Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Iustrasi produk asuransi. (Ist)

Iustrasi produk asuransi. (Ist)

Sinyal Pemulihan Industri Asuransi Jiwa

Rabu, 15 September 2021 | 22:30 WIB
Investor Daily

Pandemi Covid-19 menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan meningkatkan kebutuhan perlindungan asuransi jiwa. Hal itu berdampak pada kinerja industri asuransi jiwa pada semester I-2021 yang lebih baik dari semester I-2020 maupun semester II-2019. Ke depannya, industri asuransi jiwa diperkirakan akan terus membaik.

Mengutip data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), total pendapatan industri asuransi jiwa tercatat mencapai Rp 119,74 triliun pada semester I-2021 atau tumbuh 64,1% secara year on year (yoy) dibandingkan semester I-2020 yakni Rp 73 triliun. Pertumbuhan industri asuransi jiwa tersebut sejalan dengan pulihnya ekonomi nasional yang pada kuartal II-2021 yang tumbuh 7,07%.

Sementara itu, total pendapatan premi pada semester I-2021 juga menunjukkan pertumbuhan yang baik, yaitu sebesar 17,5% (yoy) menjadi Rp 104,72 triliun. Kontributor terbesar adalah premi bisnis baru yang mencapai 27,4% menjadi Rp 68,02 triliun. Besarnya pertumbuhan premi bisnis baru ditopang oleh menguatnya peran penjualan kanal bancassurance yang tumbuh 37,5% atau setara nilai premi Rp 37,96 triliun. Sedangkan premi lanjutan tumbuh 2,8% menjadi Rp 36,7 triliun.

Berdasarkan jenis produknya, unit link masih menjadi pilihan utama masya rakat dengan kontribusi premi 62% selama semester I-2021, dan asuransi ji wa tradisional 38%. Sedangkan menurut kanal distribusi, bancas surance masih me rupakan kontri butor terbesar dalam pen dapatan premi asuransi jiwa yang mencapai 46%, yang diikuti agen sebesar 29%, dan kanal alternatif seperti telemarketing, digital, dan em ployee benefit sebesar 25%.

Seiring kinerja positif tersebut, total aset asuransi jiwa tumbuh 12,9% menjadi Rp 575,46 triliun pada semester I-2021 dibandingkan semester I-2020, sementara cadangan teknis tumbuh 12,4% menjadi Rp 443,95 triliun. Pada awal pandemi, aset industri asuransi jiwa sempat terkoreksi 12%, serta cadangan teknis terkontraksi 11,7%.

Selanjutnya, hasil investasi tumbuh 122,6% menjadi Rp 4,90 triliun pada semester I-2021. Pada periode sama tahun lalu, hasil investasi asuransi jiwa negatif Rp 21,64 triliun. Adapun klaim reasuransi sebesar Rp 3,60 triliun atau naik 12,7% (yoy) serta pendapatan lainnya sebesar Rp 7,06 triliun atau meningkat 149,7% (yoy).

Dari sisi pembayaran klaim dan manfaat juga terjadi peningkatan. Industri asuransi jiwa telah membayarkan klaim dan manfaat sebesar Rp 74,66 triliun se lama semester I-2021, tumbuh 6,1% (yoy). Dari jumlah itu, industri asuran si jiwa membayarkan klaim terkait Covid- 19 sebesar Rp 3,74 triliun, klaim meninggal dunia meningkat 42,6% (yoy) menjadi Rp 7,84 triliun, dan klaim kesehatan meningkat 3,5% (yoy) menjadi Rp 5,4 triliun. Pembayaran klaim dan manfaat menunjukkan komitmen industri asuransi untuk meningkatkan ketahanan ekonomi dan menjaga kualitas hidup keluarga nasabah.

Pencapaian kinerja positif pada beberapa indikator utama tersebut menandai adanya sinyal pemulihan industri asuransi jiwa. Sinyal pemulihan industri asuransi jiwa juga terlihat pada portofolio investasi yang ditempatkan di pa sar finansial. Total penempatan dana investasi industri asuransi jiwa pada semester I-2021 tumbuh 14,7% menjadi Rp 510,5 triliun dibandingkan semester I-2020. Penempatan investasi ini tumbuh positif setelah pada periode sama tahun lalu terkoreksi 12,6% menjadi Rp 445,2 triliun.

Dengan jumlah total penempatan dana kelolaan investasi tersebut, industri asuransi jiwa telah berperan nyata pada stabilitas ekonomi dan juga pembangunan Indonesia. Total investasi yang berperan langsung terhadap pembangunan Negara tercatat sekitar 26%, yang berupa obligasi, sukuk, dan surat berharga Negara (SBN). Penempatan dana investasi dalam bentuk obligasi, sukuk, dan SBN tersebut tumbuh 12,9% menjadi Rp 133,5 triliun di paruh pertama 2021.

Sedangkan total investasi industri asuransi jiwa di pasar modal berupa instrumen saham maupun reksa dana mencapai Rp 312,4 triliun pada semester I-2021 atau tumbuh 20,4% dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 259,5 triliun. Melalui investasi di portofolio saham dan reksa dana, industri asuransi jiwa turut berkontribusi dalam mendukung dan menjaga stabilitas pasar modal Indonesia.

Peningkatan nilai investasi asuransi jiwa di pasar modal tak lepas dari penempatan pada saham-saham berbasis kon sumer, produk kesehatan, hingga perusahaan pengelola rumah sakit yang mencatatkan kinerja positif di saat pandemi Covid- 19.

Prospek bagus saham-saham tersebut berimbas memberikan hasil yang terbaik kepada pemegang polis.

Peran asuransi jiwa sebagai investor institusi sangat dibutuhkan di pasar modal. Dengan dana kelolaan yang besar, investasi yang ditanamkan industri asuransi ji wa dapat menjadi penggerak pasar modal. Bahkan, pada saat pasar saham terkoreksi cukup dalam di tahun 2020, industri asuransi jiwa tidak menarik investasinya di pasar saham. Padahal, ketika itu terjadi penurunan investasi industri asuransi jiwa seiring terkoreksinya indeks hargasaham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia.

Sementara itu, pilihan investasi di pasar surat utang seperti di SBN masih dibutuhkan oleh industri asuransi karena memberikan imbal hasil yang cukup stabil, selain juga karena saat ini belum banyak pilihan untuk instrument jangka panjang. Industri asuransi jiwa menjadi salah satu industri jasa keuangan yang memiliki horizon jang ka panjang atau long term dalam strategi investasinya sehingga obligasi pemerintah tetap menjadi pilihan investasinya.

Untuk meningkatkan peran industri asuransi jiwa dalam perekonomian nasional, para pelaku industri ini berharap ada relaksasi kebijakan penjualan produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) guna meningkatkan lini pendapatan serta adanya perlindungan konsumen lewat pendirian Lembaga Penjamin Polis (LPP). Selain itu, industri asuransi jiwa membutuhkan sejumlah insentif, di antaranya insentif perpajakan, insentif investasi melalui alokasi SBN hingga insentif pengembangan produk asuransi berbasis digital.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN