Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Iustrasi produk asuransi. (Ist)

Iustrasi produk asuransi. (Ist)

Digitalisasi Asuransi

Jumat, 24 September 2021 | 22:45 WIB
Investor Daily

Digitalisasi sudah merambah hampir semua sektor industri, termasuk industri asuransi. Seperti di industri lain, digitalisasi di industri asuransi juga menghadirkan pedang bermata dua.

Di satu sisi, digitalisasi memberikan dampak positif terhadap kesinambung an industri asuransi. Di sisi lain, digi talisasi bisa mendatangkan hal sebaliknya bagi industri asuransi.

Digitalisasi-lah yang telah menyelamatkan industri asuransi dari ganasnya pandemi Covid-19 saat ini. Berkat digitalisasi, industri asuransi di Tanah Air masih bisa bertumbuh. Aset industri asuransi per Juli 2021 meningkat 9,07% secara tahunan (year on year/yoy). Bahkan, pendapatan premi tumbuh double digit, 11,97%. Namun, digitalisasi juga bisa merugikan perusahaan-perusahaan asuransi.

Belum semua masyarakat merasa nyaman berasuransi lewat di gital. Sebagian masyarakat masih membutuhkan sentuhan dan pende katanpendekatan konvensional, terutama masyarakat yang hendak disasar sebagai nasabah baru.

Masyarakat Indonesia sejatinya sudah sangat familiar dengan internet. Pengguna internet di Tanah Air pada awal 2021 mencapai 202,6 juta jiwa, atau 73,7% dari jumlah populasi sebanyak 274,9 juta jiwa. Pengguna internet pada awal tahun ini meningkat 27 juta jiwa (15,5%) dibandingkan pada Januari 2020.

Ironisnya, meski penetrasi internet terus meningkat, sebagian besar aktivitas berinternet di Indonesia belum mengarah pada kegiatan produktif.

Mereka umumnya menggunakan internet untuk sekadar bersosialisasi dan berse nang-senang di media sosial (medsos). Saat ini ada 170 juta orang Indonesia yang menjadi pengguna aktif medsos.

Di luar itu, industri asuransi nasional sesugguhnya sudah siap go digital. Mereka sudah punya mindset yang sama bahwa digitalisasi di industri asu ransi adalah keniscayaan. Itu sebabnya, banyak perusahaan asuransi yang sudah beralih ke digital, bahkan secara serius masuk ke digitalisasi asuransi (insurtech). Tak sedikit perusahaan asuransi yang sudah mulai menikmati pendapatan premi dari kanal- kanal bancassurance.

Saat ini pendapatan industri asuransi memang masih didominasi agensi. Tapi, lambat atau cepat, kanalkanal digital bisa mengambi alih. Pandemi yang belum bisa dipastikan kapan berakhir akan terus memaksa masyarakat melakukan berbagai transaksi dan berkegiatan secara digital, termasuk dalam berasuransi.

Kita percaya tak lama lagi industri asuransi bakal sepenuhnya go digital. Itu artinya, regulasi di industri asuransi juga harus ramah digital.

Kita bersyukur Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sangat responsif terhadap perkembangan digitalisasi di industri asuransi. OJK sedang memperbaiki sejumlah aturan mengenai insurtech agar lebih adaptif pada masa mendatang, termasuk dalam melindungi nasabah. Aturan yang disiapkan OJK di antaranya menyangkut aspek produk berupa pengaturan kriteria produk asuransi yang dapat dipasarkan secara digital.

Pada aspek kelembagaan, OJK menyiapkan persyaratan lembaga insurtech di luar sektor jasa keuangan (SJK). Pada aspek kerja sama, OJK akan mengatur kolaborasi perusahaan asuransi dengan pelaku insurtech. OJK juga bakal mengatur aspek market conduct insurtech.

Tentu kita berharap perbedaan antara asuransi konvensional dan insurtech tidak menimbulkan kanibalisme.

Sebaliknya, asuransi konvensional dan insurtech harus saling mendukung, bersimbiosis mutualisme. Karena itu, aturan OJK harus membuka kolaborasi di antara keduanya. Tak kalah penting, digitalisasi pada industri asuransi juga harus tetap memperhatikan eksistensi sumber daya manusia (SDM) asuransi.

Di Indonesia, SDM asuransi masih sangat dibu tuhkan, salah satunya kare na pe ma haman masyarakat tentang asuransi masih rendah. Untuk mengedukasi perlunya berasuransi dibutuhkan SDM cekatan yang bisa berinteraksi langsung secara tatap muka (face to face).

Selain tingkat pendidikan sebagian besar masyarakat masih rendah, fasilitas infrastruktur internet belum menjangkau seluruh pelosok Tanah Air, sekalipun penetrasinya sangat tinggi. Bangsa Indonesia juga punya karakter, kultur, dan tradisi yang berbeda dengan negara-negara maju.

Dengan sifat kebersamaan, kekeluargaan, dan sifat-sifat sosial lainnya yang khas dan unik, bangsa ini tidak bisa sepenuhnya melebur ke dalam digitalisasi asuransi. Peran SDM industri asuransi terhadap perekonomian nasional tak boleh dianggap enteng.

Saat ini terdapat sekitar 635 ribu agen asuransi berlisensi. Itu belum termasuk puluhan ribu karyawan asuransi yang bekerja di sekitar 139 perusahaan asuransi. Karena itu pula, regulasi yang dibuat OJK harus ‘ramah’ SDM asuransi, dengan tetap mengakomodasi kebutuhan digital industri asuransi, tentu saja.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN