Menu
Sign in
@ Contact
Search
Industri manufaktur. Foto ilustrasi: IST

Industri manufaktur. Foto ilustrasi: IST

Sinyal Pemulihan Ekonomi

Rabu, 2 Desember 2020 | 09:32 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

Sinyal pemulihan ekonomi Indonesia menguat yang ditandai dengan sejumlah indikator. Kinerja manufaktur Indonesia kembali naik pada November 2020, tren inflasi berlanjut pada bulan lalu, dan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) meningkat pada Oktober 2020 dibandingkan bulan sebelumnya.

Hasil survei IHS Markit Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik hampir tiga poin menjadi 50,6 pada November 2020 dari sebelumnya di level 47,8 pada Oktober 2020. Kenaikan PMI merupakan indikasi ekonomi, khususnya sektor industri, mulai berekspansi menjelang akhir tahun dengan indeks di atas 50. Level ini menunjukkan perbaikan di sektor manufaktur untuk pertama kalinya sejak Agustus.

Kenaikan Indeks PMI Manufaktur Indonesia didorong oleh peningkatan produksi karena pesanan bertambah signifikan. Faktor pendorong peningkatan ini juga disebabkan pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta pada pertengahan Oktober, sehingga perusahaan meningkatkan produksi pada November.

Dengan pelonggaran tersebut, volume output kian meningkat dipicu oleh pembukaan kembali jalur produksi dan peningkatan penjualan setelah pelonggaran PSBB.

Indikator kedua, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada November 2020 terjadi inflasi   sebesar 0,28% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 105,21. Inflasi di November dipicu kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, di antaranya kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,86% serta kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,14%.

Sedangkan tingkat inflasi tahun kalender (Januari–November) 2020 atau year to date (ytd) sebesar 1,23% dan tingkat inflasi tahun ke tahun (November 2020 terhadap November 2019) atau year on year (yoy) sebesar 1,59%. Komponen inti pada November 2020 mengalami inflasi 0,06%, year to date sebesar 1,55%, dan year on year sebesar 1,67%.

Inflasi berlanjut di November setelah pada Oktober tercatat inflasi 0,07%. Sementara dalam tiga bulan sebelumnya terjadi deflasi masing-masing pada Juli sebesar 0,10%, Agustus 0,05%, dan September juga 0,05%. Tren inflasi dua bulan terakhir ini mengindikasikan adanya peningkatan permintaan dan geliat ekonomi, meski levelnya masih rendah karena dampak pandemic Covid-19.

Di sisi lain, inflasi juga disebabkan adanya pengurangan pasokan barang karena faktor musiman. Artinya, permintaan meningkat tapi di sisi lain pasokan berkurang karena faktor musim, seperti tanaman palawija biasanya produksinya lebih rendah di musim penghujan. Yang perlu diwaspadai adalah cuaca ombak tinggi serta curah hujan tinggi di akhir tahun karena akan berimbas menghambat distribusi barang dari produsen ke konsumen. Indikator ketiga adalah jumlah kunjungan wisman ke Indonesia pada Oktober 2020 sebanyak 158.190 kun jungan, meningkat 4,57% dibandingkan bulan sebelumnya, namun turun drastis sebesar 88,25% dibandingkan Oktober 2019.

Secara kumulatif, Januari-Oktober 2020, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 3,72 juta kunjungan atau turun 72,35% jika dibandingkan periode sama tahun 2019 yang berjumlah 13,45 juta kunjungan.

Meningkatnya kunjungan wisman pada Oktober mulai menggairahkan sektor pariwisata Indonesia yang mati suri dalam beberapa bulan karena paling dulu terdampak pandemi Covid-19. Namun pergerakan kunjungan wisman ini sebenarnya masih landai sampai Oktober 2020 jika dilihat dalam enam bulan sebelumnya yang angkanya berada di kisaran 151.000 hingga 163.000 kunjungan. Masih rendahnya kunjungan wisman tak lepas dari kebijakan beberapa negara yang masih melakukan pengetatan penanganan pandemi Covid-19, meski di sebagian lainnya sudah ada pelonggaran.

Geliat ekonomi Indonesia yang ditunjukkan oleh tiga indikator di atas akan kian kuat jika dibarengi membaiknya penanganan pandemic Covid-19. Peningkatan jumlah kasus positif yang menembus rekor tertinggi pada hari Minggu (29/11) lalu sebanyak 6.267 kasus dan penambahan 4.617 kasus baru pada Senin (30/11) dan 5.092 kasus baru pada Selasa (1/12) kemarin mesti menjadi perhatian semua pihak.

Peningkatan jumlah kasus positif baru yang tinggi menunjukkan masih lemahnya pengendalian pandemi. Hal itu akan memberikan dampak sosial, ekonomi, dan keuangan yang luar biasa.

Tingginya kasus Covid-19 telah terbukti menekan perekonomian sehingga produk domestik bruto (PDB) nasional terkontraksi atau tumbuh minus 5,32% pada kuartal II. Meski terjadi perbaikan pada kuartal III yang tumbuh minus 3,49%, namun perbaikan tersebut masih sangat awal sehingga rawan terpengaruh jika kasus Covid-19 kembali meningkat.

Kunci untuk menjaga pemulihan ekonomi berkelanjutan tergantung pada kemampuan kita menekan angka kasus positif Covid-19. Konsistensi dalam menjalankan 3T yaitu tracing, tracking, dan treatment, serta penerapan 3M yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak jangan sampai surut demi menekan kasus positif Covid-19. Kepatuhan masyarakat menerapkan 3M akan ikut menentukan pemulihan ekonomi di kuartal IV-2020 dan kuartal-kuartal selanjutnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com