Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung BCA

Gedung BCA

Fenomena BCA

Kamis, 14 Oktober 2021 | 08:30 WIB
Investor Daily

Fenomenal! Mungkin itulah kalimat yang paling tepat untuk saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Kapitalisasi pasar (market cap) saham BBCA pada perdagangan Rabu (13/10) tembus Rp 918 triliun, setara US$ 66 miliar. Dengan angka itu, BBCA makin mengukuhkan diri sebagai emiten penyandang market cap terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI), jauh meninggalkan emiten-emiten lainnya.

Tak cuma di bursa domestik, saham BBCA juga menjadi jawara di Asia Tenggara. Market cap BBCA menyalip bank terbesar Singapura, DBS, yang mencapai US$ 57 miliar, setara Rp 815 triliun. Market cap BBCA menggapai level tertinggi (all time high) atau sejak bank tersebut melantai di BEI pada 31 Mei 2000. Market cap BBCA bahkan sempat menyentuh Rp 1.017 triliun.

Banyak hal yang bisa dijadikan catatan atas pencapaian harga saham BBCA. Catatan pertama, BBCA membuktikan bahwa fundamental, citra, dan prospek perusahaan berkolerasi langsung dengan harga saham yang mengalami pemecahan nilai nominal (stock split). Kemarin adalah hari pertama saham stock split BBCA diperdagangkan.

Manajemen BCA memutuskan untuk melakukan stock split dengan rasio 1:5, sehingga nilai nominal BBCA berubah dari Rp 62,5 menjadi Rp 12,5 per saham. Langkah itu ditempuh manajemen agar harga saham BBCA lebih likuid dan terjangkau, terutama oleh kalangan milenial. Sebelum stock split, harga BBCA berada di level Rp 36.600.

Stock split adalah cara paling ampuh untuk menjaring investor, terutama investor baru. Juga untuk melikuidkan saham agar harganya lebih dinamis. Namun, tujuan stock split tak selalu berhasil. Saham BBCA, yang kemarin ditutup pada harga Rp 7.525 (naik 2,73%), adalah salah satu kisah sukses (success story) saham stock split. BCA sudah empat kali melakukan stock split.

Catatan kedua, dengan menyalip market cap DBS Singapura, BCA membuktikan bahwa bank-bank di Indonesia, khususnya bank lokal, tak perlu inferior atau minder menghadapi bank-bank dari negara lain, termasuk bank asal Singapura, salah satu negara yang menjadi episentrum keuangan global.

BCA mematahkan anggapan bahwa Indonesia, negara yang menguasai sepertiga produk domestik bruto (PDB) Asean, tak punya bank besar. BCA menggugurkan anggapan bahwa Indonesia tertinggal di bidang perbankan. BCA telah membangkitkan gengsi perbankan nasional di level Asean, bahkan dunia.

Catatan ketiga, BCA adalah salah satu bank yang harga sahamnya, secara teknikal, tidak 'mengkhianati' fundamental. Harga saham BBCA bertali-temali langsung dengan kondisi fundamentalnya. Di tengah pandemi tahun ini, hingga semester I, BCA meraup laba bersih Rp 14,5 triliun, tumbuh 18% dibandingkan periode sama 2020. Tahun lalu, BCA menasbihkan diri sebagai bank dengan laba bersih terbesar, Rp 26,27 triliun.

Sejak menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham, dua dekade lalu, kinerja bisnis BCA tak pernah redup. Bisa dipahami pula jika harga saham BBCA terus berkilau. Selama 20 tahun, harga saham BBCA (sudah disesuaikan dengan empat kali stock split) melejit sekitar 60.000%.

Berkat fundamentalnya yang kuat, saham BBCA termasuk di antara saham-saham unggulan (blue chips) yang menjadi favorit investor, baik investor asing maupun lokal. Pada perdagangan kemarin, investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) terhadap saham BBCA di pasar reguler senilai Rp 133,17 miliar.

Catatan keempat, kita berharap apa yang dicapai BCA turut memacu semangat bank-bank lainnya di dalam negeri. Jika mendominasi bank besar di Asean, bank-bank Indonesia akan semakin percaya diri untuk bertarung dengan bank-bank asing, baik di dalam negeri, maupun di Asean, bahkan di level dunia.

BCA adalah bank visioner. Salah satu keunggulan kompetitif BCA --di luar keunggulan-keunggulan 'teknis', seperti layanan, budaya perusahaan, teknologi informasi, dan jaringan-- adalah kemampuannya mengambil 'posisi di masa depan'. Ketika bank-bank lain ramai-ramai mendirikan bank berlayanan digital, BCA tidak ikut-ikutan  latah. Setelah kuat dan benar-benar yakin dengan positioning-nya, baru BCA mendeklarasikan BCA Digital.

Tatkala memutuskan stock split, manajemen BCA sejatinya bukan sekadar ingin saham BBCA lebih likuid dan lebih terjangkau oleh milenial. Lebih dari itu, BCA sedang membangun fondasi yang kokoh demi kesinambungan bisnisnya, yaitu menciptakan pasar generasi milenial (lahir 1981-1996) dan Gen Z (lahir 1997-2012).

Pertarungan bisnis ke depan adalah pertarungan memperebutkan generasi muda. Jika bisa merebut hati milenial dan Gen Z saat ini, berarti BCA berhasil menaklukkan pasar di masa depan. Berbagai penelitian menyebutkan, milenial dan Gen Z sangat loyal jika sudah merasa nyaman dengan suatu produk.

Visi BCA selaras dengan filosofi Jahja Setiaatmadja, sang presiden direktur, bahwa kesuksesan tidak bisa diraih dengan cara-cara instan. Membangun kesuksesan tak ubahnya menanam pohon. Untuk menghasilkan pohon berbatang kokoh dan berakar kuat diperlukan kedisiplinan, kesabaran, dan loyalitas. Pohon taoge atau kecambah adalah perumpamaan yang paling cocok. Pohon taoge cepat sekali tumbuh, tetapi sangat rentan, mudah dicabut, gampang tumbang. Usianya teramat singkat.

Filosofi menanam pohon akan menjadikan BCA terus tumbuh, berakar, berkembang, dan berbuah. Berkat pencapaian-pencapaiannya yang fenomenal, BCA bahkan telah mengubur masa lalunya sebagai bank yang pernah terpuruk dan terselamatkan oleh Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) pada era krisis moneter 1997-1998.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN