Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nasabah melakukan transaksi menggunakan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di Jakarta. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Nasabah melakukan transaksi menggunakan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bank Ekspansif

Kamis, 21 Oktober 2021 | 22:54 WIB
Investor Daily

Kian meredanya kasus penularan Covid dan semakin aktifnya mobilitas masyarakat membuat ekonomi terus menggeliat. Sejumlah sektor usaha yang mandek atau sebagian malah bangkrut terimbas oleh dampak kebijakan pengetatan mobilitas mulai bangkit. Kombinasi berbagai kebijakan pemerintah dan otoritas terkait membuat perekonomian secara umum lebih resilien menghadapi krisis Covid. Pembukaan mal-mal dan pusat berbelanjaan telah menaikkan pengunjung da lam jumlah signifikan. Hal itu mampu menghidupkan kembali sektor ritel yang selama pandemi Covid ikut terpuruk karena terkena kebijakan pembatasan.

Sejalan dengan pembukaan mal, usaha kuliner atau restoran dan kafe yang kini banyak mendominasi sejumlah mal pun kecipratan rezeki, sehingga mulai kembali bergairah.

Geliat sektor manufaktur juga cukup menggembirakan. Indeks manufaktur Indonesia yang diukur dengan Purchasing Manager’s Index (PMI) pada September tercatat sebesar 52,2, loncat dari posisi Agustus yang sangat rendah, yakni 43,7. PMI di atas 50 merefleksikan sektor manufaktur ekspansif, setelah dua bulan berturut-turut kontraksi.

Kenaikan indeks manufaktur memiliki makna sangat penting karena merupakan indikator kenaikan output dan permintaah barang. Demikian pula serapan tenaga kerja baru bertambah apabila sektor manufaktur berada pada jalur ekspansif.

Sejalan dengan aktivitas bisnis yang makin bergairah tersebut, permintaan kredit ikut meningkat. Bank Indonesia (BI) mencatat intermediasi perbankan melalui penyaluran kredit melanjutkan pertumbuhan positif sebesar 2,21% secara tahunan (year on year/yoy) pada September 2021. Pertumbuhan tersebut lebih baik dari Agustus yang hanya tumbuh 1,16% (yoy).

Kenaikan permintaan kredit terutama bersumber dari kredit modal kerja dan dan kredit konsumsi, sejalan dengan meningkatnya aktivitas masyarakat, seiring dengan pelonggaran kebijakan karena angka positivity rate yang menurun pada masa pandemi Covid-19.

Melihat tren positif tersebut, tahun ini kredit diprediksi tumbuh 5-6%. Dilihat per jenisnya, kenaikan kredit ter tinggi terjadi pada kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar 8,67%. Adapun kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) meningkat sebesar 2,97% (yoy). Paralel dengan kenaikan kredit, kondisi likuiditas perbankan pun relatif berlimpah.

Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pada September 2021 tercatat sebesar 7,69% (yoy). Tahun ini, DPK diprediksi tum buh 7-9%. Longgarnya likuiditas juga tercermin pada rasio alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) yang tinggi, yakni sebesar 33,53%.

Yang menggembirakan, kenaikan volume kredit diiringi dengan penurunan suku bunga pinjaman. Hal itu didorong oleh suku bunga pasar uang antarbank (PUAB) dan deposito yang terus menurun meski terbatas, mengikuti suku bunga kebijakan moneter yang tetap rendah. Ekspansi kredit perbankan juga tak le pas dari peran Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan. Bank Indonesia melanjutkan pelonggaran ketentuan uang muka kredit/pembiayaan kendaraan ber motor minimal 0% untuk semua jenis kendaraaan bermotor baru. Hal tersebut bertujuan untuk mendorong pertumbuhan kredit di sektor otomotif dengan tetap memerhatikan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko. Kebijakan ini berlaku efektif 1 Januari 2022 sampai dengan 31 Desember 2022.

BI juga melanjutkan pelonggaran rasio loan to value/financing to value (LTV/ FTV) kredit/pembiayaan properti menjadi paling tinggi 100% untuk semua jenis properti, baik rumah tapak, rumah susun, serta ruko/rukan. Kebijakan tersebut ber laku bagi bank yang memenuhi kriteria NPL/NPF tertentu, dan menghapus ketentuan pencairan bertahap property inden untuk mendorong pertumbuhan kre dit di sektor properti. Kebijakan ini juga berlaku tahun depan.

Dukungan BI lainnya adalah memperkuat kebijakan transparansi suku bunga dasar kredit (SBDK) dengan pendalaman asesmen transmisi SBDK dan suku bunga kredit baru per subsektor ekonomi. Kemudian, BI memperpanjang masa berlaku kebijakan kartu kreditun tuk batas minimum pembayaran kartu kredit sebesar 5% dari total tagihan sampai dengan 30 Juni 2022. Nilai denda keterlambatan pembayaran kartu kredit juga diturunkan menjadi sebesar 1% dari outstanding atau maksimal Rp 100 ribu.

Sedangkan Otoritas Jasa Keuangan mem berikan dukungan lewat kebijakan re strukturisasi yang di perpanjang hingga Maret 2023. Relaksasi kredit ini memberikan ruang bermapas bagi debitur yang kesulitan mengangsur kredit. Namun pada saat yang sama, sebagian debitur juga bisa mendapat tambahan suntikan kredit baru.

Kita optimistis bahwa ke depan, potensi pertum buhan kredit masih akan besar. Salah satu parameternya adalah masih tingginya rasio kecukupan modal (CAR) perbankan yang kini berada di level 24,38%.

Sedangkan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) masih aman di posisi 3,35% (bruto) dan 1,08% (neto). Hal tersebut mencerminkan pula bahwa sistem ketahanan perbankan nasional masih terjaga. Potensi ekspansi kredit juga bisa terakselerasi jika pemerintah dan otoritas memberlakukankebijakan penghapusbukuan (write off) kredit kecil dan mikro sampai batas tertentu.

Dengan penghapusbukuan itu, usaha kecil dan mikro berpeluang mendapatkan pinjaman baru. Peluang tumbuhnya kredit juga dipicu oleh bangkitnya sejumlah sektor usaha. Banyak sektor yang bangkit yang mendorong permintaan kredit, seperti sektor farmasi, kesehatan, teknologi dan turunannya, telekomunikasi, barang konsumsi, serta sejumlah industri manufaktur. Kenaikan kredit bukan hanya terjadi pada segmen korporasi, tapi juga UMKM.

Kita berharap Bank Indonesia terus melanjutkan kebijakan makroprudensial yang akomodatif guna mendorong peningkatan kredit perbankan. BI bersama-sama dengan OJK dan pemerintah perlu mendesain berbagai kebijakan dan insentif yang mampu mendongkrak permintaah kredit baru. Yang lebih penting lagi, kenaikan kredit jangan hanya terbatas pada kredit modal kerja dan kredit konsumsi, tapi kredit investasi karena memiliki dampak berganda lebih besar.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN