Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa-7 Unit 2 yang berkapasitas 2x1,05 Megawatt (MW). (Foto: Central Southern China Electric Power Design Institute Co 
Ltd)

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa-7 Unit 2 yang berkapasitas 2x1,05 Megawatt (MW). (Foto: Central Southern China Electric Power Design Institute Co Ltd)

Batu Bara Digdaya

Rabu, 29 September 2021 | 08:10 WIB
Investor Dailly

Batu bara kembali jadi primadona, penyelamat krisis energi Eropa di tengah komitmen net zero emission lebih awal 2050. Nol emisi karbon untuk menjaga suhu global tak naik di atas 2 derajat celcius ini juga menjadi komitmen Indonesia, di tahun 2060.

Di sisi lain, batu bara yang menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar ini faktanya masih berperan penting, tak hanya di Asia. Krisis energi yang kini membelit Inggris dan beberapa negara lain di Benua Biru, akibat harga gas alam melambung 250% sejak Januari lalu, mau tak mau membuat mereka berpaling lagi ke batu bara.

Batu bara ini masih berperan besar, karena ongkos produksi listriknya terbilang paling murah. Jadi, wajar bila negara-negara emerging market masih tergantung pada batu bara untuk pembangkit listrik, dengan Tiongkok memimpin jauh di depan. Negeri dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu paling banyak membangun pembangkit listrik tenaga batu bara, dengan tambahan kapasitas sekitar 38,4 gigawatts tahun lalu. Daya ini tiga kali lipat lebih dibanding total kombinasi dari semua negara yang lain.

Bahkan, negara maju seperti Jepang juga kembali banyak menggunakan batu bara, setelah terjadi kecelakaan besar di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima. Carbon Tracker mendata, Negeri Sakura itu masuk dalam daftar empat negara yang menyumbang 80% pembangkit listrik energi batu bara di dunia, bersama RRT, India, dan Indonesia.

Jika dirunut penyebab harga gas alam naik dua kali lipat lebih year to date, hal ini tak lepas dari dinamika supply and demand. Pasalnya, saat pandemi Covid-19 tak terkendali dan vaksinasi masih rendah, yang diikuti pembatasan sosial dan bisnis, otomatis produksi dan investasi energi pun dipangkas. Namun, setelah pandemi mereda dan vaksinasi meningkat pesat, aktivitas dilonggarkan dan kebutuhan energi melonjak.

Belum lagi berbagai faktor lain, seperti gangguan cuaca, mendekatnya musim dingin di Barat, hingga disrupsi rantai pasok. Akibatnya, harga gas terbang dan listrik di Eropa menjadi sangat mahal. Negara-negara yang selalu vokal terhadap isu lingkungan ini, akhirnya mengingkari komitmen untuk beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan seperti gas.

Oleh karenanya, Indonesia perlu menarik pelajaran guna mengantisipasi ketahanan energi kita ke depan, yang dibutuhkan untuk menjaga pertumbuhan perekonomian nasional. Pembangkit listrik batu bara yang faktanya masih sangat kita andalkan, ke depan tampaknya juga masih harus dipertahankan.

Batu bara ini juga menjadi salah satu andalan utama ekspor Indonesia. Bersama minyak sawit, komoditas itu silih berganti memuncaki ekspor nonmigas RI.

Batu bara ini pulalah yang menjadi kontributor utama surplus neraca perdagangan kita, yang justru terjadi di tengah pandemi Covid-19. Ini karena permintaan dunia atas energi murah melonjak di masa krisis, terutama di Asia.

Itulah sebabnya, harga batu bara melejit menembus US$ 200 lebih per ton, atau level tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Tak heran, emiten batu bara yang harga sahamnya masih tertekan di tengah melambungnya harga komoditas, kini mulai melakukan buyback.

PT Adaro Energy Tbk (ADRO) misalnya, telah ancang-ancang membeli kembali saham atau buyback hingga Rp 4 triliun. Harga saham perusahaan milik pengusaha Garibaldi 'Boy' Thohir ini melambung 15,23% kemarin, menembus Rp 1.740 per unit, kembali mendekati level tertingginya dalam setahun terakhir yang sekitar Rp 1.785.

Prospek komoditas ini masih cerah, kendati pembangkit listrik batu bara sudah turun separuh dalam dua dekade terakhir di dunia. Sejak pandemi Covid-19 memukul parah perekonomian, penggunaan pembangkit batu bara meningkat pesat.

Oleh karena itu, ketimbang buru-buru mengganti pembangkit listrik batu bara ke energi lain yang belum memadai atau masih mahal, lebih baik kita meningkatkan teknologi agar lebih ramah lingkungan. Apalagi, umur pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara yang mendominasi di Tanah Air masih panjang.

Untuk mendorong percepatan peningkatan teknologi batu bara agar emisinya berkurang, tentu saja perlu diberikan insentif yang menarik. Insentif ini misalnya, dibebaskan dari beban Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10% untuk pembelian batu baranya. PPN ini diberlakukan sejak tahun lalu, setelah komoditas tersebut berstatus sebagai Barang Kena Pajak (BKP) sesuai omnibus law Undang-Undang No 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Di sisi lain, pemanfaatan batu bara di dalam negeri untuk hilirisasi batu bara juga harus dipercepat. Pasalnya, kita memiliki cadangan batu bara yang besar, yang masih bisa digunakan hingga 30 tahun ke depan. Salah satu proyek hilirisasi yang prospektif adalah gasifikasi, untuk mengubah batu bara berkalori rendah menjadi dimethyl ether (DME).

DME ini bisa digunakan untuk substitusi liquefied petroleum gas (LPG). Artinya, negara juga bisa menekan impor LPG yang masih dominan, yang akan memperbaiki defisit neraca perdagangan migas kita yang masih menganga.

Hilirisasi itu juga sekaligus mengantisipasi langkah perusahaan asing yang akan mundur dari proyek PLTU batu bara, seperti GE, Siemens, Toshiba, dan Mitsui. Hal lain yang juga harus tetap diingat, harga komoditas dunia sifatnya sangat fluktuatif, sensitif terhadap banyak faktor tak hanya supply and demand. Selain itu, langkah Inggris cs yang sekarang kembali ke batu bara juga menegaskan, kepentingan dan kedigdayaan nasional haruslah jadi prioritas utama setiap negara.

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN