Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi start-up. (Pixabay)

Ilustrasi start-up. (Pixabay)

Perusahaan Decacorn Dapat Bertahan di Masa Pandemik

Rabu, 23 September 2020 | 21:52 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Menurut Shinta Witoyo Dhanuwardoyo, pendiri Nusantara Venture dan bubu.com mengatakan, perusahaan yang sudah mencapai level Decacorn dinilai masih akan mampu bertahan di saat pandemik seperti saat ini. Ini disebabkan model bisnis yang selama ini dijalani sudah terbukti. Bahkan peluang bisnis perusahaan yang sudah level Decacorn akan terus ada.

“Memang tidak semua industri positif di saat pandemik. Namun secara umum kalau perusahaan yang sudah level Decacorn pasti sudah terbukti berhasil usahanya. Contohnya saja Grab dan Gojek. Dua perusahaan tersebut masih akan terus berkembang usahanya,” kata Shinta di Jakarta, Rabu (23/9)

Lebih lanjut dia mengatakan, perusahaan melakukan investasi di perusahaan digital selain melihat potensi sinergi dengan core usaha yang selama ini geluti, mereka juga mencari pertumbuhan pendapatan dari perusahaan rintisan digital tersebut.

Diketahui sudah dua tahun terakhir ini perusahaan besar di Indonesia, seperti Astra International, Bank Central Asia, Telkom, Bank BRI dan beberapa perusahaan swasta nasional lainnya mulai melirik untuk berinvestasi di perusahaan digital atau startup.

“Mereka kan harus melakukan investasi di bidang teknologi. Sebab mereka semua memiliki banyak bisnis yang harus didigitalisasikan. Kalau Astra, Telkom atau BCA masuk ke dunia startup maka investasi yang dilakukan harus bisa mendukung usaha yang selama ini sudah mereka jalankan. Mereka akan mencari sinergi dengan perusahaan startup yang mereka investasi di sana. Jadi selain diversifikasi usaha perusahaan tersebut juga mencari sinergi,” terang Shinta.

Dengan banyaknya investasi yang dikucurkan oleh perusahaan besar ke startup nasional dinilai Shinta merupakan dukungan nyata perusahaan yang sudah mature untuk mendukung perusahaan rintisan dengan kekuatan finansial atau jaringan yang telah mereka miliki.

Dia mencontohkanTelkom. Dengan berinvestasi di perusahaan startup, Telkom Group yang memiliki networking yang besar serta pelanggan yang banyak  dapat memperkenalkan aplikasi  yang dibuat oleh perusahaan rintisan tersebut. Kolaborasi dan sinergi antara perusahaan besar dengan startup ini dinilai Shinta menguntungkan kedua belah pihak.

Sangat Menjanjikan

Meski Indonesia masih menghadapi pandemik Covid19, namun tak menyurutkan perusahaan besar tersebut untuk berinvestasi di perusahaan rintisan. Bahkan mereka semakin getol berinvestasi di perusahaan rintisan.

Menurut Shinta masih gencarnya perusahaan besar nasional yang berinvestasi di startup dinilai merupakan tanda bahwa investasi di perusahaan rintisan digital di Indonesia masih sangat menjanjikan.

Dia menilai, justru di masa pandemik seperti saat ini dijadikan momentum perusahaan baik yang besar maupun kecil untuk segera melakukan transformasi digital. Menurut Shinta jika perusahaan tersebut tidak berkolaborasi atau sinergi dengan perusahaan rintisan digital, maka mereka akan ketinggalan.

“Justru saat ini perusahaan startup berbasis teknologi tak terkena dampak yang signifikan dari pandemik COVID19. Dia hanya cukup memikirkan dan mengubah sedikit bisnis model yang sudah ada agar dapat menunjang dengan kondisi yang saat ini tengah terjadi. Sehingga bisnis yang mereka jalankan tepat di masa pandemik. Justru saat ini startup memiliki kemampuan yang jauh lebih cepat merubah bisnis model ketimbang perusahaan konvensional,” ujar Shinta.

Shinta memberikan contoh. Salah satu startup yang dinaungi Nusantara Venture dan bubu.com yaitu DOOgether.

Startup ini menyediakan layanan booking tempat olah raga. Di masa PSBB seperti saat ini tempat olahraga diharuskan untuk tutup. Namun kini DOOgether merubah bisnisnya menjadi kelas online. Para perusahaan rintisan ini harus mampu mengidentifikasi kebutuhan masyarakat di saat pandemik seperti saat ini.

Untuk dapat terus mempertahankan industri startup nasional, Shinta juga membuat platform startupindonesia.co. Melalui aplikasi ini diharapkan dapat mempertemukan antara perusahaan rintisan dengan angel investor atau venture capital. Selain itu startupindonesia.co juga memberikan bantuan mentoring atau informasi kepada perusahaan rintisan digital.

 

 



 

Editor : Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

BAGIKAN