Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dalam acara Ngobrol@TEMPO yang diinisiasi Tempo, pembahasan kali ini bertajuk Peran E-Commerce dalam Mendorong Peningkatan Industri Pembayaran Digital

Dalam acara Ngobrol@TEMPO yang diinisiasi Tempo, pembahasan kali ini bertajuk Peran E-Commerce dalam Mendorong Peningkatan Industri Pembayaran Digital

Platform E-Commerce Akan Semakin Diminati

Euis Rita Hartati, Jumat, 22 November 2019 | 18:21 WIB

JAKARTA, investor.id - Perkembangan e-commerce atau bisnis online di Indonesia mengalami kenaikan signifikan beberapa tahun terakhir. Dengan banyaknya media sosial, Facebook hingga Instagram yang diakses masyarakat Indonesia, diprediksi jika e-commerce akan terus tumbuh.

“Saat ini, sejak 2017 hingga 2020, pertumbuhan e-commerce akan berada di titik US$ 20 miliar . Ke depan diprediksi akan tumbuh lagi karena saat ini penggunaan Internet masih 50 persen,” kata Joshua Dharmawan dari Indonesia E-commerce Association (idEA) dalam acara Ngobrol@TEMPO bertajuk Peran E-Commerce dalam Mendorong Peningkatan Industri Pembayaran Digital.

Platform e-commerce juga akan semakin diminati dan dipastikan memberikan kemudahan. Namun, Joshua mengatakan dalam marketplace yang terbuka (free) persaingan akan menyulitkan bagi pedagang lokal karena kalah bersaing secara kualitas dengan barang luar.

“Ini akan menjadi kendala bagi pemain lokal karena ada free competition dalam meja yang sama,” ujarnya.

Di samping itu, marketplace ini juga akan membawa kesulitan baru bagi pembeli terutama menyelesaikan persoalan barang cacat bergaransi. Oleh karena itu, Joshua berharap pemerintah segera melakukan finalisasi rancangan bagi regulasi e-commerce, sehingga memberikan perlindungan bagi setiap pembeli maupun penjual yang dirugikan.

“Semoga ada regulasi e-commerce yang segera difinalkan tahun ini atau di 2020, yang akan memberikan perlindungan bagi pemain e-commerce,” ucap Joshua.

Namun Joshua juga berharap keamanan atau perlindungan bagi pelaku bisnis online semakin baik. Sebab, saat ini Internet telah menjadi media yang menarik untuk digunakan masyarakat. Rata-rata, dari 50 persen penduduk Indonesia menggunakan Internet hingga delapan jam sehari.

Disebutkan, beberapa tahun terakhir berbagai platform e-commerce bermunculan di Tanah Air. Bank Indonesia bahkan menyebutkan bahwa pada 2019, jumlah transaksi e-commerce per bulannya mencapai Rp 11–13 triliun. Berdasarkan prediksi McKinsey, pertumbuhan e-commerce di Indonesia meningkat delapan kali lipat dari total belanja online senilai US$8 miliar pada 2017 menjadi US$ 55 miliar hingga US$ 65 miliar pada 2020.

Semakin berkembangnya pasar e-commerce ini, turut mengubah gaya hidup masyarakat dalam sistem pembayaran. Hal ini dapat terlihat dari beberapa e-commerce yang paling diminati oleh pengguna seperti Shopee dan Tokopedia.

Dalam setiap transaksi, terbukti pembayaran elektronik semakin meningkat saat belanja online. Data Survei Perilaku Belanja Online 2019 yang dirilis Pusat Data dan Analisa Tempo (PDAT) juga menunjukkan saat ini pembayaran secara elektronik lebih banyak diminati.

Walaupun belanja dilakukan secara offline, seperti di pusat perbelanjaan, tetapi sebagian besar (70 persen) responden melakukan pembayaran secara elektronik. Pembayaran elektronik diminati baik oleh laki-laki maupun perempuan dan di semua kelompok usia.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan dan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Pungky P Wibowo, mengatakan jika e-commerce kini telah menjadi marketplace. Bank Indonesia telah siap memberikan pengamanan dalam sistem pembayaran dari berbagai macam bank. Bahkan Bank Indonesia telah menyiapkan banyak inovasi sehingga setiap pembeli semakin mudah dan aman melakukan pembayaran dalam transaksi e-commerce di dalam maupun luar negeri, baik melalui uang elektronik hingga paylater yang kini menjadi pilihan pembayaran.

“Dulu waktu melakukan pembayaran, klik pembayaran dalam laman bank yang menunggu waktu lagi. Sekarang lebih mudah lagi. Ada juga uang elektronik, harus pakai OTP dan lain sebagainya,” kata Pungky.

Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) Mercy Simorangkir mengatakan kendati Bank Indonesia memberikan perlindungan keamanan data dan kemudahan sistem pembayaran, konsumen tetap harus melakukan keamanan datanya secara pribadi.

Dua faktor penting untuk meningkatkan optimalisasi sistem pembayaran digital dalam transaksi e-commerce adalah membangun trust dan membangun edukasi dari masyarakat untuk pindah ke cashless.

 

 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA