEI yakni Coaching Program for New Exporters (CPNE) yang merupakan program pemberian pelatihan bagi calon eksportir mengenai kegiatan ekspor secara keseluruhan. Mulai penjelasan tentang bisnis ekspor, mendampingi hingga bisa ekspor secara langsung atau mandiri.

"Jasa konsultasi sejak 2015 hingga September 2020 sudah menciptakan 59 eksportir baru, membantu 240 usaha menengah berorientasi ekspor untuk masuk global marketplace, meningkatkan capacity building dalam bentuk program desa devisa, termasuk membantu 17 community development," ucap Djoko.

Tahap berikutnya, program CPNE LPEI akan diselenggarakan secara virtual berupa kursus untuk calon eksportir baru, pelatihan ekspor tematik, melakukan pertemuan daring bagi alumni CPNE dan pelatihan ekspor rutin. Diharapkan dengan digitalisasi CPNE, LPEI dapat menjangkau peserta hingga seluruh wilayah Indonesia.

Selain itu program jasa konsultasi LPEI juga melakukan program Marketing Handholding (MH) yang memberikan pendampingan intensif untuk pemasaran produk UKM mitra binaan LPEI guna membuka pasar luar negeri dan meningkatkan nilai ekspor.

Program ini pun sudah berhasil dimana pada tahap pertama program MH pada tahap pertama, terdapat 44 UKM klaster rempah-rempah, buah dan sayur, serta kelapa dan turunannya. Adapun, produk tersebut ditawarkan melalui marketplace seperti Alibaba.com.

Selanjutnya pada program MH tahap dua, sudah terdapat 20 UKM klaster handicraft dan furniture, juga dipasarkan di marketplace Alibaba.com. Pada program MH tahap ketiga, ada 30 UKM klaster kopi, teh, coklat, makanan dan minuman dengan marketplace Tradekey.com.

Untuk memudahkan para calon eksportir dalam melihat peluang pasar di luar negeri dan sebagai bagian dari promosi ke luar negeri, LPEI telah membuat e-katalog mitra binaan orientasi ekspor. E-katalog 2018 sudah berisi 130 mitra binaan. Untuk 2019 dan 2020 masih dilakukan inventarisasi.

"LPEI terbuka dan siap mendukung individu, usaha kecil menengah, untuk menjadi pengusaha yang mampu menembus pasar ekspor. Karena menjadi entrepreneur lebih baik daripada menjadi pegawai," jelas Djoko.

Pada saat yang bersamaan, Firmansyah, pemilik Klinik Kopi Yogyakarta menambahkan, bagi mereka yang baru merintis usaha, harus memiliki prinsip bisa memberikan hal baru, inovasi baru, layanan baru. Sehingga produk dan layanan bisa diterima konsumen dan pasar, apalagi persaingan semakin ketat.

"Janganlah jadi follower, tapi jadilah pelopor, dan janganlah mengikuti tren. Tapi ciptakanlah tren, karena perang harga bukanlah penentu dalam persaingan," imbuhnya.

Hal lain yang perlu juga dikelola oleh mereka yang baru merintis usaha adalah selalu melakukan improvisasi dan evaluasi dari setiap produk layanan yang sudah diluncurkan ke pasar. Hal ini menjadi penting untuk melihat, apakah tren konsumen sudah berubah, atau justru ada peluang baru dari perubahan tren yang terjadi di masyarakat yang berpeluang untuk dikembangkan menjadi produk baru atau layanan baru.

"Bagi start up, mereka yang baru memulai usaha, harus berani membuat produk berbeda, out of the box, selalu melakukan inovasi dan menekan pengeluaran serta efisiensi agar mampu bersaing," pungkas dia. (nid)

 

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN