Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo pada peresmian groundbreaking proyek smelter Freeport Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Selasa (12/10/2021). Foto: Istimewa

Presiden Joko Widodo pada peresmian groundbreaking proyek smelter Freeport Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Selasa (12/10/2021). Foto: Istimewa

Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi    

Kamis, 11 November 2021 | 14:53 WIB
Investor Daily

Ekonomi nasional dipastikan kembali melaju kuartal ini. Kasus infeksi harian Covid-19 sudah turun drastis dalam tiga bulan terakhir, sehingga mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi meningkat, demand dalam negeri naik.

Epidemiolog menyebut kondisi terburuk pandemi Covid-19 di Tanah Air sudah berlalu, dan kemungkinan gelombang ketiga tidak terjadi. Sementara negara lain ada yang mengalami gelombang ketiga, atau bahkan keempat seperti Bulgaria.

Meski demikian, kita harus tetap waspada. Kita harus tetap menjalankan protokol kesehatan dengan baik, karena tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Selain itu, tentu saja vaksinasi harus dipercepat untuk segera mencapai herd immunity.

Penanganan kesehatan yang baik merupakan kunci terjadinya mobilitas, untuk memulihkan aktivitas ekonomi guna mendorong demand dalam negeri. Permintaan masyarakat inilah kontributor utama struktur produk domestik bruto (PDB) kita.

Survei Bank Indonesia memperkirakan penjualan eceran Oktober lalu sudah tumbuh positif. Indeks Penjualan Riil (IPR) Oktober 2021 menguat 1,8% month to month (mtm), berbalik arah dari -1,5% pada September 2021, yang mencerminkan membaiknya permintaan di dalam negeri. Hal ini juga didukung membaiknya keyakinan konsumen.

Akselerasi pertumbuhan ekonomi kuartal ini juga akan didukung tren booming harga komoditas, mulai dari minyak sawit hingga batu bara. Melambungnya harga memacu kinerja ekspor kita menguat, berlanjutnya surplus neraca perdagangan, dan menopang cadangan devisa.

Melajunya perekonomian ke depan juga akan didorong hilirisasi sumber daya alam, yang akan mendongkrak nilai tambah melalui proses pengolahan dalam industri manufaktur. Smelter pengolahan dan pemurnian mineral di Tanah Air terus dibangun, termasuk smelter PT Freeport Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus Gresik yang peletakan batu pertamanya dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Smelter dengan investasi menembus Rp 42 triliun dan menyerap 40.000 tenaga kerja selama konstruksi ini antara lain akan menghasilkan katoda tembaga. Selain itu, untuk pemurnian yang menghasilkan emas, perak, dan logam berharga lainnya. Untuk emas misalnya, nantinya produksi ditargetkan mencapai rata-rata 35 ton per tahun senilai Rp 30 triliun.

Pemulihan kegiatan industri juga terus berjalan, yang membuka kembali banyak lapangan kerja. Indikator manufaktur Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia mencapai 57,2 pada Oktober 2021 atau level ekspansi, naik dari posisi 52,2 pada September.

Sektor pariwisata juga mulai menggeliat kembali setelah lama mati suri, sejak terjadi pandemi Covid-19 di Indonesia Maret lalu. Dunia juga mengamini bahwa pandemi di Indonesia sudah mulai mereda dan penanganannya cukup baik. Setidaknya, hal ini diindikasikan dengan dukungan dari internasional yang terus berdatangan untuk berpartisipasi dalam acara akbar MotoGP Mandalika. Mandalika akan menjadi tuan rumah seri kedua MotoGP, yang bakal digelar pada 18-20 Maret 2022.

Honda Team Asia misalnya sudah menyiapkan nama-nama jagoannya. Ini antara lain pembalap asal Jepang Taiyo Furusato.

Itulah sebabnya, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi masih bisa menggapai 4% tahun ini, setelah tahun lalu terkontraksi 2,07%, seiring banyaknya perusahaan berhenti operasi, pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, dan bertambahnya kemiskinan. Namun, menyusul pelaksanaan vaksinasi massal Covid-19 dan membaiknya pengucuran stimulus Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN), ekonomi tahun ini sudah tumbuh positif, meninggalkan zona resesi.

Meski pertumbuhan ekonomi triwulan I lalu masih minus 0,74%, namun kuartal berikutnya positif 7,07% dengan aktivitas manufaktur yang membaik. Sayangnya, pada Juli lalu merebak varian Delta Covid-19 yang cepat menular, sehingga pemerintah harus menetapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat untuk menekan penularan. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi triwulan III melambat ke 3,51%, di bawah ekspektasi.

Namun, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi bisa diakselerasi menembus 6% kuartal IV. Ini antara lain akan mengandalkan belanja pemerintah yang biasanya memang diguyur di akhir tahun.

Untuk mengamankan target tersebut, pemerintah tentunya juga harus berupaya ekstra. Setidaknya, harus memastikan semua stimulus dalam PCPEN dipercepat penyalurannya kepada yang berhak. Pasalnya, hingga minggu pertama bulan ini, realisasi penyerapan PCPEN baru sekitar 61,3% dari pagu anggaran tahun 2021 senilai Rp 744,77 triliun.

Selain itu, pemerintah harus sigap membantu dunia usaha, misalnya dalam persoalan 12 proyek pembangunan smelter yang tengah mengalami kendala pendanaan antara lain karena pandemi Covid-19. Empat di antaranya adalah smelter nikel.

Dana yang diperlukan untuk pembangunan smelter yang mencapai US$ 4,5 miliar atau sekitar Rp 64 triliun tersebut seharusnya dalam kemampuan negara untuk mencarikan solusi. Apalagi, hilirisasi sektor tambang ini sangat strategis dalam menyongsong the next commodity booming.

Salah satu langkah yang bisa dilakukan pemerintah adalah cerdik melobi Amerika Serikat yang memimpin G7 dalam inisiatif Build Back Better World (B3W), guna menandingi hegemoni Tiongkok yang memberikan pinjaman kepada negara berkembang untuk menghidupkan ‘jalur sutera’ Belt and Road Initiative (BRI). Kelompok tujuh negara maju itu menyiapkan pendanaan US$ 40 triliun hingga 14 tahun ke depan, dengan fokus antara lain pada proyek pengendalian perubahan iklim, peningkatan kesehatan, pengembangan teknologi digital, serta kesetaraan gender.

Dalam kaitan dengan upaya pengendalian perubahan iklim itu, Indonesia bisa mencarikan bantuan pendanaan dari B3W untuk mengatasi persoalan smelter nikel. Pasalnya, smelter ini bisa menghasilkan bahan baku baterai kendaraan listrik yang ramah lingkungan, yang trennya meningkat seiring mendekatnya pemberlakuan larangan penjualan mobil berbahan bakar fosil di negara-negara maju.

 

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN