Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Asing Mulai Memburu Saham

Senin, 11 Oktober 2021 | 09:19 WIB
Investor Daily

Mengantisipasi laju pertumbuhan ekonomi 2022, para pemodal asing mulai mengoleksi saham-saham terbaik di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham bluechips dan second layer yang berkinerja bagus diborong asing. Keberhasilan Indonesia mengendalikan laju penularan pandemi Covid-19 membangkitkan optimisme para pelaku pasar.

Sebagai leading indicator, harga saham biasanya bergerak naik lebih awal. Selama Januari hingga 8 Oktober 2022, indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI naik 8,41%. Kenaikan ini terutama didorong oleh lonjakan saham teknologi, saham di papan pengembangan, dan saham berkapitalisasi kecil.

Indeks Teknologi melesat 739%, saham D evelopment Board naik 50,2%, dan IDX SMC Composite meningkat 23,5%. Kenaikan IHSG juga didongkrak oleh lonjakan Indeks Sektor Energi yang naik 32,7% dan Indeks Sektor Industri yang meningkat 19,3%.

Dalam sepekan terakhir, seperti terlihat pada saham LQ-45, saham berkapitalisasi besar atau yang biasa disebut bluechips mulai bergerak naik. Saham LQ-45 pada Jumat (8/10/2021) naik 1,7% dan year to date (ytd), meningkat 0,5%. Lonjakan saham berkapitalisasi besar mendongkrak IHSG ke level 6.481.

Para analis memperkirakan, indeks akan terus menanjak hingga menembus 7.000 di penghujung tahun ini. Salah satu faktor yang mendongkrak kenaikan indeks adalah masuknya investor asing .

Pada perdagangan saham di BEI, Jumat (8/10/2021), net buying asing mencapai Rp 2,4 triliun, selama Oktober Rp 12,4 triliun, dan ytd mencapai Rp 28,3 triliun. Para pemodal memutuskan untuk ma suk karena sejumlah pertimbangan, yakni an tara lain, window dressing pada akhir tahun, valuasi harga saham domestik yang masih murah, kasus aktif pandemi Covid-19 yang terus menurun, membaik nya kinerja perekonomian nasional. Berbeda dengan di pasar saham, investor asing justru melepaskan sebagian portofolio mereka di pasar obligasi.

Di pasar surat utang, jual bersih surat berharga negara (SBN) mencapai Rp 5,8 tri liun selama sepekan, 1-7 Oktober, dan sebesar Rp 17,9 triliun hingga 7 Oktober 2021, ytd.

Dalam pada itu, porsi kepemilikan asing di SBN mencapai 21,4% per 7 Oktober 2021. Perbankan menempati posisi teratas dalam kepemilikan SBN, yakni 34,8%. Penurunan kasus aktif pandemi membangkitkan harapan akan perbaikan kinerja ekonomi. Selama ada pembatasan pergerakan manusia, apalagi cukup ketat, ekonomi akan kontraksi. Namun, sejak pekan terakhir Agustus 2021, pandemi mulai menurun. Kasus aktif yang pernah di atas 550.000 pada pertengahan Juli, pa da hari Minggu (10/10/2021), tinggal 24.430.

Angka positivity rate yang sempat di atas 40%, kini sudah di bawah satu persen. Memasuki Oktober 2021, pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) terus diperlonggar. Kegiatan pasar sudah mendekati normal. Sedang aktivitas di pasar modern sudah di atas 40% sejak pemerintah membolehkan anak di bawah 12 tahun masuk mal. Aktivitas di bidang transportasi sudah diperlonggar demi mendorong pariwisata dan kegiatan bisnis lainnya. Kebijakan ini berdampak siginfikan pada kemajuan bisnis makanan dan minuman, serta perdagangan ritel dan perhotelan. Jika tidak ada gelombang ketiga pandemi, ekonomi akan mengalami ekspansi tahun 2022.

Semua pihak —pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha— harus bergandengan tangan untuk menghentikan pandemi, paling tidak mengubahnya menjadi endemi. Saat ini, penduduk Indonesia yang dua kali vaksin sudah mencapai 27% dan Jakarta bahkan sudah di atas 95%.

Vaksinasi per hari sudah didongkrak di atas dua juta. Jika vaksinasi terus ditingkatkan, selambatnya, Februari 2022, Indonesia sudah mencapai herd immunity. Tidak ada faktor eksternal yang cukup kuat untuk menghalangi capital inflow ke Indonesia, bukan saja untuk investasi portofolio —khususnya saham dan obligasi—-, tapi juga investasi langsung.

Di bawah pengawasan Kementerian Investasi dan BKPM, para investor kini diberikan karpet merah. Ketika masuk ke Indonesia, mereka dituntut untuk memilih lokasi yang diminati. Kawasan industri di berbagai provinsi sudah disiapkan. Perizinan untuk memulai usaha dipermudah dengan online single submission (OSS), yakni perizinan yang terintegrasi secara elektronik.

Bank sentral AS, The Federal Reserve (Fed), masih mempertahankan suku bunga rendah, 0,00-0,25%. Kebijakan tapering off tidak akan diterapkan drastis, melainkan bertahap sesuai kemajuan pemulihan ekonomi yang sudah ditargetkan. Yield T-Bonds, obligasi pemerintah AS, masih di level 1,6% untuk jangka waktu sepuluh tahun. Dolar AS baru akan “pulang kampung” jika yield sudah di atas 3%. Yield SBN berjangka sepuluh tahun yang berada di atas 6% masih lebih menarik asing.

Di pasar saham, asing mengantisipasi pemulihan saham bluechips yang selama ini undervalued. Sebutlah saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang ditargetkan menembus Rp 5.000, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 8.100, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 8.400, dan saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) Rp 2.350 di akhir tahun ini. Ada sejumlah saham defensive stock seperti ICBP dan INDF yang bakal naik menjelang tutup tahun.

Setelah bertumbuh 7,07% pada kuartal kedua 2021, ekonomi akan sedikit melambat pada kuartal ketiga akibat pandemi gelombang kedua, namun akan kembali melaju kencang di kuartal keempat 2021 seiring dengan penurunan kasus aktif pandemi.

Diharapkan, hingga akhir tahun, penularan pandemi bisa diatasi berkat penerapan protokol kesehatan dan akselerasi vaksinasi. Harga saham, terutama yang bluechips, akan bergerak naik hingga akhir tahun.

Selain faktor keberhasilan menangani pandemi, perbaikan ekonomi, dan faktor eksternal, biasanya para manajer investasi melakukan window dressing.

Para manajer investasi akan mengangkat nilai saham demi mempercantik portofolio mereka. Faktor lain yang sangat menentukan pergerakan indeks adalah masuknya investasi asing.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN