Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. ( Foto: Eric BARADAT / AFP )

Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. ( Foto: Eric BARADAT / AFP )

Menyikapi Tapering

Jumat, 5 November 2021 | 12:30 WIB
Investor Daily

Keputusan penting Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk mengurangi pembelian obligasi bulanan yang sudah lama ditunggu- tunggu itu akhirnya ada kepastian.

Pengurangan stimulus ekonomi yang populer dengan istilah tapering tersebut akan dilakukan pada akhir November ini. The Fed akan mengurangi pembelian obligasi Treasury senilai US$ 10 miliar dan sekuritas berbasis hipotek senilai US$ 5 miliar dari total pembelian bulanan senilai US$ 120 miliar yang dilakukan selama pandemi.

Pengetatan moneter yang dilakukan bertahap ini akan berlangsung hingga pertengahan 2022. Perekonomian Amerika Serikat yang membaik menjadi alasan utama kebijakan tapering tersebut. Namun, perhatian investor global bukan berhenti sampai tapering, melainkan kapan The Fed akan menaikkan suku bunga yang saat ini mendekati nol persen.

Ekonomi Amerika Serikat sekarang ini menghadapi inflasi tinggi, yakni kenaikan harga barang dan jasa akibat terganggunya rantai pasok. Inflasi mendekati 4% dalam beberapa bulan terakhir, hampir dua kali lipat dari target The Fed. Inflasi diduga akan terus meningkat hingga akhir tahun dan baru menurun awal tahun depan.

Selain inflasi, AS juga menghadapi tingkat pengangguran tinggi di atas 4%. Dua indikator itulah yang menjadi per timbangan utama Bank Sentral AS menaikkan suku bunga. Namun dari isyarat Gubernur The Fed Jerome Powell, kenaikan suku bunga tidak akan dilakukan dalam waktu dekat. Spekulasi yang berkembang di kalangan ekonom dan analis, suku bunga akan dinaikkan paling cepat akhir 2022 atau awal 2023. Dunia finansial global jauh lebih siap menghadapi kebijakan tapering ketimpang kejadian serupa tahun 2014.

Tapering pada 2013-2014 telah memicu goncangan finansial global sehingga mendorong hengkangnya dana-dana asing di negara pasar berkembang (emerging markets). Dana-dana tersebut beralih ke obligasi Pemerintah AS yang yield-nya dinilai lebih menggiurkan.

Faktanya, kemungkinan buruk seperti itu yang sempat menghantui investor global tidak terjadi. Di Indonesia misalnya, pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis (4/11), justru terjadi net buying asing senilai Rp 315,8 miliar.

Dengan perkembangan itu, net buying asing sejak awal tahun menembus Rp 40 triliun. Indeks harga saham gabungan (IHSG) juga meningkat 0,52% atau 34,31 poin ke level 6.586,44 menyambut pengumuman The Fed. Menghijaunya IHSG memang tak lepas dari bursa Wall Street yang bereaksi positif atas kepastian tapering.

Indeks Dow Jones dan S&P 500 menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, masingmasing ke posisi 36.157,58 dan 4.660,57. Sejak awal, tiga otoritas penjaga sektor finanisal dan makroekonomi kita, yakni otoritas fiskal (Kementerian Keuangan), moneter (Bank Indonesia), maupun keuangan (Otoritas Jasa Keuangan) sudah membentengi dengan berbagai kebijakan yang tepat untuk mengantisipasi dampak negatif tapering off.

Terutama agar ja ngan sampai kebijakan The Fed itu mengguncang pasar saham, pasar Surat Berharga Negara (SBN), serta menekan kurs rupiah. Kementerian Keuangan terus memperkuat fiskal dan mengoptimalkan APBN agar mampu memiliki daya dorong bagi perekonomian.

Otoritas Jasa Keuangan akan memperpanjang kebijakan restrukturisasi kredit yang membuat bank punya ruang gerak untuk lebih ekspansif. Likuiditas di pasar kini berlimpah.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) selalu berada di pasar dan mengawal nilai tu kar rupiah serta pasar SBN. Lewat tiga senjata intervensi (triple intervention), BI menjaga kurs rupiah berada di jalur fundamentalnya. BI juga bekerja sama dengan Kementerian Keuangan serta me nyelamatkan SBN yang dilepas asing, agar harga tidak jatuh dan yield tidak melambung.

Di lain sisi, fundamental kita cukup solid. Kondisi sektor fiskal dan moneter relatif terjaga baik. Sektor perbankan cukup kuat, tercermin pada sejumlah indicator kesehatan, baik dari sisi permodalan (CAR), kredit bermasalah (NPL), dan kredit mulai bertumbuh. Defisit transaksi berjalan (CAD) tercatat rendah, sekitar 1-2% dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun ini dan tahun depan.

Inflasi juga terjaga di level 3%. Cadangan devisa saat ini mencapai US$ 146,9 miliar, level tertinggi sepanjang sejarah.

Selain itu, kepemilikan asing di SBN saat ini tinggal sekitar 22%. Dominasi investor domestik di SBN itulah yang membuat pasar obligasi stabil dan imbal hasil SBN tidak melonjak terimbas isu tapering. Investor asing yang sempat banyak melepas SBN terbukti sudah berangsur kembali. Tekanan terhadap rupiah juga relatif minim karena dukungan Bank Indonesia.

Di samping itu, mayoritas perusahaan dan bank yang membutuhkan do lar AS untuk impor dan membayar utang su dah melakukan aksi lindung nilai (hedging) guna mengantisipasi gejolak kurs. Ketahanan kurs rupiah juga ditopang oleh surplus neraca perdagangan ki ta yang meyakinkan, mencapai US$ 25 mi liar untuk periode Januari-September 2021. Faktor positif lain yang membuat Indonesia resilien menghadapi tapering adalah tren pemulihan ekonomi yang makin kuat. Indeks manufaktur (Purchasing Manager’s Index) menembus 57,2 pada Oktober, tertinggi sepanjang sejarah.

Pada kuartal IV ini belanja pemerintah biasanya digenjot lebih kencang sehingga memompa perekonomian. Ditambah dengan booming harga komoditas, semua itu akan menimbulkan efek bola salju sehingga menggerakkan ekonomi secara keseluruhan.

Di pasar saham, profitabilitas emiten kuartal III pada umumnya sangat solid sehingga memberikan persepsi positif bagi investor. Kemudian pada Desember, mayoritas analis meyakini bakal terjadi window dressing. Atas dasar itu semua, kita optimistis bahwa kebijakan tapering The Fed tidak akan memicu volatilitas di pasar finansial.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN