Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Banteng Wulung di Bursa Efek Indoneaia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Banteng Wulung di Bursa Efek Indoneaia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Unrealized Loss

Kamis, 25 Februari 2021 | 23:29 WIB
Investor Daily

Istilah unrealized loss atau kerugian yang belum direalisasikan sedang menjadi perbincangan di media. Istilah yang akrab di kalangan pelaku pasar itu mencuat seiring penyidikan yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung atas dugaan penyimpangan pengelolaan investasi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan atau BP Jamsostek.

Kasus tersebut ditingkatkan menjadi penyidikan pada Januari 2021. Kasus tersebut ditangani oleh penyidik pada Jampidsus berdasarkan surat perintah penyidikan (Sprindik) Kejaksaan Agung RI Nomor: Print-02/F.2/Fd.2/01/2021. Penyidik saat ini tengah memeriksa sejumlah saksi untuk mendalami kasus tersebut.

Menurut informasi yang beredar, fokus penyidikan Kejaksaan Agung adalah unrealized loss sebesar Rp 43 triliun per Agustus-September 2020. Kejaksaan Agung pun telah memeriksa beberapa saksi untuk membuktikan adanya tindak pidana korupsi pada kasus unrealized loss BP Jamsostek tersebut.

Sejumlah manajer investasi (MI) tak luput dari pemeriksaan penyidik Kejaksaan Agung. Jika dilihat faktor penyebabnya, unrealized loss tak lepas dari fluktuasi yang terjadi di pasar modal akibat pandemic Covid-19.

Investasi BP Jamsostek di pasar modal mengacu kepada PP Nomor 99 Tahun 2013 dan PP No mor 55 Tahun 2015 yang mengatur tentang batasan investasi BPJSKetenagakerjaan, termasuk tentang investasi pada instrumen saham dan reksa dana.

Pada Desember 2020, sebanyak 25% dari dana ke lolaan perseroan ditempatkanpada instrument terkait pasar modal, yakni di saham 17% dan reksa dana 8%. Selebihnya pada portofolio surat utang 64%, deposito 10%, dan investasi langsung 1%.

Dinamika pasar saham selama masa pandemic Covid-19 telah memukul kinerja seluruh emiten, hingga indeks harga saham gabungan (IHSG) menyentuh level 3.900- an pada Maret 2020, namun kembali menyentuh level 6.000 pada Desember 2020.

Hal ini berdampak unrealized loss BP Jamsostek pernah mencapai sekitar Rp 43 triliun pada periode Agustus sampai September 2020. Namun, seiring dengan membaiknyaIHSG, unrealized loss tersebut telah turun mencapai sekitar Rp 14 triliun di bawah 3% dari total dana kelolaan pada posisi Januari 2021.

Instrumen saham yang dikelola BP Jamsostek juga masih membukukan realisasi keuntungan dan ditambah dengan keuntungan instrumen lain berdampak pada dana kelolaan per 31 Desember 2020 mencapai Rp 486,38 triliun, dengan total hasil investasi mencapai Rp 32,30 triliun. Hasil pengembangan Jaminan Hari Tua (JHT) tahun 2020 juga di atas rata-rata bunga deposito bank pemerintah sebesar 3,62%, yaitu mencapai 5,59%.

Dengan kondisi likuiditas perseroan yang sangat baik, aset investasi yang mengalami unrealized loss tersebut tidak perlu dijual, sehingga tidak pernah membukukan kerugian. Apalagi, saham yang mengalami unrealized loss dipastikan merupakan saham-saham berfundamental baik dan mayoritas pada emiten berkategori LQ45 atau blue chip, sehingga diharapkan akan pulih seiring pemulihan pasar.

BP Jamsostek memastikan 98% portofolio saham LQ45, sedangkan 2% pernah masuk deretan LQ45. Saham kategori LQ45 merupakan saham dengan market cap besar, transaksi terbanyak, dan memiliki kondisi keuangan, prospek pertumbuhan serta memiliki free float yang memadai yang bisa dikategorikan berkualitas bagus.

Unrealized loss merupakan potensi kerugian jika harga saham lebih rendah dibandingkan saat beli. Misalnya, saat membeli saham di harga Rp 2.000, setelah dibeli lalu harganya turun menjadi Rp 1.000. Jika portofolionya masih dimiliki atau belum dijual berarti ada potensi kerugian di dalam portofolionya atau unrealized loss.

Investor tetap memegang portofolio tersebut dengan pertimbangan harganya bisa naik kembali. Sedangkan jika sudah dijual berarti mengalami kerugian nyata atau realized loss.

Sebaliknya, jika harganya naik menjadi Rp 3.000 dari posisi beli Rp 2.000 berarti ada potensi keuntungan atau unrealized gain selama sahamnya belum dijual. Investor belum merealisasikan keuntungan karena pertimbangan harganya masih bisa naik lagi.

Kalangan praktisi pasar modal berpendapat potensi kerugian yang terjadi di BP Jamsostek, baik di investasi langsung saham maupun melalui reksa dana sebenarnya adalah risiko investasi yang terjadi karena penurunan harga saham secara umum akibat pandemi Covid-19, bukanlah suatu tindak pidana.

Alasannya, saat ini investasi dalam bentuk portofolio saham maupun reksa dana sedang turun, terpengaruh pandemi Covid-19. Dengan kata lain, potensi kerugian dalam kasus investasi BP Jamsostek terjadi karena penurunan nilai portofolio,yang bisa disebabkan oleh fluktuasi pasar. Hal ini lumrah terjadi di industri pasar modal yang menganut prinsip risiko besar dan untung besar atau high risk high return.

Jika potensi kerugian, atau kerugian yang belum dibukukan, masuk ranah merugikan negara, maka pasal ini akan menakutkan bagi semua pihak yang mengurus investasi.

Unrealized loss yang terjadi karena fluktuasi pasar tidak bisa dipi danakan, karena sejalan dengan mekanisme pasar. Apalagi jika unrealized loss disebabkan saham-saham yang merupakan saham kategori LQ45 yang mengalami koreksi saat pandemi.

Berbeda dengan kasus Jiwasraya yang terbukti mengoleksi saham-saham “go rengan” sehingga membuat asetnya memburuk. Apabila penyidikan dilanjutkan maka akan menjadi preseden buruk bagi pengelolaan investasi oleh institusi lainnya.

Jika penyidikan Kejaksaan Agung berdampak pada keputusan BP Jamsostek membawa keluar nilai investasinya yang sekitar Rp 150 triliun, maka hal itu tentu akan berimbas negatif terhadap pasar modal Indonesia. Sulit mencari investor institusi yang memiliki nilai investasi setara dengan BP Jamsostek dalam waktu singkat.

Undang-undang mengharuskan BP Jamsostek banyak bergerak di investasi. Investasi dilakukan karena BP Jamsostek harus mengembangkan dana pe kerja yang dikelolanya agar bisa memberikan hasil yang besar kepada pekerja. Undang- undang juga mengatur BP Jamsostek harus melakukan investasi yang prudent alias hati-hati.

Tak hanya itu, pengelolaan investasi BP Jamsostek dilakukan secara cermat sehingga terbukti membuahkan total hasil investasi sebesar Rp 32,30 triliun pada tahun lalu.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN