Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
kilang minyak lepas pantai - 2a

kilang minyak lepas pantai - 2a

Kejar Target Lifting Minyak 1 Juta BPH

Kamis, 4 Februari 2021 | 10:07 WIB
Investor Daily

Pemerintah telah menetapkan target produksi minyak yang siap dijual atau lifting sebesar 1 juta barel per hari (bph) pada tahun 2030. Sedangkan produksi gas ditargetkan sebesar 12 miliar kaki kubik per hari (billion standard cubic feet per day/BSCFD). Sejumlah strategi pun sudah disiapkan untuk mencapai target tersebut. Bahkan insentif siap ditebar untuk menarik investor masuk ke sektor hulu migas.

Target lifting minyak 1 juta bph harus diwujudkan untuk menjamin pasokan energi di masa mendatang seiring kebutuhan energi yang terus meningkat. Meski kelak akan ada kendaraan listrik, BBM tetap diperlukan untuk menopang kelancaran transportasi laut dan udara. Tak hanya untuk sektor transportasi, peningkatan produksi migas juga diperlukan untuk menopang pertumbuhan industri nasional di masa depan, selain memangkas defisit neraca perdagangan.

Saat ini Indonesia hanya mampu memproduksi minyak sebanyak 700 ribu bph dari total kebutuhkan sekitar 1,6 juta bph. Artinya masih ada kekurangan pasokan 900 ribu hingga 1 juta bph yang harus dipenuhi dari impor. Karena itu, peningkatan produksi minyak diperlukan untuk memperkecil defisit neraca perdagangan migas yang cukup besar dalam beberapa tahun terakhir ini. Untuk menekan defisit, mau tak mau volume produksi minyak harus dinaikkan secara signifikan.

Produksi minyak 1 juta bph dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan kilang bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Dengan beroperasinya sejumlah proyek kilang PT Pertamina (Persero), yakni pembangunan Kilang Tuban dan perbaikan serta peningkatan kapasitas (revamping) Kilang Balikpapan, Cilacap, Balongan, Plaju, dan Dumai, Indonesia akan kelebihan pasokan BBM pada tahun 2029-2030.

Untuk mencapai target produksi minyak 1 juta bph, ada empat strategi yang disiapkan pemerintah. Pertama, mendorong kegiatan eksplorasi yang masih baik di blok migas produksi maupun di area terbuka. Apalagi, Indonesia memiliki lebih dari 50 cekungan migas yang belum dieksplorasi. Kedua, penerapan enhanced oil recovery (EOR) atau pengurasan minyak tahap lanjut di lapangan yang sudah dikembangkan.

Ketiga, percepatan dalam mengubah cadangan menjadi produksi (reserve to production/R-to-P) yang juga akan menghasilkan tambahan produksi cukup besar. Sedangkan strategi keempat yakni mendorong pengembangan kembali lapangan migas produksi yang telah ditinggalkan atau undeveloped field.

Tak hanya strategi, pencapaian target produksi minyak 1 juta bph ini perlu dukungan perusahaan migas yang beroperasi di Indonesia. Salah satunya adalah Pertamina yang akan memegang peranan besar dalam mencapai target tersebut. Sekitar 70% dari target 1 juta bph akan dikontribusi BUMN energi ini.

Di saat harga minyak mentah masih tertekan seperti sekarang ini, perbaikan iklim investasi migas sangat diperlukan guna menarik investor. Caranya yakni melalui pemberian insentif. Pemerintah sudah menawarkan insentif kepada perusahaan migas berupa domestic market obligation (DMO) holiday, investment credit, percepatan depresiasi, hingga perpajakan.

Dari sembilan insentif yang diusulkan SKK Migas bersama perusahaan migas, sudah lima insentif diimplementasikan. Beberapa insentif ini yakni penundaan pencadangan dana pascatambang, penundaan atau penghapusan PPN gas alam cair (liquefied natural gas/LNG), penggunaan barang milik negara tidak dikenakan sewa, dan harga gas diskon untuk pemakaian di atas batas Take or Pay (TOP). Selain itu, pemerintah siap memberikan fleksibilitas fiskal seperti percepatan depresiasi, perubahan split sementara, dan kewajiban pasok dalam negeri (domestic market obligation/DMO) harga penuh.

Sementara insentif yang belum diimplementasikan adalah pembebasan pajak (tax holiday), penghapusan biaya pemanfaatan kilang LNG Badak, penundaan atau pengurangan hingga 100% dari pajak-pajak tidak langsung bagi blok eksploitasi, serta percepatan depresiasi untuk kurun waktu tertentu. Insentif-insentif tersebut masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut.

Tak hanya insentif, perusahaan migas diberi kebebasan untuk memilih jenis kontrak kerja sama (production sharing contract/PSC) yang digunakan. Pilihannya ada dua, yakni bagi hasil kotor (gross split) atau investasi yang dapat dikembalikan (cost recovery). Sejauh ini, perusahaan migas cenderung lebih memilih cost recovery.

Keleluasaan memilih jenis kontrak migas ini akan digunakan dalam lelang 10 blok migas tahun ini. Sejumlah perusahaan migas telah menyatakan minat untuk berpartisipasi dalam lelang ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak lima blok migas akan ditawarkan melalui lelang reguler, yakni Blok Merangi III, Sekayu, North Kangean, Offshore Cendrawasih, dan Mamberamo. Sedangkan lima blok lainnya dilelang melalui penawaran langsung, yaitu West Palmerah, Liman, Rangkas, Bose, dan Maratua II.

Perusahaan migas wajar mendapatkan banyak tawaran insentif. Selain nilai investasi yang ditanamkan cukup besar, risiko yang ditanggung investor pun tidak sedikit jika gagal pada tahap eksplorasi. Insentif akan menjadi pemikat bagi perusahaan migas yang sedang menghadapi penurunan penjualan serta harga minyak mentah yang belum mencapai keekonomian sehingga berdampak pada pendapatan di sektor hulu.

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN