Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pembentukan holding ultra mikro

Pembentukan holding ultra mikro

Kejayaan Ultramikro

Selasa, 14 September 2021 | 14:20 WIB
Investor Daily

Tonggak sejarah telah ditancapkan, ditandai dengan berdirinya secara resmi Holding Ultramikro yang melibatkan tiga entitas Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Pegadaian, dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Pembentukan holding ini bakal menentukan masa depan sektor usaha lapis paling bawah, yakni segmen ultramikro (UMi).

Legalitas Holding Ultramikro telah sah seiring dilakukannya penandatanganan akta inbreng saham pemerintah pada Pegadaian dan PNM sebagai penyertaan modal negara kepada BRI selaku induk holding di Jakarta, 13 September 2021. Pembentukan Holding UMi sebelumnya telah mendapat persetujuan dari Komite Stabilitas Sistem Keuangan pada 5 Februari 2021, Ketua Komite Privatisasi pada 17 Februari 2021, dukungan dari Komisi XI dan Komisi VI DPR RI pada 16 Maret dan 18 Maret 2021, serta telah diikuti dengan penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) No 73/2021 tentang Penyertaan Modal Negara (PMN) BRI tanggal 2 Juli 2021.

Penyatuan tiga entitas ini juga di landasi kenyataan bahwa usaha ultra mikro yang membutuhkan pendanaan di Indonesia mencapai 45 juta nasabah pada 2018, berdasarkan data Bank Pembangunan sia (ADB). Dari jumlah itu, yang sudah tersentuh lembaga keuangan formal baru sekitar 15 juta nasabah.

Artinya, masih ada 30 juta usaha ultramikro yang belum memperoleh akses pembiayaan. Inilah potensi yang akan dibidik BRI bersama Pegadaian dan PNM. Banyak sekali institusi keuangan yang berebut ceruk pasar yang potensial ini, mulai dari ultramikro, mikro, dan usaha kecil. Segmen ini memang menjanjikan keuntungan yang menggiurkan. Bank-bank besar yang selama ini banyak membiayai korporasi alias kredit besar pun melirik segmen empuk tersebut.

Demikian pula lembaga keuangan nonbank. Termasuk institusi keuangan financial technology (fintech) yang sangat agresif menyalurkan pembiayaan segmen mikro. Holding UMi akan menciptakan sinergi luar biasa tiga kekuatan intitusi keuangan ini. BRI dengan lebih dari 100 juta nasabah memiliki 9.493 jaringan kantor, 27.450 tenaga pemasar mikro, serta 466.864 agen Brilink. Adapun Pegadaian memiliki 4.087 outlet, 1.564 tenaga pemasar, dan 9.764 agen. Kemudian PNM mempunyai 3.291 jaringan kantor dan 32.480 tenaga pemasar.

Dari sisi performa keuangan, sinergi tiga jagoan di sektornya ini akan menaikkan value BRI sebagai induk dan bakal membuat kinerja keuangan BRI semakin berkilau. Sebagai gambaran, total aset BRI meningkat dari Rp 1.411 triliun menjadi Rp 1.515 triliun, sedangkan laba bersih konsolidasi pada kuartal I-2021 akan naik dari Rp 6,86 triliun menjadi Rp 8 triliun.

Cakupan segmen ultramikro yang jauh lebih luas dengan holding ini menjadi sumber pertumbuhan baru. Hal ini selaras dengan aspirasi BRI untuk menjadi Champion of Financial Inclusion. Dengan Holding UMi, BRI memiliki target komposisi mikro sebesar 45% dari total kredit BRI pada tahun 2025. Saat ini, komposisi segmen mikro masih sebesar 40,2%.

Guna memuluskan pembentukan holding ultramikro, BRI telah menggelar rights issue dan di perkirakan meraih dana sebesar Rp 96 triliun lebih. Dana tersebut bersumber dari inbreng saham Pegadaian senilai Rp 48,67 triliun dan PNM senilai Rp 6,1 triliun sehingga gabungan keduanya mencapai Rp 54,77 triliun. Sisanya Rp 41,74 triliun merupakan potensi dana yang bisa diperoleh BRI dari investor publik.

Hadirnya holding juga akan memperkuat model bisnis masing-masing perseroan. BRI, Pegadaian, dan PNM akan saling melengkapi memberikan layanan keuangan yang terintegrasi. Dengan hasil tersebut, kalangan analis memprediksi pendapatan BRI tahun ini terdongkrak hingga 23% dengan kenaikan laba sekitar 13% secara tahunan. Kapitalisasi pasar (market cap) BRI pun berpotensi menembus Rp 600 triliun.

Holding UMi yang memiliki visi ekonomi kerak yatan diharapkan menjadi momentum kebangkitan ekonomi nasional melalui penciptaan lapangan kerja baru. Holding UMi juga memberikan harapan akan berbagai ke mudahan pembiayaan dan biaya pinjaman dana yang lebih murah dengan jangkauan yang lebih luas.

Gerakan ini akan mencip takan pendalaman layanan serta pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. Pembentukan Holding UMi merupakan wujud keberpihakan pemerintah kepada sektor ultramikro yang menjadi pilar penting bagi ketahanan ekonomi dan upaya menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan inklusif. Holding ini juga berpotensi mengurangi kesenjangan antarsektor usaha dan kesenjangan pendapatan masyarakat.

Holding UMi akan menghasilkan lembaga pemberdayaan mikro terbesar yang memiliki ekosistem keuangan terlengkap. Segmen ultramikro yang selama ini tidak layak (unfeasible) dan unbanked dijanjikan akan naik kelas menjadi nasabah mikro yang berbasis komersial namun tetap lebih murah. Strategi tersebut tentu saja selaras dengan visi pemerintah dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 untuk mendorong inklusi keuangan yang lebih masif.

Kesenjangan menjadi isu sensitif di negeri ini. Kita berharap kolaborasi BRI, Pegadaian, dan PNM untuk mengangkat harkat dan derajat segmen ultramikro dan mikro mampu mengurangi kesenjangan tersebut sekaligus mewujudkan kejayaan ultramikro.

Dalam skala yang lebih makro, bertumbuhnya sektor usaha ultramikro dan mikro akan memperkuat struktur dan ketahanan ekonomi nasional.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN