Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi start-up. (Pixabay)

Ilustrasi start-up. (Pixabay)

Sinergi dengan Perusahaan Rintisan Guna Mempertahankan Revenue

Jumat, 11 September 2020 | 22:20 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Pandemi Covid-19 menyebabkan tekanan di hampir semua lini bisnis Tanah Air. Tak terkecuali dengan perusahaan rintisan (startup) yang kecil atau sudah menyandang status unicorn atau bervaluasi di atas US$1 miliar.

Meski demikian, menurut Victoria Venny selaku Analis MNC Sekuritas, beberapa startup justru cukup resilience (tahan) meski pandemi Covid-19 masih terjadi, khususnya startup yang bergerak di sektor pendidikan, kesehatan, dan ritel makanan. Kebijakan bekerja dan belajar dari rumah menjadi katalis positif bagi startup di sektor tersebut.

“Memang beberapa perusahaan rintisan masih memiliki potensi yang bagus. Namun jika investor ingin masuk ke perusahaan rintisan, kita harus melihat valuasinya terlebih dahulu. Apakah valuasinya mahal atau murah,” terang Venny di Jakarta, Jumat (11/9).

Lanjutnya, untuk dapat melihat valuasi perusahaan rintisan memang berbeda dengan perusahaan yang sudah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Selama ini jika analis ingin melihat aset perusahaan yang ada di BEI, mereka melihat dari valuasi gedung, mesin, atau tanah. Namun untuk perusahaan rintisan dilihat dari jumlah penggunanya dan database konsumen yang mengakses perusahaan rintisan tersebut.

Diakui Venny, memang saat ini banyak perusahaan yang terdaftar di BEI tengah mencari sinergi dengan perusahaan rintisan. Hal ini mereka lakukan karena perusahaan konvensional tengah mencari alternatif pendapatan lainnya dari non-core bisnis mereka.

“Karena yang berharga dari perusahaan adalah database konsumen, maka saat ini banyak perusahaan jasa maupun non jasa melakukan transformasi dalam mengembangkan bisnisnya dengan berinvestasi di perusahaan rintisan. Perusahaan konvensional saat ini tengah mengembangkan layanan baru melalui teknologi digital yang bertujuan untuk mencari revenue stream baru untuk menggantikan revenue dari legacy yang sudah melambat pertumbuhannya,” terang analis saham tersebut.

Seperti kita ketahui Bersama, saat ini beberapa perusahaan konvensional sudah berinvestasi di perusahaan rintisan. PT. Astra International Tbk. misalnya, bersama dengan modal ventura, EverHaus, mereka sudah berinvestasi di bisnis logistik melalui Trukita. Bahkan Astra juga sudah berinvestasi di Gojek sebanyak dua kali.

Contoh lainnya adalah PT. Telkom Tbk. BUMN telekomunikasi ini sudah memiliki beberapa perusahaan rintisan yang menjadi mitra binaan mereka, di antaranya Qlue, Kredivo, PrivyID, Nodeflux, Kata.ai, eFishery, ChatAja, hingga Anchanto.

Sementara itu BRI melalui BRI Ventures, Program Dana Ventura Sembrani Nusantar ini melakukan investasi di perusahaan rintisan. Pendanaan akan difokuskan untuk seed-growth stage yang terdiri dari seed funding dan pendanaan awal Seri A (Series A). Dengan dana Rp 300 miliar, Dana Ventura Sembrani Nusantar akan mencari perusahaan 10-15 startup di early stage pada sektor finansial, pendidikan, agro maritim, ritel, transportasi, dan kesehatan.


 

Editor : Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

BAGIKAN