Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pabrik Mobil.

Pabrik Mobil.

Momentum Kebangkitan Industri Otomotif

Sabtu, 13 November 2021 | 12:46 WIB
Investor Daily

Industri otomotif di Tanah Air mulai bangkit, setelah terpukul pandemi Covid-19 yang merebak sejak tahun lalu. Titik baliknya terjadi karena intervensi pemerintah dengan memberikan diskon berupa Pajak Penjualan Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) hingga 100%, untuk pembelian mobil dengan komponen lokal yang tinggi. Stimulus ini sudah dua kali diperpanjang, seiring respons pembeli yang luar biasa menggembirakan.

Awalnya, insentif PPnBM gratis hanya berlaku atas pembelian mobil baru periode Maret-Mei 2021, untuk mobil penumpang berukuran 1.500 cc dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 60%. Kemudian, diperpanjang sampai Agustus, dan terakhir diperpanjang lagi sehingga masyarakat bisa menikmati hingga Desember nanti.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan mobil secara wholesales (dari pabrik ke dealer) sepanjang 2020 hanya 532.027 unit, anjlok 48,35% dari tahun sebelumnya yang masih mencapai 1.030.126 unit. Namun, sejak ada insentif terobosan pemerintah itu, penjualan mobil rebound dan bahkan target tahun ini direvisi naik dari 750 ribu unit ke 850 ribu.

Seiring vaksinasi massal dan penurunan kasus positif baru Covid-19 yang memungkinkan mobilitas masyarakat dan ekonomi meningkat lagi, tahun depan penjualan mobil diperkirakan tembus 900 ribu-950 ribu unit, tumbuh 6-12%. Optimisme tinggi kalangan industri otomotif ini jelas melegakan, mengingat belum diketahui apakah tahun depan kebijakan bebas PPnBM masih diteruskan.

Salah satu yang mendorong optimisme adalah banyaknya model baru yang diperkenalkan lewat pameran akbar otomotif, Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS), tahun ini. Tahun lalu, GIIAS urung dilaksanakan karena merebaknya pandemi virus baru Covid-19.

Pameran GIIAS ini menjadi ajang para produsen otomotif untuk memperkenalkan teknologi dan meluncurkan mobil keluaran terbaru, dari berbagai merek besutan prinsipal Jepang, Eropa, hingga RRT. Mobil multi purpose vehicle (MPV) dan sport utility vehicle (SUV) kecil masih diproyeksikan laris tahun depan, sesuai kantong konsumen dalam negeri yang kebanyakan membeli mobil di kisaran harga Rp 200 juta-300 juta.

Pasar mobil tahun depan juga akan diramaikan mobil listrik. Mobil ramah lingkungan ini menjadi daya tarik tersendiri di ajang pameran otomotif, baik karena desainnya yang unik dan futuristik maupun teknologinya yang terbilang baru, khususnya untuk konsumen di Indonesia.

Mayoritas mobil listrik itu masih berstatus pemanis pameran atau display, meski ada juga pabrikan yang sudah menjual mobil listriknya di pasar Indonesia. Ini misalnya Wuling, yang mempromosikan dua mobil listrik berplatform Global Small Electric Vehicle (GSEV), yang menjadi mobil terlaris dengan penjualan lebih dari 650 ribu unit di Tiongkok, yang merupakan pasar otomotif terbesar di dunia.

GSEV Wuling tidak hanya akan dijual di Indonesia, tetapi juga bakal diproduksi di Tanah Air. Wuling juga berencana meluncurkan produk generasi berikutnya dengan platform GSEV ini.

Tak mau ketinggalan, prinsipal Jepang Toyota juga membawa berbagai model kendaraan terelektrifikasi. Ini antara lain COMS, C+POD, Prius PHEV, dan New Camry Hybrid Electric Vehicle (HEV) sebagai flagship model sedan Toyota yang sudah mengaplikasikan teknologi mesin hybrid generasi keempat. Selain itu, menghadirkan special exhibition e-Palette yang merupakan kendaraan autonomous masa depan, yang dapat digerakkan dengan baterai listrik.

Tentunya, kita berharap tahun depan insentif diskon PPnBM mobil tersebut bisa dilanjutkan, mengingat industri ini multiplier effect-nya tinggi. Sektor otomotif yang didukung 21 perusahaan itu memiliki total kapasitas yang bisa mencapai 2,35 juta unit per tahun, dengan serapan tenaga kerja langsung 38 ribu dan lebih dari 1,5 juta orang turut bekerja di sepanjang rantai nilai industri.

Industri otomotif ini jelas menjadi salah satu penggerak perekonomian nasional. Jadi, wajar jika pemulihannya harus dipercepat, karena juga melibatkan banyak pelaku usaha lokal dalam rantai produksi dari hulu hingga hilir. Pentingnya peranan industri inilah yang melandasi keputusan pemerintah memasukkan industri otomotif menjadi salah satu dari tujuh sektor yang mendapat prioritas pengembangan dalam Peta Jalan Making Indonesia 4.0 atau pionir penerapan revolusi industri keempat.

Apalagi, dengan insentif gratis PPnBM ini, semua pihak bisa diuntungkan, baik pelaku usaha otomotif, konsumen, maupun pemerintah. Tak hanya produsen hingga dealer yang mendapatkan keuntungan, pemerintah juga meraih pendapatan dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh) dari meningkatnya kembali penjualan mobil yang signifikan. Di sisi lain, konsumen mendapatkan kendaraan baru dengan harga lebih terjangkau dan perusahaan bisa menghemat biaya pembelian kendaraan operasional. Industri asuransi, perbankan, hingga multifinance pun bergairah kembali.

Tak hanya itu. Industri otomotif juga berkontribusi dalam meningkatkan perolehan devisa ekspor Indonesia, sehingga layak didukung insentif. Jika tahun lalu capaian ekspor kendaraan roda empat sekitar 220 ribu, tahun ini diperkirakan menembus 300 ribu unit atau setara 35% penjualan di dalam negeri. Apalagi, pemerintah masih diperbolehkan melebarkan defisit APBN di atas 3% produk domestik bruto (PDB) hingga tahun 2022, sebelum harus melakukan konsolidasi fiskal agar pada 2023 defisit kembali di bawah 3%.


 

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN