Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
MSC) di Kabupaten Mimika, Papua, digunakan untuk PON XX 2021. Foto:.Investor Daily/IST

MSC) di Kabupaten Mimika, Papua, digunakan untuk PON XX 2021. Foto:.Investor Daily/IST

PON dan Kemiskinan

Minggu, 26 September 2021 | 06:22 WIB
Investor Daily

Berpuluh tahun ekonomi Indonesia dibelit tiga persoalan mendasar yang tak kunjung teratasi, yakni angka kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan yang relatif tinggi. Pandemi Covid membuat tiga indikator penting ter sebut cenderung memburuk, meski belakangan ini menunjukkan tren perbaikan.

Sekitar 27,54 juta orang atau 10,14% penduduk Indonesia saat ini berada di bawah garis kemiskinan. Sedangkan 8,75 juta penduduk atau 6,26% dari angkatan kerja masuk kategori pengangguran terbuka.

Adapun tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk yang diukur dengan rasio Gini cukup tinggi, berada di level 0,384. Negeri ini bukan hanya dilanda ketimpangan antargolongan pendapatan, tapi juga ketimpangan antarwilayah. Terutama antara Indonesia bagian barat dan timur.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, struktur ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021 masih didominasi oleh Jawa dengan penguasaan 57,92%. Sedangkan Papua dan Maluku dengan luas wilayah yang sedemikian besar dan kekayaan alam yang berlimpah, hanya mengontribusi 2,41% produk domestik bruto (PDB). Ironisnya, persentase penduduk miskin tertinggi di Tanah Air justru terjadi di Papua, sebesar 26,86%.

Beranjak dari realita itulah, perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2021 yang digelar di Provinsi Papua pada 2-15 Oktober mendatang cukup tepat dan relevan. Papua berhasil menyisihkan Provinsi Bali dan Aceh untuk menjadi tuan rumah PON ke-20 lewat pemungutan suara.

Lebih dari 3.000 orang terlibat dalam persiapan PON XX yang tersebar di berbagai lokasi. Secara keseluru an, ada 37 cabang olahraga, 56 disiplin cabang olahraga, dan 679 nomor pertan dingan. Seribu penari asli Papua, dengan artis lokal Papua dan koreografer Papua bakal dilibatkan. Ada 7.066 atlet yang akan berlaga di PON XX Papua. Dari jumlah itu, 922 orang adalah atlet tuan rumah. Ada beberapa makna dari terpilihnya Papua sebagai tuan rumah PON.

Pertama, Papua adalah wilayah yang kerap dijadikan komoditas politik, baik oleh dunia internasional maupun pihak-pihak domestik. Isu-isu ketimpangan dan kemiskinan dikaitkan dengan bumi Papua yang kaya sumber daya alam, dijadikan alat oleh pihak tertentu untuk menghasut agar Papua merdeka. Itulah sebabnya, kelompok separatis tetap hidup bertahan karena dukungan oleh pihak-pihak yang tidak ingin melihat Papua bersatu.

Kedua, gelaran PON diharapkan dapat menjadi momentum kebangkitan ekonomi Papua. Ajang olahraga terbesar empat tahunan di Tanah Air ini diharapkan memberikan manfaat maksimal bagi kesejahteraaan masyarakat Papua yang seperempat warganya miskin.

 Kita tahu, setiap wilayah yang menjadi tuan rumah PON pasti mendapat guyuran dana pemerintah untuk membangun infrastruktur olahraga dan pendukungnya, sehingga dapat menimbulkan dampak berganda yang besar. PON ke-20 ini juga akan memberdayakan ekonomi Papua yang memang memiliki potensi besar.

Papua selama ini memiliki sedikitnya 25 ribu jenis produk kreatif kriya yang bisa disiapkan menjadi merchandise untuk para atlet dan official PON, serta mereka yang hadir di ajang ini.

Kegiatan PON seyogianya mampu mendorong pengusaha lokal untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menggali potensi di daerah masing-masing. Di wilayah Papua terdapat ribuan usaha kecil menengah (UKM) yang layak menerima manfaat dari ajang PON ini.

Dalam hal ini, peran pemerintah daerah sangat penting untuk turut memberdayakan ekonomi daerahnya, memperkenalkan produk-produk unggulan yang dimiliki. PON di Papua diharapkan pula membangkitkan sektor pariwisata di wilayah ini yang kondang dengan wisata alam yang elok dan indah. Juga berbagai atraksi seni budaya yang demikian kaya, yang selama ini belum dioptimalkan.

Kita berharap pemerintah mendorong pembangunan desa wisata berbasis komunitas, kampung kreatif, serta pariwisata berbasis alam dan budaya di Papua, seperti yang telah dikembangkan di wilayah lain.

Sudah  semestinya pelaksanaan PON XX bisa dikemas dengan inovasi terkini. Bagai mana menginternalisasi pesan-pesan nilai luhur bangsa Indonesia, terutama rasa persatuan- kesatuan dan ketangguhan meng hadapi pandemic Covid-19.

Masyarakat Papua yang rapuh terpecah oleh provokasi pihak luar maupun internal diharapkan bisa bersatu lewat momentum ajang PON yang mengusung semangat sportivitas.

Pekan Olahraga Nasional kali ini merupakan momentum yang tepat untuk menggali potensi, mensinergikan, dan mengoptimalkan keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh Papua. Mulai dari potensi masyarakatnya sendiri dengan berbagai bakat yang ada, kekayaan alam, potensi wisata, budaya, serta para pelaku usaha dan kaum entrepreneur-nya.

Semua itu diharapkan melahirkan semangat baru dari Timur Indonesia, sebuah wilayah yang kadang terabaikan. Lebih dari itu, gelaran PON semestinya mampu menginspirasi pentingnya nilai-nilai persatuan dan kebersamaan, sehingga dapat membentengi Papua dari rongrongan agitasi dan keterpecahbelahan.

Dari kacamata ekonomi, PON diharapkan mendorong terwujudnya pemerataan dan kebangkitan ekonomi bumi Papua, sehingga dapat mereduksi kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan. Dan yang paling esensial, semua itu bermuara pada kesejahteraan seluruh rakyat Papua.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN