Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pialang melakukan transaksi jual beli saham di sekuritas, Jakarta. Foto ilustrasi:  Investor Daily/David Gita Roza

Pialang melakukan transaksi jual beli saham di sekuritas, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Agresivitas Fundraising

Jumat, 17 September 2021 | 23:59 WIB
Investor Daily

Apabila tidak ada aral melintang tahun ini terdapat 63 perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga pertengahan September ini, sudah ada 38 perusahaan baru yang melantai di bursa dengan total nilai penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham senilai Rp 32,15 triliun.

Di sisa 3,5 bulan sebelum tutup tahun, BEI mencatat masih ada 25 perusahaan dalam proses (pipeline) IPO. Dari 25 perusahaan yang antre IPO tersebut, sebanyak 11 perusahaan dikategorikan sebagai perusahaan besar dengan aset di atas Rp 250 miliar.

Selanjutnya, ada lima perusahaan dengan size menengah yang memiliki aset antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar, dan sembilan perusahaan kecil dengan aset di bawah Rp 50 miliar. Tingginya animo perusahaan untuk IPO tersebut tak lepas dari prospektifnya pasar modal sebagai sumber dana yang ideal.

Bukan hanya IPO, maraknya aksi penggalangan dana juga ditempuh lewat rights issue dan penerbitan surat utang, termasuk medium term notes (MTN). Hingga kini, sudah ada 73 emisi surat utang dari 47 penerbit dengan total penggalangan dana mencapai Rp 69,44 triliun.

Total dana yang diraup korporasi dari pasar modal domestik tahun ini bakal mencapai Rp 228,5 tri liun, baik melalui IPO, rights issue, maupun emisi surat utang. Angka tersebut merupakan yang terbesar sepanjang sejarah pasar modal Indonesia.

Jika itu terjadi, raihan dana di pasar modal tersebut bakal melampaui target yang dipatok Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tahun in , OJK menargetkan nilai penggalangan dana di pasar modal melalui penawaran umum mencapai Rp 150-180 triliun, meningkat 26-52% dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar Rp 118,7 triliun.

Ada sejumlah alasan dan faktor memicu agresivitas korporasi menggalang dana dari pasar modal. Salah satunya adalah kondisi pasar modal Indonesia yang saat ini cukup baik dan kondusif. Indeks harga saham gabungan (IHSG) mampu bertahan di atas 6.000 dan pada akhir tahun diprediksi mampu menembus 6.400-6.500.

Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saat ini telah mencapai Rp 13,07 triliun. Tingginya transaksi harian tak lepas dari jumlah investor saham yang meningkat pesat tahun ini. Jumlah investor di pasar modal tercatat sebanyak 6,1 juta Single Investor Identification (SID).

Dari jumlah itu, 2,73 juta merupakan investor saham. Pertambahan jumlah investor baru yang luar biasa terjadi pada tahun ini, dan hingga kini 69% investor ritel adalah berusia muda, yakni kelompok milenial dan Gen Z. Itulah sisi positif dari pandemi Covid-19.

Di tengah tekanan ekonomi akibat pandemi, masyarakat meyakini pasar modal adalah tempat yang aman dan menarik untuk berinvestasi. Digitalisasi yang masif, kemudahan-kemudahan dalam membuka rekening dana investasi secara online, juga kemudahan prosedur dalam menggelar IPO oleh calon emiten menjadi pemacu kegairahan yang terjadi di pasar modal saat ini. Platform digital untuk bisa bermain saham secara online, baik yang didesain oleh perusahaan sekuritas dan perusahaan teknologi, telah menimbulkan animo luar biasa bagi generasi milenial.

Hal itu diperkuat oleh kelas-kelas intensif secara virtual di sejumlah komunitas pasar modal dan ‘kampanye’ yang dilakukan sejumlah insan selebritas. Motor penggerak lain di pasar saham adalah likuiditas yang berlimpah di tengah suku bunga yang rendah.

Para pemilik dana besar yang selama ini membenamkan di deposito, sebagian dialihkan ke pasar saham. Pasar saham kini benar-benar menjadi lahan baru bagi pemilik dana untuk berburu cuan jangka pendek.

Untuk sementara, investasi saham untuk horizon jangka panjang terabaikan. Di lain sisi, Self Regulatory Organisation (SRO) terutama BEI, dan juga OJK selama ini juga gencar melakukan sosialisasi dan edukasi, baik di berbagai kampus maupun lewat media sosial. Tujuannya memang agar investor domestik mampu menjadi tuan rumah di negara sendiri.

Antusiasme investor yang tinggi dan perkembangan jumlahnya yang sangat pesat akhirnya menarik bagi korporasi untuk menggalang dana di pasar modal. Karena itulah, setiap IPO atau penawaran instrumen pasar modal senantiasa disambut investor, baik investor ritel maupun institusi seperti dana pensiun dan perusahaan asuransi.

Salah satu tonggak penting dalam sejarah pasar modal Indonesia adalah masuknya Bukalapak di bursa. IPO perusahaan unicorn dengan perolehan dana rekor tertinggi itu bukan saja menyihir investor milenial, namun juga mendorong emiten teknologi lainnya untuk melantai di BEI.

Momentum yang positif ini harus dipertahankan. Otoritas harus memberikan iklim yang kondusif di pasar modal. Para petualang, manipulator pasar, predator, dan perusak pasar harus mendapat sanksi tegas.

Berbagai pelanggaran pasar modal harus ditindak untuk menumbuhkan kepercayaan investor. Perlindungan terhadap investor harus menjadi perhatian utama.

Kita optimistis pasar modal Indonesia tetap menjadi magnet bagi investor portofolio, baik domestik maupun global. Berbagai instrumen pasar modal terbukti memberikan imbal hasil yang menggiurkan dibanding emerging markets lainnya. Hal itu ditopang oleh profitabilitas emiten yang solid dan fundamental makro yang kuat.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN