Menu
Sign in
@ Contact
Search
Botol kecil berstiker tulisan vaksin dan jarum suntik medis. Foto ilustrasi: REUTERS / Dado Ruvic

Botol kecil berstiker tulisan vaksin dan jarum suntik medis. Foto ilustrasi: REUTERS / Dado Ruvic

Perkuat Pemulihan Ekonomi

Kamis, 22 Oktober 2020 | 07:30 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

Penemuan vaksin yang sudah di ambang mata mulai menurunkan ketidakpastian akibat pandemi Covid-19. Vaksin dan vaksinasi yang efektif merupakan game of changer untuk memulihkan keadaan seperti sebelum pandemi, meski masyarakat tetap harus mematuhi protokol kesehatan.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) membeberkan vaksinasi Covid-19 akan dimulai Januari 2021. Indonesia pun sudah mengamankan komitmen penyediaan vaksin, baik lewat jalur kerja sama bilateral dan multilateral, maupun pengembangan vaksin secara mandiri yakni Vaksin Merah Putih.

Indonesia juga sudah dinyatakan layak menerima fasilitas Official Development Assistance (ODA) di dalam COVAX Advanced Market Commitment (COVAX AMC) un tuk penyediaan vaksin Covid-19 da lam kerangka multilateral. COVAX ada lah skema kerja sama vaksin secara multilateral yang juga didukung WHO, guna penyediaan dan distribusi vaksin Covid-19 secara adil di dunia.

Meski kita juga harus menyadari pengembangan vaksin adalah proses yang rumit dan selalu ada risiko serta ketidakpastian dalam proses pengembangannya, tetapi setidaknya su dah ada perencanaan lebih jelas. Pemerintah Indonesia pada minggu lalu telah mengamankan kesepakatan dengan perusahaan farmasi AstraZeneca, Inggris, untuk penyediaan 100 juta vaksin tahun depan, dengan pengiriman secara bertahap mulai paruh pertama 2021. Kandidat vaksin yang dikembangkan telah memasuki uji klinis tahap tiga, yang merupakan tahap akhir menurut Organisasi Kesehatan Du nia (WHO).

Sebelumnya, pemerintah RI menyepakati suplai vaksin dengan sejumlah perusahaan farmasi lainnya. Pada Agustus lalu, pemerintah bahkan sudah memulai uji coba pada manusia terhadap kandidat vaksin yang diproduksi oleh Sinovac Biotech dari Tiongkok, dengan sekitar 1.600 relawan mengambil bagian dalam studi enam bu lan tersebut.

Di samping itu, pemerintah juga mengamankan kesepakatan dengan Sinopharm dari Tiongkok dan G42 dari Uni Emirat Arab dengan total lebih dari 260 juta dosis vaksin. G42 sendiri juga menjalin kerja sama pengembangan vaksin dengan Sinopharm. Pemerintah juga sedang menyiapkan roadmap imunisasi vaksin Covid-19, yang teknisnya nanti diselesaikan melalui perpres.

Pemerintah menargetkan vaksin Covid-19 tersedia secara bertahap, yakni tahap pertama 36 juta vaksin pada kuartal IV-2020. Tahap berikutnya, tahun 2021, pada kuartal I ditargetkan sudah ada 75 juta vaksin, pada kuartal II sebanyak 105 juta vaksin, kuartal III sebanyak 80 juta, dan kuartal IV sebanyak 80 juta vaksin.

Jadi, totalnya 376 juta dosis vaksin. Jumlah itu mencukupi sesuai ketentuan WHO vaksinasi minimal 70% penduduk yang bisa divaksin Covid-19 un tuk mencapai herd immunity, di mana vaksin untuk bayi dan lansia belum ada.

Untuk Indonesia, ini diberikan kepada 70% warga (161 juta) yang berusia produktif 19-59 tahun di Indonesia yang sekitar 230 juta. Masing-masing menjalani dua kali vaksinasi untuk mendapatkan imunitas, yang jangka waktunya berkisar 6 bulan sampai 2 tahun.

Vaksinasi akan melibatkan 10.134 puskesmas, serta 2.877 rumah sakit baik milik pemerintah, TNI/Polri, pemda dan RS swasta. Pemerintah menyiapkan SDM dan terkait logistik, mulai dari sarana penyimpanan, distribusi, pelatihan, dan berpedoman pada standar Kementerian Kesehatan.

Dari sisi harga, menurut taksiran Bio Farma sekitar Rp 200 ribu per dosis vak sin atau Rp 400 ribu per orang. Ini berarti dibutuhkan anggaran Rp 64,4 triliun. Jumlah ini masih di bawah anggaran stimulus kesehatan yang telah dikoreksi oleh Komite Penanganan Covid- 19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), dari pagu semula Rp 87,55 triliun menjadi Rp 84,02 triliun tahun ini. Anggaran stimulus kesehatan tahun ini dikurangi, karena pembayaran vaksin yang besar dilakukan tahun 2021. Sebaliknya, alokasi anggaran perlindungan sosial dinaikkan Rp 38,11 triliun dari pagu awal, menjadi Rp 242,01 triliun.

Sedangkan total stimulus PCPEN tetap Rp 695,2 triliun tahun ini, yang juga mencakup stimulus untuk empat pos lain yakni insentif usaha, UMKM, pembiayaan korporasi, serta sektoral kementerian/lembaga dan pemda.

Nah, sembari menunggu realisasi vaksinasi yang membutuhkan waktu setahun, maka upaya untuk memutus mata rantai penularan Covid-19 tetap harus dilakukan. Kita tetap harus disiplin mengenakan masker sesuai standar, menjaga jarak sekitar 1,5 meter antarorang, sering mencuci tangan, dan menghindari kerumunan.

Secara bersamaan, upaya mempercepat pemulihan ekonomi nasional juga tetap harus dilakukan. Apalagi, didukung momentum tren perekonomian global bergerak positif sejak April lalu dan ketidakpastian juga sudah menurun.

Di dalam negeri, setelah kuartal II- 2020 perekonomian terkontraksi hingga 5,32%, pada kuartal III diperkirakan mem baik ke minus 2,10%, dan kuartal IV 2020 sudah positif 0,06%. Momentum perekonomian domestik yang dalam tahap pemulihan ini harus terus didukung, setidaknya dengan memperpanjang berbagai stimulus yang dibutuhkan hingga setahun setelah selesai vaksinasi tahun pertama, atau hingga 2022. Dengan demikian, target pertumbuhan eko nomi Indonesia 5% pada 2021 bisa diwujudkan dan bertambah kuat ke depan.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com