Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur BI Perry Warjiyo memimpin konferensi pers di Jakarta, Kamis (19/12) usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18-19 Desember 2019 yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5%.

Gubernur BI Perry Warjiyo memimpin konferensi pers di Jakarta, Kamis (19/12) usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18-19 Desember 2019 yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5%.

Tren Pelonggaran Berhenti Sejenak

Jumat, 20 Desember 2019 | 12:04 WIB
Investor Daily

Sesuai ekspektasi, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5% dalam Rapat Dewan Gubernur periode 18-19 Desember 2019. Sementara suku bunga Deposit Facility dan suku bunga Lending Facility juga dipertahankan masing-masing sebesar 4,25% dan 5,75%.

Pertimbangan BI mempertahankan bunga acuan adalah guna mendorong momentum pertumbuhan dan menjaga stabilitas. Selain itu, untuk menjaga nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, terutama dolar AS, di tengah kondisi perekonomian global dan domestik yang diperkirakan mulai membaik dan akan mengalami pemulihan pada 2020.

Kalangan ekonom telah memproyeksi bahwa BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5% dengan lending facility dan deposit facility yang tetap. Keputusan BI mempertahankan bunga acuan dinilai sebuah langkah tepat, meski inflasi diproyeksi tetap terkendali pada level yang rendah dan stabil. Inflasi indeks harga konsumen (IHK) pada November 2019 tercatat 0,14% (mtm) sehingga secara tahunan tercatat 3% (yoy), menurun dibandingkan posisi Oktober 2019 sebesar 3,13% (yoy).

Bank Indonesia memprakirakan inflasi yang rendah akan berlanjut sehingga inflasi IHK 2019 berada di sekitar 3,1% dan tetap terkendali pada 2020 dalam kisaran sasaran 3,0±1%. Keputusan BI tetap mempertahankan bunga acuan di posisi 5% sejak Oktober lalu akan memberikan ruang bagi perbankan untuk meningkatkan ekspansi kreditnya seiring dengan melonggarnya likuiditas bank. Hal itu karena ada dorongan dari relaksasi giro wajib minimum (GWM) dan percepatan belanja barang dan modal oleh pemerintah (kementerian/lembaga) di kuartal keempat tahun ini sehingga momentum pertumbuhan tetap bisa dilanjutkan.

Bank Indonesia.
Bank Indonesia.

Keputusan BI itu dinilai dapat menjaga perbedaan tingkat suku bunga (interest rate difference) mengingat bank sentral AS atau The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga acuannya (FFR) di kisaran 1,5-1,75% sepanjang tahun 2020. The Fed sudah memberikan sinyal untuk tidak lagi melanjutkan penurunan suku bunga acuan hingga akhir tahun dan kemungkinan besar hingga akhir 2020.

Bank-bank sentral negara lain juga cenderung menahan suku bunga acuan jelang akhir tahun. Berkurangnya pelonggaran moneter ini akibat datadata ekonomi AS yang agak membaik, sehingga mendorong aliran modal keluar dari negara-negara berkembang untuk sementara ini.

Dalam konteks itu, keputusan BI menahan pelonggaran bunga acuan merupakan ahead the curve dan preemptive terhadap faktor risiko. Upaya mempertahankan interest rate difference diperlukan untuk tetap menjaga daya tarik aset keuangan rupiah sehingga tetap mendorong aliran modal masuk, dan selanjutnya dapat meningkatkan likuiditas di sektor perbankan.

Selain itu, suku bunga acuan BI saat ini masih konsisten dengan upaya BI menjaga defisit transaksi berjalan di level yang lebih sehat mengingat ekspektasi defisit transaksi berjalan pada kuartal keempat 2019 diperkirakan akan kembali melebar dibandingkan kuartal sebelumnya. Berhentinya tren pelonggaran bunga acuan juga diperlukan agar BI dapat mengakumulasi lebih banyak cadangan devisa Indonesia.

Cadangan devisa per akhir November 2019 sebesar US$ 126,6 miliar atau masih stabil dari bulan sebelumnya US$ 126,7 miliar. Kisaran ini dinilai masuk dalam rentang cadangan devisa ideal pada akhir tahun yakni US$ 125 miliar sampai US$ 127 miliar.

Keputusan BI tersebut juga didukung faktor eksternal seperti mulai meredanya perang dagang (trade war) antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Namun, faktor eksternal lain yang patut diwaspadai adalah kondisi politik di AS terkait pemakzulan (impeachment) Presiden Donald Trump oleh Dewan Perwakilan Rakyat AS. Nasib Trump selanjutnya akan ditentukan di sidang Senat pada Januari tahun depan Masalah politik yang terjadi di negeri Paman Sam itu diperkirakan akan mempengaruhi kondisi ekonomi global. Hal ini karena AS merupakan negara ekonomi terbesar di dunia.

Ketua DPR Nancy Pelosi (tengah) menyampaikan sambutan bersama Ketua Komite Dewan Peradilan Jerry Nadler, dan Ketua Komite Urusan Luar Negeri DPR Eliot Engel usai menggelar pemungutan suara DPR untuk memilih memakzulkan Presiden Donald Trump pada 18 Desember 2019 di Washington, DC. Dewan Perwakilan Rakyat AS memberikan suara 230-197 dan 229 -198 untuk memakzulkan Presiden Trump atas dua pasal pemakzulan yang menuduhnya menyalahgunakan kekuasaan dan menghalangi Kongres. ( Foto: Sarah Silbiger / Getty Images / AFP )
Ketua DPR Nancy Pelosi (tengah) menyampaikan sambutan bersama Ketua Komite Dewan Peradilan Jerry Nadler, dan Ketua Komite Urusan Luar Negeri DPR Eliot Engel usai menggelar pemungutan suara DPR untuk memilih memakzulkan Presiden Donald Trump pada 18 Desember 2019 di Washington, DC. Dewan Perwakilan Rakyat AS memberikan suara 230-197 dan 229 -198 untuk memakzulkan Presiden Trump atas dua pasal pemakzulan yang menuduhnya menyalahgunakan kekuasaan dan menghalangi Kongres. ( Foto: Sarah Silbiger / Getty Images / AFP )

Apapun yang terjadi di negeri tersebut, dampaknya akan meluas kemana-mana. Dinamika politik yang terjadi di AS akan mempengaruhi confidence atau kepercayaan investor kepada negara tersebut jelang pemilu tahun depan.

Rendahnya kepercayaan investor akan mempengaruhi laju perekonomian negara tersebut. Kondisi inilah yang dikhawatirkan banyak kalangan. Negara-negara yang menjadikan AS sebagai pasar ekspor utama mereka akan menjadi yang paling terpengaruh dari pelemahan ekonomi AS.

Kita berharap ketidakpastian global tidak berpengaruh besar pada perekonomian Indonesia. Kalaupun ada, semoga dampaknya hanya sebentar dan tidak signifikan. Nilai tukar rupiah saat ini dalam posisi stabil, keseluruhan ekonomi Indonesia juga cukup baik, dan pertumbuhan ekonomi dapat terjaga di kisaran 5% hingga akhir tahun.

Sementara itu, aliran modal asing yang masih deras dapat mendorong transaksi modal dan finansial mengalami surplus.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN