Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bisnis penerjemah bahasa masih menjanjikan dalam jangka panjang dan bisa menjadi sumber penghasilan baru bagi kalangan muda

Bisnis penerjemah bahasa masih menjanjikan dalam jangka panjang dan bisa menjadi sumber penghasilan baru bagi kalangan muda

Tak Goyah Pandemi Covid-19, Bisnis Penerjemah Bahasa Tetap Kebanjiran Order

Rabu, 10 Februari 2021 | 10:39 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, Investor.id -  Hingga kini belum banyak orang tahu peluang bisnis dan jasa yang ditawarkan dari sebuah agensi bahasa. Padahal, bisnis ini menawarkan potensi menjanjikan, bahkan di saat pandemi Covid-19 seperti sekarang, bisnis ini tetap kebanjiran order.

Hal ini diungkapkan Co-founder Katagonia Language Solution Sony Novian. Katagonia Language Solution merupakan jasa penerjemah bahasa yang sudah berdiri selama tujuh tahun. Katagonia menawarkan dua jenis bisnis besar dalam jasa penyedia penerjemah yang tak banyak penyedia jasa serupa hadir di Indonesia, yaitu juru bahasa (interpereter) dan penerjemah (translator).

Co-founder Katagonia Language Solution Sony Novian
Co-founder Katagonia Language Solution Sony Novian

"Juru bahasa adalah yang biasa menerjemahkan langsung dalam sebuah seminar, sedangkan penerjemah ini biasanya menerjemahkan dokumen, legal atau perusahaan. Dan yang sedang tren dari jasa penerjemah belakangan ini adalah localization," ujar Co-founder Katagonia Language Solution Sony Novian di Jakarta, Selasa (10/2).

Localization, ungkap Sony, adalah materi bahasa asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan disesuaikan dengan kondisi Indonesia. Dan kebalikannya adalah internationation, yakni upaya menerjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris yang disesuaikan dengan kondisi luar negeri.

"Misalnya materi marketing sebuah mobil produk Tiongkok, dimana di negeri asalnya mobil tersebut pangsa pasarnya para pekerja, tapi di Indonesia pangsa pasarnya keluarga," tutur Sony.

Selain memiliki peluang bisnis yang besar, pria yang mendirikan Katagonia bersama kawannya Adonia Butar Butar pada 2013 ini mengungkapkan bahwa bisnis jasa penerjemah ini terbukti bisa bertahan di tengah pandemi Covid-19.

"Sempet di awal pandemi kaget, khawatir bisnis penerjemah akan terkena imbas pandemi Covid-19. Tapi ternyata pekerjaan tetap harus jalan, lembaga donor juga harus terus jalan, penanggulangan Covid-19 juga masih terus jalan, apalagi kan di awal-awal sering up to date terus. Sebelum pandemi kami cukup banyak pekerjaan, tapi di masa pandemi tetap saja padat, walau memang 80% dikerjakan dari rumah," papar Sony.

Dia menambahkan, pengguna jasa penerjemah bahasa tidak hanya dari kalangan formal, bahkan telah merambah pada acara-acara pribadi dan sosial kemasyarakatan. "Jadi penerjemah di acara nikahan beda bangsa, arisan sosialita sampai demo kecantikan dan fashion," ungkap pria lulusan Hubungan Internasional (HI) Universitas Moestopo (Beragama) ini.

Voice Over dan Subtittle

Melihat perkembangan itu, dia menjelaskan, tak salah jika dirinya menilai peluang bisnis ini tak main-main dan mampu menjadi sumber penghasilan yang bisa diandalkan. Namun sayangnya, belum banyak dilirik, terutama oleh anak-anak muda di kampus.

Katagonia menawarkan dua jenis bisnis besar dalam jasa penyedia penerjemah yang tak banyak penyedia jasa serupa hadir di Indonesia, yaitu  juru bahasa (interpereter) dan penerjemah (translator).
Katagonia menawarkan dua jenis bisnis besar dalam jasa penyedia penerjemah yang tak banyak penyedia jasa serupa hadir di Indonesia, yaitu juru bahasa (interpereter) dan penerjemah (translator).

"Inilah yang jadi konsern Katagonia ke depan. Kami akan memperkenalkan jika industri ini bagus dan berpotensi, punya penghasilan yang bagus juga. Kami ingin ekspansi ke kampus-kampus, buka magang dan training bagi mahasiswa, bikin co-working space khusus bagi penerjemah dan kantor perwakilan di Asia Tenggara," beber Sony.

Dia pun telah memetakan sejumlah peluang baru dari bisnis jasa ini, seperti voice over, subtittle, dan dubing film atau sinetron adalah peluang lain yang dinilai masih terbuka lebar untuk dimasuki. Pihaknya juga tak khawatir apabila upayanya mensosialisasikan potensi bisnis ini akan memunculkan pemain baru yang bertumbuhan bak jamur di musim hujan.

"Malah semakin besar pangsa pasarnya. Karena banyak yang belum mengetahui jasa ini. Apalagi pemerintahan pak Joko Widodo saat ini mewajibkan pejabat untuk berbahasa Indonesia saat pidato di depan siapa pun. Ada keputusan presiden terkait kewajiban tersebut," terang pria yang pernah jadi penerjemah saat Presiden AS Barrack Obama pidato di Universitas Indonesia (UI) dalam rangkaian kunjungannya ke Indonesia.

Saat ini, diperkirakan Sony, ada sekitar 2.000 penerjemah yang tergabung dalam Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI). Jumlah itu belum termasuk penerjemah yang bekerja secara independen. "Buat para mahasiswa di bangku kuliah, mulailah berpikir akan profesi ini. Jangan anggap pekerjaan ini sampingan saja. Potensi besar masih menunggu dari profesi ini," terang Sony.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN