Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nasabah melakukan transaksi di pusat anjungan tunai mandiri (ATM) di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Nasabah melakukan transaksi di pusat anjungan tunai mandiri (ATM) di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bank Nasional Kembali Memesona

Senin, 27 September 2021 | 16:09 WIB
Investor Daily

Alihkan sejenak pandangan Anda ke pasar modal. Saham perbankan kembali menghijau. Perburuan saham big tech mereda. Pemodal kembali mengalihkan perhatian ke saham blue chips dan saham berkapitalisasi besar dan likuid, terutama saham perbankan.

Ada keyakinan kuat, saham perbankan akan terus meningkathingga beberapa tahun akan datang.Selama periode Januari hingga 24 September 2021, saham sektor teknologi melesat 789,59%. Saham PT Indosterling Technomedia Tbk (TECH) melonjak 696,9%. Saham PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) terkerek 643,2%, dan saham PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX) naik 1.061%.

Sementara saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) saat IPO pada 6 Januari 2021 di harga Rp 420, pada Jumat (24/9) kemarin ada diharga Rp 47.250 atau melonjak 11.150% sejak IPO.

Saham DCII pernah disuspensi otoritas bursa selama hampir dua bulan, yakni sejak 17 Juni hingga 11 Agustus dan suspense di buka kembali pada 12 Agustus. Suspensi dilakukan karena saat itu harga DCII sudah melesat 13.948% sejak IPO.

Demam saham big tech yang pernah terjadi di Bursa New York dalam satu setengah dekade terakhir, kini melanda Bursa Efek Indonesia (BEI). Ke depan akan banyak saham big tech yang diperdagangkan di BEI.

Pada periode yang sama, Januari hingga 24 September 2021, indeks harga saham gabungan (IHSG) hanya naik tipis 2,77%, jauh di bawah kenaikan indeks saham teknologi. Indeks LQ-45, yakni indeks saham berkapitalisasi besar dan likuid justru minus 7,34%.

Tapi, dalam sepekan terakhir, 17-24 September 2021, saham-saham LQ-45 mulai terangkat. Pendongkrak utama LQ- 45 adalah saham bank umum, khususnya empat saham berka pitalisasi besar, yakni PT BCA Tbk, PT BRI Tbk, PT Mandiri Tbk, dan PT BNI Tbk.

Saham perbankan sangat dominan di BEI. Nilai kapitalisasi 25 bank umum yang tercatat di BEI mencapai Rp 2.673 triliun pada 24 September 2021. Dari Top 5 di BEI, Jumat (24/09/2021), nilai kapitalisasi tertinggi adalah PT BCA Tbk Rp 804 triliun. Peringkat kedua adalah PT BRI Tbk Rp 571 triliun, keempat PT Bank Mandiri Tbk Rp 276 triliun, dan PT Bank Arto Tbk Rp 219 triliun.

Pada 24 September 2021, nilai kapitalisasi perbankan mencapai Rp 2.673,8 triliun atau 35% dari total market cap di BEI.Pada Desember 2019, market cap perbankan 30% dari total kapitalisasi pasar di BEI. Nilai kapitalisasi Bank Jago melesat 347,3% selama Januari hingga 24 September 2021.

Dengan jumlah penduduk yang sudah menembus 274 juta dan penduduk menengah atas sekitar 108 juta, Indonesia merupakan lahan subur bagi perbankan. Indonesia juga masuk kategori negara dengan ekonomi menengah bawah, yakni negara dengan PDB per kapita di bawah US$ 4.000. Kinerja perbankan akan terus meningkat seiring dengan kenaikan kemajuan ekonomi dan tingkat kesejahteran rakyat.

Digitalisasi di sektor keuangan, yang semula dikhawatirkan mematikan peran bank, ternyata, sama sekali tidak menghambat kemajuan perbankan. Digitalisasi sektor finansial bahkan justru memperkuat peran bank. Perusahaan financial technology (fintech) berizin yang mencapai 111 tidak bisa menyingkirkan peran perbankan.

Sebaliknya, perusahaan fintech justru membutuhkan bank sebagai lembaga penghimpun dana pihak ketiga (DPK). DPK terbesar masih di tangan 107 bank umum yang kini beroperasi, yakni mencapai Rp 6.966 triliun per Agustus 2021.

Pinjaman yang disalurkan ke dunia usaha masih didominasi perbankan, yakni sebesar Rp 5.582 triliun. Perbankan masih diandalkan sebagai payroll, lembaga yang membayar gaji karyawan perusahaan, mulai dari peru sa haan skala korporasi hingga usaha kecil. Per bankan masih menjadi lembaga yang di percaya melakukan berbagai transaksi besar.

Ke depan, peran perbankan kian besar seiring dengan kemajuan ekonomi. Perbankan dan fintech berjalan seiring untuk memberikan akses keuangan dan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Perbankan dan fintech justru saling melengkapi. Sambil mengembangkan digital banking —yakni produk dan layanan kepada masyarakat—, perbankan juga bekerja sama dengan fintech. Tidak sedikit bank yang memiliki fintech.

Digitalisasi sektor keuangan melahirkan bank digital. Saat ini sudah lahir sejumlah bank digital di Indonesia, di antaranya adalah PT Bank Jago Tbk, PT Bank BCA Digital, dan PT Bank BRI Agro Tbk. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuka keempatan seluas-luasnya bagi lahirnya bank digital. Kondisi inilah yang menambah daya tarik perbankan nasional. Banyak pihak kini berusaha untuk membeli bank yang sudah beroperasi. Calon pembeli tidak hanya mereka yang belum memiliki bank, melainkan juga mereka yang sudah memiliki bank.

Di lain pihak, banyak bank kini kesulitan menambah modal. Pada akhir Desember 2021, bank BUKU I dengan modal di bawah Rp 1 triliun tidak boleh beroperasi. Yang tidak mampu menambah modal, dipersilakan menjadi Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Masalah belum selesai. Pada Desember 2022, modal bank umum nasional minimal Rp 3 triliun. Pemilik bank bermodal di bawah Rp 3 triliun inilah yang kini tengah mencari pembeli.POJK 12/2021 mengatur tentang modal inti pendirian bank baru, yakni sebesar Rp 10 triliun.

Sedang modal inti bank yang sedang ber transformasi menjadi bank digital tetap Rp 3 triliun. Hingga saat ini belum ada pihak yang berniat mendirikan bank baru. Pihak OJK baru saja membuat klasifikasi baru bank umum. Jika sebelumnya bank dikelompokkan berdasarkan bank umum kegiatan usa ha (BUKU), kini ke lompok bank berdasarkan modal inti (KBMI).

Pertama, KBMI I untuk bank de ngan modal inti sampai dengan Rp 6 triliun. Kedua, KBMI II untuk bank dengan modal inti lebih dari Rp 6 triliun sampai dengan Rp 14 triliun. Ketiga, KBMI III untuk bank dengan modal inti Rp 14 triliun sampai dengan Rp 70 triliun.

Keempat, KBMI IV untuk bank dengan modal inti lebih dari Rp 70 triliun. Tidak ada izin khusus bank digital, melainkan hanya izin bank baru dengan modal inti Rp 10 triliun. Para investor lebih tertarik membeli bank yang sudah ada.

Mereka me ngincar bank kecil dan sedang dengan kinerja tidak jelek, tapi juga bukan bank berkinerja bagus. Pemilik bank dengan kinerja bagus memasang harga tinggi. Sedangkan bank dengan kinerja kurang bagus sulit untuk dikembangkan. Para investor juga membidik BPR. Salah satu faktor minus BPR selama ini adalah larangan menerbitkan giro dan wilayah operasi yang dibatasi zonasi. Ke depan, giro tidak lagi diperlukan dalam transaksi.

Selain itu, zonasi tidak lagi relevan karena dengan menjadi bank digital, wilayah operasi tidak ada batasnya. BPR di Aceh boleh saja mendapatkan nasabah di Jakarta dan Papua. Hingga Agustus 2021, perbankan nasional dalam keadaan sehat. Rasio kecukupan modal atau CAR mencapai 29,8%, LDR 80,3%, NIM 4,6%, BOPO 84,6%, NPL gross dan net, masing-masing, 3,3% dan 1,9%.

Kredit mulai tumbuh dan sebagian besar bank mem bukukan laba pada semester pertama 2021. Kinerja perbankan akan terus membaik seiring dengan geliat ekonomi dan kemampuan mengendalikan penyebaran pandemic Covid-19. Perbankan nasional kembali memesona dan sahamnya di BEI mulai diburu.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN